Saturday, June 25, 2022

Puji Tuhan


PADA 24 Juni 2022 lalu, bertempat di restoran Teras Nusantara, Tiga Dari Plataran, yang merupakan salah satu venue acara di Hutan Kota by Plataran, di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, saya mewawancarai para Old Boys. Old Boys adalah sebutan bagi para pionir yang menjalankan roda perusahaan pembuat kaca arsitektur dan kaca otomotif terbesar di Indonesia, yaitu PT Asahimas Flat Glass Tbk.

Saat mewawancarai orang-orang yang sudah sepuh ini, saya menempatkan diri sebagai anak muda polos yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lugu kepada ayah, kakek dan kakek buyutnya apa yang telah mereka lakukan “dalam perang”.

Sebagian sudah lupa, karena ingatan mereka termakan usia (paling tua umurnya 86 tahun), tapi semua merasa bangga telah menjadi bagian dari suatu entitas raksasa yang mereka bangun dari nol dalam semangat kebersamaan. Bukan lantaran jabatan puncak yang pernah atau masih mereka pegang (satu orang masih aktif sebagai Wakil Presiden Direktur, satu Komisaris, dan satu orang saat ini menjadi Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman Indonesia/AKLPI), melainkan karena pernah mengalami bahwa di posisi puncak mereka justru merasa diri mereka sangat kecil. Mereka tidak malu berucap “puji Tuhan” berkali-kali, karena mereka menyadari bahwa semua pencapaian mereka merupakan berkat dariNya.



Saya pernah berjumpa dengan sebagian besar dari mereka sepuluh tahun yang lalu, untuk proyek pembuatan buku kenangan dalam rangka ulang tahun ke-40 PT Asahimas Flat Glass Tbk., tahun 2013. Karena rekaman wawancara dan transkripsi dari saat itu masih saya simpan—mengenai perjalanan sejarah perusahaan manufaktur kaca arsitektur dan otomotif terbesar di Indonesia itu sejak awal, dalam wawancara pada 24 Juni 2022 itu saya hanya menanyakan kesan-kesan para pionir selama bekerja di Asahimas dan harapan mereka terhadap almamater profesional mereka ke depannya.

Cara mereka berbagi cerita, yang satu menimpali yang lain dengan canda dan kadang sambil menerawang dengan mata berkaca-kaca, mengingatkan saya pada video para veteran Kompi Easy ketika diwawancarai, yang menjadi pengantar dalam setiap episode dari miniseri HBO Band of Brothers. Setiap orang bercerita bahwa rekan yang duduk di sebelahnya atau di seberangnyalah yang berperan penting dalam peningkatan karir mereka selama bekerja di perusahaan patungan PT Rodamas (Indonesia) dan Asahi Glass Co., Ltd. (kini bernama AGC Inc., berkantor pusat di Tokyo, Jepang) itu. Yang satu belajar dari yang lainnya, rekannya yang senior atau yunior; tidak ada yang merasa bahwa kemajuan dirinya adalah berkat usahanya sendiri.



Saya rasakan, sepertinya Tuhan sedang mengajari saya melalui pekerjaan saya saat ini bahwa pencapaian saya bukan karena saya hebat, tapi karena Dia menghendakinya. Maka, seperti mereka, saya pun berucap dalam hati “puji Tuhan” berkali-kali dalam kesempatan asik nan seru kemarin itu.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 25 Juni 2022

Tuesday, June 21, 2022

Bapak Kejiwaan


SEBAGIAN anggota Subud dan warga non Subud (biasanya media pers) menganggap atau menyebut RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo sebagai “guru spiritual”. Saya pribadi lebih suka menganggap beliau “bapak kejiwaan” saya. Istilah “guru spiritual” terasa janggal, karena di Subud tidak ada ajaran maupun pelajaran, sehingga tidak diperlukan guru. Setiap orang menjadi guru bagi dirinya sendiri-sendiri.

Dilahirkan di Kedungjati, Karesidenan Semarang (dewasa ini, Kecamatan Kedungjati termasuk wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah), pada 22 Juni 1901, Pak Subuh berasal dari keluarga petani kecil, berayahkan Chasidi Kartodihardjo dan beribukan Raden Nganten Kursinah. Ibunda dari Pak Subuh merupakan keturunan dari Raden Syahid (Said) atau Sunan Kalijaga.

Pak Subuh awalnya diberi nama “Soekarno”, namun karena bertubuh lemah dan nyaris menemui ajalnya, sebagaimana lazimnya tradisi Jawa nama beliau diganti menjadi “Muhammad Subhi”, lantaran beliau dilahirkan pada waktu subuh. Sejak nama beliau diganti, Pak Subuh kecil pun tumbuh sehat. Karena orang Jawa pada umumnya kesulitan mengucapkan “Subhi” nama beliau pun lantas menjadi “Subuh”.

