MUNGKIN bukan sesuatu yang luar biasa bagi kebanyakan orang, tapi bagi saya berarti. Selama hampir 22 tahun menjadi anggota Subud, saya tidak memiliki kartu tanda anggota. Mungkin karena aktivitas saya di media sosial, yang di semua platform saya jelas-jelas mencantumkan informasi bahwa saya anggota Subud Indonesia, tidak sedikit anggota dalam dan luar negeri yang mengenal saya, sehingga setiap kali saya mendatangi cabang manapun untuk melakukan Latihan pengurus atau pembantu pelatih setempat tidak menanyakan kartu tanda anggota saya.
Saya melalui
masa kandidat tiga bulan saya hingga dibuka di Subud Cabang Surabaya, sehingga
otomatis secara administratif saya tercatat sebagai anggota Cabang Surabaya.
Ketika saya pindah ke Jakarta, saya memantapkan diri untuk tidak memindahkan
keanggotaan saya ke Cabang Jakarta Selatan. Bahkan setelah saya aktif Latihan
di Cilandak selama lebih dari 12 tahun keanggotaan saya masih diakui di Cabang
Surabaya. Tahun ke-12 masa saya di Subud, terjadi konflik di tubuh Cabang
Surabaya yang berakibat sejumlah besar anggota dan pembantu pelatih kehilangan
keterkaitan dengan cabang tersebut dan keleleran tanpa kejelasan keanggotaan
dari cabang mana. Saya salah satunya.
Pada 14
Januari 2025, saya mendapat kabar sejuk bahwa Cabang Sidoarjo akan membantu
membuatkan dokumen resmi mutasi empat anggota—saya di antaranya—dan satu pembantu
pelatih bekas Cabang Surabaya untuk menjadi anggota resmi Cabang Sidoarjo.
Dalam sehari, baik kartu tanda anggota saya dan surat pemberitahuan mutasi
telah dirilis—dengan tanda tangan Komisaris Wilayah VI Jawa Timur, Bali dan
Sulawesi, Pak Seno Prasodjo—yang kemudian, pada 19 Januari 2026, membatalkannya
karena dianggap saya telah mutasi ke Cabang Jakarta Selatan. Bagaimanapun, saya
resmi terdaftar sebagai anggota Cabang Sidoarjo. Untuk itu, pada 15 Januari
2026, saya memangkas rambut saya sebagai tanda syukur.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, 20 Januari 2025



No comments:
Post a Comment