SEBELUM tahun 1990/1991, saya tidak pernah berani tampil di depan umum dengan kepala gundul. Saya lebih menyukai rambut panjang melebihi kerah baju dan belah tengah yang membuat saya tampak berantakan dan kumuh.
Sebagai tentara, ayah saya tidak suka melihat potongan rambut saya. Waktu kecil, saya memang pasrah pada kehendak beliau yang menggunduli kepala saya di kedai cukur. Kala itu, akhir dekade 1960an dan awal 1970an, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin memang memberlakukan penertiban terhadap rambut gondrong. Dengan kenyataan itu, ayah saya selalu menakut-nakuti saya, bahwa saya bakal ditangkap polisi jika menolak ajakan beliau ke kedai cukur.
Saya mulai
suka memangkas rambut saya bergaya crew
cut (potongan rambut militer) saat media massa diramaikan berita-berita
mengenai Operasi Desert Shield, fase
awal dari Perang Teluk (1990-1991), yaitu operasi militer multinasional pimpinan
Amerika Serikat untuk mengerahkan pasukan besar-besaran ke Arab Saudi sebagai
respons terhadap invasi Irak ke Kuwait, bertujuan untuk mempertahankan Arab
Saudi dan mempersiapkan serangan balasan yang kemudian dikenal sebagai Operasi Desert Storm. Kemunculan foto-foto
tentara AS dengan rambut crew cut
menginspirasi saya untuk mulai meniru gaya itu. Dan makin lama, saya makin
menipiskannya hingga gundul sama sekali—yang memberi saya rasa seolah rekrutan
tentara pada fase latihan dasar.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Januari 2026

No comments:
Post a Comment