Pada usia masih belia, Pak Subuh telah memperlihatkan kemampuan mendapatkan informasi, energi atau kekuatan di dalam kesadaran kosmik, serta kemampuan untuk memanfaatkan informasi, energi atau kekuatan yang telah diperoleh secara gaib itu.

Di usia 16 tahun, karena merasa seakan mau mati, Pak Subuh meninggalkan bangku Hoogere Burgerschool (HBS) untuk mengembara mencari keterangan mengenai alam rohani dan ilmu hakikat. Beliau pun belajar kepada sejumlah guru agama dan spiritual. Salah satunya, yang terkemuka, adalah Kyai Abdurrachman, seorang ulama tasawuf dari Tarekat Naqshbandiyah.

Bagaimanapun, guru-guru itu menolak mengajari Pak Subuh. Ketika beliau mendesak mereka, para guru itu menjawab bahwa beliau akan menerima sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan beliau. Bukan dari manusia, melainkan dari Tuhan langsung. Hal ini tidak memuaskan Pak Subuh, dan di ambang keputusasaannya beliau mulai berfokus ke kehidupan duniawinya.

Menikah dengan putri seorang ulama dari Pamotan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, bernama Rumindah, pada tahun 1922, Pak Subuh menjalani hidup sebagai orang biasa, yang memperoleh nafkah dengan bekerja sebagai Asisten Kepala Perbendaharaan Gemeente (Kotapraja) Semarang. Dari perkawinannya dengan Ibu Rumindah, Pak Subuh dikaruniai tiga putra dan dua putri.

Pada suatu malam, di musim kemarau tahun 1925, di tengah malam yang tidak disinari bulan, Pak Subuh berjalan-jalan untuk rileks, lantaran lelah belajar tata buku di rumah beliau di Bergota Kalisari, Semarang. Di depan lahan proyek pembangunan rumah sakit Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ; kelak menjadi RSUP dr. Kariadi, Semarang), sebuah bola bercahaya seperti matahari turun dari angkasa dan menembus ubun-ubun beliau. Cahaya terang itu juga jatuh ke atas atap rumah tinggal Pak Subuh di Semarang, yang disaksikan oleh lebih kurang 100 orang.

Sejak malam itu, selama 1.000 hari dan 1.000 malam, Pak Subuh terus-menerus terjaga untuk “dilatih” dan dibimbing kekuasaan Tuhan. Selama itu, Pak Subuh dapat mengerti dan menyadari gerakan-gerakan beliau yang digerakkan oleh hati dan akal pikir dan penerimaan gerakan dengan kontak dalam Latihan Kejiwaan yang terbimbing oleh kekuasaan Tuhan. Beliau menjalaninya dengan perasaan sabar, tawakal dan ikhlas. Itulah pertama kalinya Latihan Kejiwaan turun ke umat manusia, dan kini dilakukan oleh semua anggota Subud di seluruh dunia.

Hari ini, 22 Juni 2022, adalah hari lahir Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo yang ke-121. Saya, yang masuk Subud bertahun-tahun setelah Pak Subuh wafat pada 23 Juni 1987, hanya dapat berterima kasih kepada Tuhan yang telah menurunkan Latihan Kejiwaan kepada beliau, yang selanjutnya beliau wariskan kepada siapa saja yang berminat.©2022


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 22 Juni 2022

Monday, June 20, 2022

Gathering Kejiwaan dalam Rangka Harlah Bapak Tahun 2022


DI Wisma Subud Cilandak, kemarin, 19 Juni 2022, mulai dari pagi hingga siang, digelar Gathering Kejiwaan dalam rangka Hari Lahir ke-121 tahun Bapak. Banyak anggota yang hadir, termasuk mereka yang pada jadwal-jadwal Latihan reguler tidak pernah kelihatan. Ditambah dengan belasan anggota dan pembantu pelatih dari dua kota di Jawa Tengah—Pati dan Semarang.

Saya sendiri hadir—saya amat menyukai gathering kejiwaan, karena mendengarkan cerita pengalaman para anggota lainnya dengan Latihan Kejiwaan memberi saya wawasan baru dan inspirasi. Karena banyaknya jumlah peserta, maka gathering-nya dibagi dalam kelompok-kelompok. Untuk kaum prianya ada tiga kelompok (pada Sesi II, dikerucutkan menjadi dua kelompok saja, dengan satu kelompok mayoritas terdiri dari anggota Pemuda Subud).

Pada sesi I, para peserta dalam kelompok dimana saya menjadi bagiannya diminta bercerita tentang pengalaman mereka menemukan Subud dan apa manfaat yang telah mereka peroleh dari Latihan. Sayalah yang mengajukan diri sebagai yang pertama untuk bercerita.


Bagi saya, Latihan banyak sekali manfaatnya, bahkan SEMUA aspek kehidupan saya terisi Latihan. Selain menceritakan kisah yang menyenangkan, saya juga bercerita pengalaman yang tidak menyenangkan, yang, bagaimanapun, selalu berakhir menyenangkan karena saya kemudian menyadari bahwa bimbingan Tuhan selalu menyertai saya.

“Enak atau tidak enak itu adalah produk akal pikir kita. Sebagai orang Subud, kita hanya harus berserah diri kepada Tuhan dengan sabar, tawakal dan ikhlas. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita, tapi akal pikir selalu menentang pekerjaan Tuhan,” kata salah satu pembantu pelatih yang melayani saya ketika saya baru dibuka dulu.

Pada Sesi II, setelah dijelaskan oleh satu pembantu pelatih senior mengenai Zat, Sifat, Asma’, Af’al, para peserta Gathering dimintai saran bagaimana kita dapat memajukan Subud sebagai sebuah perkumpulan; bagaimana kerukunan bisa dilanggengkan serta bagaimana seharusnya hubungan antar anggota agar tetap rukun. Saya ingin mengutarakan pendapat dan saran saya, tapi saya mempersilakan para anggota baru dulu. Tetapi setelah beberapa anggota baru menyampaikan saran-saran mereka, waktu untuk Sesi II keburu habis, sehingga saya mengutarakan saran saya via WhatsApp kepada satu pembantu pelatih (yang dalam gathering di kelompok saya bertugas sebagai pemandu) dan beliau akan meneruskannya kepada Dewan Pembantu Pelatih Cabang Jakarta Selatan.




Para anggota baru, pada dasarnya, menginginkan pendampingan pembantu pelatih yang lebih intens serta diadakan gathering dan testing yang lebih sering, misalnya sebulan atau tiga bulan sekali. Saya ingin—tapi waktunya keburu habis—mengutarakan pendapat bahwa kerukunan sulit dibangun karena setiap orang berproses. Menurut saya, kita tidak bisa (dipaksa) untuk harmonis dengan semua orang; hal itu tergantung pada bimbingan Tuhan. Selama sekian lama di Subud, saya dekat dengan sejumlah anggota, tapi kedekatan itu berubah seiring waktu, dimana saya kemudian akrab dengan anggota-anggota lainnya. Meskipun hubungan saya renggang dengan anggota lainnya, saya tetap merasakan kasih sayang terhadap mereka, yang saya yakini berkat bimbinganNya.

Dalam pesan WhatsApp saya kepada satu pembantu pelatih itu, saya juga memberi saran agar para pembantu pelatih Cabang Jakarta Selatan khususnya mengajak anggota, terutama anggota baru, berkunjung ke cabang-cabang terdekat, misalnya di cabang-cabang lainnya dari provinsi DKI Jakarta, atau ke Bogor, Sukabumi dan Bandung di Jawa Barat. Dengan demikian, akan sirna perasaan anggota-anggota di Jakarta Selatan maupun berbagai daerah di Indonesia bahwa Subud seolah tersentralisasi di Cilandak. Para anggota dan pembantu pelatih dari Cabang Jakarta Selatan juga dapat belajar tentang sifat dan keadaan dari cabang-cabang lainnya, sehingga ke depannya dapat terjalin kerjasama yang lebih baik di antara para pembantu pelatih di satu cabang dengan cabang lainnya. Dan kerukunan dapat meluas, tidak hanya di satu cabang tapi juga antar cabang.

Secara umum, gathering 19 Juni itu terasa menyenangkan dan menginspirasi. Semua anggota merasakan kebersamaan yang kami harap tidak akan pernah berakhir.
©2022


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 20 Juni 2022

Tuesday, June 7, 2022

Menomorsatukan Tuhan

“Jadi, terang bahwa petunjuk dari Tuhan akan dapat diterima oleh umat manusia, apabila umat manusia benar-benar telah menyerahkan segala apa yang terasa dalam rasa pikirannya dan benar-benar bertawakal dan patuh atas perintah Tuhan kepadanya. Karena pemberian Tuhan dari kehendak Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat dicampuri, juga tidak dapat dipersamakan dengan bagaimana kehendak dan kelanjutan akal pikiran dari manusia.” 

~Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo (cuplikan ceramah kepada anggota wanita di Coombe Springs, Inggris, 19 Agustus 1057)


HARI Sabtu malam Minggu, 4 Juni 2022, di teras rumah seorang pembantu pelatih Subud Cabang Jakarta Selatan, saya bersama tiga saudara Subud lainnya, termasuk tuan rumah, mengobrol tentang aspek-aspek dari Latihan Kejiwaan Subud. Yang membuat obrolannya seru adalah ketika kami masuk ke topik mengenai perbedaan berserah diri menurut ajaran agama dan berserah diri ala Subud.

Menurut pengalaman kami masing-masing, agama mengajarkan “berusaha dulu sekeras mungkin, kemudian berserah diri kepada Tuhan”, sedangkan orang-orang Subud berserah diri dulu, yang akan membuat mereka menerima bimbingan Tuhan kepada rasa diri mereka ketika berikhtiar.

Bagi orang Subud, ikhtiar dan berserah diri berjalan bersamaan, berjumbuh bagaikan minyak dan air dalam satu wadah yang sama. Orang Subud menomorsatukan Tuhan, membiarkan Dia bekerja ketika ia belum, saat dan sesudah melakukan suatu kegiatan. Tuhan dulu dan Tuhan kemudian!

Ajaran agama terkait berserah diri membuat seolah Tuhan dinomorduakan. Saya mendapat informasi bahwa ajaran ini bukan asli dari para nabi pembawa agama, melainkan di satu titik dalam lini perkembangan suatu agama telah terjadi distorsi atau sengaja diputarbalikkan; barangkali karena para ulama saat itu telah menyaksikan dahsyatnya kekuatan yang dihasilkan dari sikap berserah diri dengan sabar, tawakal dan ikhlas, yang mungkin tidak bakal sanggup diterima orang awam.

Dalam tradisi agama-agama, Tuhan hanya dilibatkan ketika manusia sudah mengerahkan segenap tenaga, nafsu dan akal pikirannya dalam berusaha. Kalau Tuhan bisa ngomong seperti halnya manusia, mungkin Dia akan bilang, “Lah, lu yang melakukan, kok gue yang disuruh menanggung akibatnya?!”

Keesokan harinya, 5 Juni 2022, saat diskusi dengan satu teman seangkatan di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, di grup WhatsApp “Sahabat Sejarah 87 FSUI”, dia berprinsip bahwa hak manusia hanya berusaha, setelah itu diserahkan kepada Tuhan mengenai penentuan hasilnya. Kalimat “setelah itu” saja sudah membuktikan bahwa kalangan umat beragama menomorduakan Tuhan. Bagaimanapun, saya hentikan diskusi itu dengan alasan saling menghormati dan saling menghargai dalam berpendapat, karena kepala saya menjadi sangat sakit membaca lontaran-lontaran pendapat dari lawan diskusi saya.

Dengan menomorsatukan Tuhan, mendahulukan berserah diri kepadaNya alih-alih berusaha dahulu, hal itu mempertegas makna dari tawakal yang terdapat pada kredo sikap hidup orang Subud—sabar, tawakal dan ikhlas, yaitu mewakilkan atau menyerahkan diri dan peserta-pesertanya (hati, nafsu dan akal pikir) kepada Tuhan. Berserah diri adalah sikap orang Subud yang (diharapkan) mengisi semua ekspresi pikiran dan perasaannya, perkataan dan perbuatannya.

Dengan berserah diri secara sabar, tawakal dan ikhlas kepada kehendakNya, niscaya orang Subud mendapatkan bimbingan kekuasaan Tuhan untuk melakukan segala usahanya demi mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Memang tidak mudah—menurut akal pikir kita yang kepalang sudah “terkontaminasi” ajaran buatan manusia—karena bimbingan Tuhan tidak selalu sejalan dengan bayangan kita. 

Kebanyakan orang maunya yang enak-enak saja; ia terpengaruh ajaran agama pada umumnya bahwa Tuhan tidak akan mempersulit hambaNya. Jika bimbinganNya dirasa tidak enak, atau tidak sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang dianutnya, kebanyakan orang lantas beranggapan bahwa bimbingan itu bukan berasal dari Tuhan. Untuk itulah, dalam ceramah terakhir Bapak Muhammad Subuh, pada 26 Mei 1987 (kode rekaman: 87 CDK 05), beliau menambahkan kata “berani” dalam sekuens sabar, tawakal, dan ikhlas yang merupakan sikap hidup orang Subud.

Tanpa sikap berani menerima dan mengikuti bimbinganNya, kebanyakan anggota Subud “terpental” dari kemurnian Latihan Kejiwaannya, yang mensyaratkan berserah diri dengan sabar, tawakal dan ikhlas, menomorsatukan Tuhan.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 8 Juni 2022

Thursday, June 2, 2022

Wilayah Pribadi

SATU saudara Subud saya dari Surabaya baru-baru ini memosting di sebuah grup WhatsApp Subud, video berdurasi satu menit 18 detik yang menampilkan seorang berkulit hitam berceramah di hadapan sekian banyak orang. Ia berbicara tentang rusaknya kehidupan bermasyarakat karena dikotak-kotakkan oleh agama-agama. Ia mengajak audiens untuk meniadakan pengotakan itu dan hidup dalam harmoni.

Saudara Subud itu pun bertanya ke saya, “Lalu, ritual (syariat)-nya kayak apa, ya?”

Saya menjawab, “Ritualnya masing-masinglah. Ritual kan wilayah pribadi. Bahkan dalam agama Islam saja, gerak dan ucapan dalam salat tiap orang beda-beda. Beda-beda pula isi pikiran tiap muslim saat berritual.”

Jawaban yang saya ucapkan itu seolah datang dari ketiadaan – saya tidak memikirkannya, melainkan keluar begitu saja gagasan tersebut. Untuk saya sendiri, saya selanjutnya menerima pengertian dari dalam bahwa toleransi atau kerukunan (khususnya dalam hubungan antar umat beragama) hanya dapat tercapai apabila ada atmosfer saling menghormati (mutual respect) dan saling memahami (mutual understanding) wilayah pribadi tiap orang.

Saya teringat pada penjelasan dari satu saudara Subud di Jakarta Selatan, yang bekerja sebagai dosen, mengajar Akidah Akhlak di Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sebagai ahli bahasa Arab dan mumpuni dalam kajian Qurani, beliau menjelaskan bahwa makna lakum dinukum waliyadin sejatinya bukan semata “bagimu agamamu, bagiku agamaku”, tapi juga bisa berarti “bagimu caramu, bagiku caraku”, sehingga ayat 6 dari Qur’an Surah Al-Kafirun itu juga berlaku dalam interaksi antar individu dalam kolektivitas umat (agama) Islam.

Saya menyaksikan bagaimana arti luas dari ayat ini hidup dan dijunjung di Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan (PPK) Subud. Mengapa di Subud tidak ada ajaran dan pelajaran yang diberi manusia kepada manusia lainnya adalah karena sifat kemanusiaan kita tidak seragam; kita masing-masing secara alami memang berbeda, dalam pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan kita. Perselisihan atau pertengkaran yang timbul di lingkungan PPK Subud biasanya disulut oleh pemaksaan kehendak oleh individu yang merasa paling benar, yang menyenggol wilayah pribadi dari individu lainnya.

Diri kita adalah wilayah pribadi kita, yang hanya dipahami oleh kita sendiri dan pencipta kita. Kita tidak mau, bahkan menentang keras intervensi apa pun dari luar terhadap wilayah pribadi kita. “Caraku bukan caramu, jangan kau ganggu caraku dengan memaksakan caramu,” kira-kira begitulah ekspresi orang yang mempraktikkan hakikat dari lakum dinukum waliyadin.

Dengan menghormati dan memahami batas-batas wilayah pribadi tiap individu, maka terbukalah jalan menuju toleransi yang hakiki dalam hubungan antar umat beragama. Kita bisa hidup rukun dalam semua aspek, selama tidak saling mengganggu wilayah pribadi masing-masing.©2022


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 3 Juni 2022 

Friday, May 20, 2022

Jalan Pulang

SAYA hari ini mengantar putri saya, Nuansa, ke Taman Pendidikan Alqur’an (TPA) tempat dia belajar seminggu dua kali. Ini pertama kalinya bagi saya, sehingga tidak tahu jalannya yang melalui gang-gang sempit di lingkungan Pondok Cabe. Tapi Nuansa hafal benar belokan-belokannya.                                     

Sampai di TPA-nya, saya menyerahkan Nuansa ke gurunya. Ibu Guru mengatakan ke saya, yang sempat terpaku bingung di teras bangunan TPA, bahwa saya boleh pulang dan bahwa dia yang akan mengantar Nuansa pulang usai belajar yang lamanya 1,5 jam. Saya ingin mengatakan bahwa saya lupa jalan pulang yang seperti labirin itu, tapi saya malu.

Akhirnya, saya minta jiwa saya untuk menuntun jalan saya. Puji Tuhan, saya menemukan jalannya sekaligus pembelajaran bahwa bila kelak saya “berpulang” tanpa tahu jalan pulangnya... waduh gawat! Saya harus rajin dan tekun berlatih kejiwaan nih.

Lucunya, bila tidak dapat dikatakan “ajaib”, malamnya, ketika saya hendak berangkat ke Wisma Subud Cilandak untuk Latihan Kejiwaan rutin tiap Kamis malam, Nuansa ingin menulis di lengan saya, dengan spidol yang mudah dihapus: “Jangan lupa pulang ya!” – tapi saya menolak, karena nanti akan terlihat oleh saudara-saudara Subud di Hall Cilandak.

Saya tidak tahu apa yang dia maksud – mungkin karena saya sering pulang larut malam atau bahkan menginap bila bertemu dengan saudara-saudara Subud – tapi apa yang ingin ia tuliskan di lengan saya seperti mengingatkan saya agar jangan pernah sampai lupa pulang ke asal, yang artinya saya harus rajin berlatih kejiwaan dan terus-menerus menerapkan sabar, tawakal dan ikhlas dalam segala keadaan. Terima kasih, anakku.©2022


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 19 Mei 2022

Wednesday, May 18, 2022

Semarang Bukan Sembarang

Ini tulisan lama, yang saya persiapkan pada sekitar tahun 2010 untuk dimuat di sebuah majalah pada rubrik pariwisatanya. Tetapi saya lupa untuk mengirimnya, dan file tulisan ini pun hilang di sela-sela tak kasatmata dari komputer saya sekian lama. Saya menemukannya hari ini, 18 Mei 2022, ketika memindahkan satu folder ke external harddisk saya. Saya putuskan untuk disimpan di blog saya saja, yang berkemungkinan bermanfaat bagi orang lain, daripada kalau saya menyimpannya lagi di external harddisk saya.

Tugu Muda Semarang pada 8 Januari 2022. (Foto: Sahadewo Nalendro)


KETIKA masih menetap di Surabaya, saya acap menggunakan sarana transportasi darat untuk pulang ke kampung halaman saya, Jakarta, utamanya kereta api. Saya tergolong fobia terbang, sehingga perjalanan dengan pesawat terbang saya masukkan dalam urutan terakhir pilihan saya akan moda transportasi.

Untuk menuju Jakarta dari Surabaya, maupun sebaliknya, tersedia dua jalur perjalanan kereta api, yaitu lewat utara dan lewat selatan Pulau Jawa. Saya lebih memilih yang lewat utara, karena jaraknya relatif lebih pendek ketimbang lewat selatan. Apabila lewat utara, sudah pasti kereta api yang saya tumpangi singgah untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di Stasiun Tawang yang terletak di ibukota provinsi Jawa Tengah, Semarang. Itu kalau naik kereta api kelas Bisnis dan Eksekutif. Apabila kita naik kelas Ekonomi, Stasiun Semarang Poncol-lah pemberhentian terakhir kita.

Lama perjalanan dari Surabaya ke Semarang dengan kereta api kelas Eksekutif adalah sekitar tiga jam, dan selama itu saya biasanya tidur. Dan biasanya saya terbangun karena kaget lantaran tiba-tiba kereta melambat dan berjalan miring. Jika berangkat dari Surabaya pagi (dengan KA Argo Anggrek), maka saya bisa melihat pemandangan yang aneh di luar jendela kereta api: di sekeliling rel terdapat air, air dan air. Entah itu banjir air laut yang masuk ke daratan (rob), karena jalur rel kereta di Semarang memang dekat laut, atau tambak. Di depan Stasiun Tawang saja terdapat polder, yaitu dataran banjir yang dipisahkan dari laut menggunakan tanggul.

Perjalanan dengan kereta api saat memasuki Semarang terasa cukup menegangkan bagi saya, mengingat kecepatan kereta melambat lantaran berjalan di atas rel yang bantalannya miring. Dengan air di mana-mana, serasa seperti bukan naik kereta, melainkan kapal.

Semarang memang unik, paling tidak bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, seperti saya. Meski sering banjir saat hujan deras yang lama, atau terendam air laut, Semarang bukan sembarang. Ia adalah kota yang memiliki sejarah yang menakjubkan, kuliner yang rasanya tak terlupakan serta kekayaan budaya dan keseniannya.

Desa Pohon Asam

SEMARANG tampaknya identik dengan lumpia. Lumpia Semarang memang sering menjadi oleh-oleh yang seolah menandai bahwa pembawanya baru saja pulang dari kota yang berjarak sekitar 466 kilometer sebelah timur Jakarta itu. Dia biasanya juga akan bercerita tentang bangunan kuno peninggalan zaman kolonial yang konon berhantu, yaitu Lawang Sewu. 

Bagaimanapun, Semarang lebih dari sekadar lumpia dan Lawang Sewu. Semarang bukan sembarang; ia adalah peti harta karun sejarah. Kabarnya, sejarah Semarang berawal pada abad ke-8 M., yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno, sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah tetapi kemudian pindah ke Jawa Timur pada abad ke-10, dan akhirnya runtuh pada awal abad kesebelas.

Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Jadi, dulunya, bagian kota Semarang Bawah seperti dikenal sekarang ini, merupakan laut. Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 Masehi. Di tempat pendaratannya, orang kepercayaan Kaisar Yongle (berkuasa tahun 1403-1424) dari Dinasti Ming, Tiongkok, ini mendirikan kelenteng dan masjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu).

Pada akhir abad ke-15 M., Pangeran Made Pandan ditugaskan oleh Kerajaan Demak untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu, daerah itu semakin subur, dan dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang jarang-jarang (Jawa: asem arang), sehingga kelak daerah itu pun menyandang nama Semarang. Pendiri desa asem arang, Pangeran Made Pandan, kemudian diangkat oleh Sultan Demak Bintara sebagai bupati pertama Semarang dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang (disebut juga Pandanaran). Sepeninggalnya, kepemimpinan daerah itu dipegang oleh putranya, Pandan Arang II, yang kelak terkenal dengan sebutan Sunan Tembayat ketika kemudian menetap di daerah yang sekarang bernama Bayat, di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Adalah Sultan Hadiwijaya dari Pajang (kelanjutan dari Kesultanan Demak) yang mensahkan Semarang setingkat dengan kabupaten pada tanggal 2 Mei 1537. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.

Belanda Kecil

KETIKA saya menginjakkan kaki di Semarang, waktu serasa berhenti. Betapa tidak, saya melihat bangunan-bangunan kuno peninggalan zaman Hindia-Belanda tersebar di penjuru kota. Tempat saya menginap, Hotel Candi Baru, di Jl. Rinjani No. 21 Semarang 50231, pun memiliki arsitektur warisan zaman kolonial, dengan interior kamar-kamarnya saja yang bernuansa modern. Kawasan kota tua Semarang dijuluki “Belanda Kecil” oleh masyarakat setempat, yang mencakup kawasan polder, Stasiun Tawang, Jembatan Berok dan Lawang Sewu.

Saya berpose di depan Hotel Candi Baru, hotel berarsitektur klasik Hindia Belanda di Semarang. Difoto pada 6 Januari 2010.

Selain Lawang Sewu, yang mendapat sebutan “bangunan seribu pintu, seribu hantu” dari sebuah koran daerah, Kampung Melayu, Menara Suar, Jembatan Berok, kelenteng Tay Kak Sie, Gereja Blenduk, dan lain-lain, mempertegas Semarang sebagai kota peninggalan zaman kolonial. Saya perlu waktu lebih banyak untuk mengeksplorasi peninggalan tersebut satu per satu. Sayangnya, waktu saya sempit sekali. Tetapi saya sempat mengunjungi beberapa yang terkemuka.

Wajah fasad Lawang Sewu menyiratkan keangkeran bagi saya. Bangunan itu dulunya merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atau Jawatan Perkeretaapian Hindia Belanda. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907, bangunan itu terletak di bundaran Tugu Muda yang dulu disebut Wilhelmina Plein. Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (seribu pintu), karena bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak sekali. Kenyataannya, jumlah pintunya tidak sampai seribu. Mungkin karena jendela bangunan ini tinggi dan lebar lantas dianggap sebagai pintu. Saat ini, bangunan berusia 103 tahun ini (ketika tulisan ini dibuat tahun 2010) kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Pernah juga digunakan sebagai tempat pameran, antara lain Semarang Expo dan Tourism Expo.


Lawang Sewu, bangunan kuno peninggalan era Hindia Belanda di tengah kota Semarang.

Stasiun Tawang di Tanjung Mas, Semarang Utara, dan Stasiun Poncol di Purwosari, juga merupakan bagian dari kompleks Belanda Kecil. Stasiun Tawang merupakan stasiun kereta api tertua di Indonesia setelah Semarang Gudang dan diresmikan pada tanggal 19 Juli 1868 untuk jalur Semarang Tawang ke Tanggung (di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah). Stasiun Poncol di Jl. Poncol, Semarang Utara, dibangun pada tahun 1914. Semula milik SCS (Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij, Jawatan Trem Uap Semarang-Cirebon), Stasiun Poncol kini menjadi tempat berhentinya kereta api kelas Ekonomi PT Kereta Api Indonesia (Persero). Bangunan stasiun dirancang oleh Herman Thomas Karsten (1884-1945), seorang arsitek dan perencana wilayah pemukiman dari Hindia Belanda yang juga merancang, antara lain, Lapangan Monas di Jakarta dan Museum Sonobudoyo di Yogyakarta.

Stasiun Semarang Gudang, sebagai stasiun tertua di Indonesia nomor urut pertama, dibangun tahun 1864 dan secara fisik sudah tidak ada lagi. Waktu saya tanyakan soal itu ke kenalan saya, dia mempersilakan saya menyelam ke tambak di Kelurahan Kemijen. Sebagian besar bagian gedung stasiun yang sudah berumur hampir seabad itu telah berubah menjadi rawa-rawa. Tepat di badan gedung utama ditumbuhi alang-alang setinggi kurang lebih satu meter.

Kampung Melayu merupakan pemukiman pedagang di tepi Kali Semarang dekat pelabuhan Tanjung Mas, yang dibangun pada abad ketujuhbelas. Di kawasan ini terdapat sebuah masjid yang dijuluki “Masjid Menara” dan sebuah kelenteng yang berdiri bersebelahan di Jl. Layur. Keduanya merupakan markah kota Kampung Melayu. Keunikan Kampung Melayu dapat dilihat pada gaya bangunan, detail bangunan, fasad-fasadnya dan rumah-rumah penduduknya yang mencerminkan budaya multi-etnik Arab, China, Melayu, Banjar (Kalimantan), Bugis, Madura dan Cirebon. Kondisi Kampung Melayu sekarang memprihatinkan, dengan pemukiman penduduknya yang padat, kumuh, tidak sehat, tidak aman, dan lingkungannya cenderung kotor, selain juga merupakan kawasan yang menjadi langganan banjir.

Menara Suar (dahulu disebut Mercusuar) dibangun tahun 1884 dan diresmikan oleh Raja Willem III. Bangunan Menara Suar berbentuk segi sepuluh dengan alas melebar dan mengerucut ke atas. Dengan ketinggian sekitar 30 meter, konstruksi Menara Suar terdiri dari sepuluh lantai dan setiap tingkatnya dilengkapi dengan dua jendela. Sampai tahun 1999, Menara Suar masih berfungsi dengan baik, hanya saja lantai dasar bangunan telah terendam air, yang untuk mengatasinya dibuat saluran dan tanggul agar air tidak masuk ke bangunan.

Jembatan Berok merupakan jembatan yang melintasi Kali Semarang dan menghubungkan antara Kota Lama dengan Jl. Pemuda. Orientasi jembatan adalah timur-barat. Jembatan dibentuk dari empat buah kolom utama dengan bentuk menyerupai obelisk, dan pada puncak kolom terdapat lampu yang cukup unik. Penambahan lampu pada Jembatan Berok dilakukan pada tahun 1910. Bentuk tiang Jembatan Berok menyerupai tiang pada taman di depan Stasiun Tawang. Pagar pembatas jembatan terbuat dari besi. Jembatan Berok dibangun tahun 1705. Dinamai “Berok” karena penduduk pribumi tidak bisa mengucapkan kata “brug” yang dalam bahasa Belanda berarti “jembatan”.

Kelenteng Tay Kak Sie adalah sebuah kelenteng yang terletak di kawasan Jl. Gang Lombok, Semarang. Kelenteng yang didirikan pada tahun 1746 ini pada awalnya hanya untuk memuja Kwan Sie Im Po Sat (Yang Mulia Dewi Welas Asih). Kelenteng ini kemudian berkembang menjadi kelenteng besar yang juga memuja berbagai dewa-dewi Tao. Nama “Tay Kak Sie” tertulis pada papan nama besar di pintu masuk kelenteng, dengan catatan tahun pemerintahan Kaisar Dao Guang (1821-1850) dari Dinasti Qing, yang berarti “Kuil Kesadaran Agung”.

Melihat bentuk gereja itu, kenangan masa kecil saya saat liburan ke Paris melintas di benak saya. Bentuknya, menurut saya, sama sekali tidak mengesankan bangunan yang “mengindonesia” dengan kubahnya yang besar dan berlapis perunggu serta jendela-jendelanya yang berkaca patri. Gereja Blenduk (kadang-kadang dieja Gereja Blendug dan seringkali dilafalkan secara Jawa sebagai mBlendhug) adalah gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal di Kota Semarang pada 1753, dengan bentuk heksagonal (persegi delapan). 

GPIB Immanuel Semarang (Gereja Blenduk) pada 21 Februari 2020. (Foto: Tamtomo)

Gereja ini sesungguhnya bernama “Gereja GPIB Immanuel”, di Jl. Letjen Suprapto No. 32. Di dalamnya, saya dengar, terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan bangunan gereja ini. Nama “blenduk” adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti “kubah”. Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda.

Aliran Lumpia

MELANCONG ke berbagai tempat di Indonesia belum lengkap rasanya tanpa melakoni wisata boganya. Makanan seakan mewakili kekhasan budaya suatu masyarakat dari tempat-tempat yang kita kunjungi. Sejumlah makanan bahkan melekat dengan imbuhan nama tempat asalnya, seperti, misalnya, kue lapis Surabaya, soto Madura, sate Padang, dan gudeg Yogya, meski tanpa nama tempat asalnya pun makanan-makanan itu memiliki kekhasannya masing-masing.

Lumpia yang banyak dijajakan di Semarang terkenal dengan nama “lumpia Semarang”, yang diperdagangkan dalam keadaan sudah digoreng atau masih basah. Lumpia Semarang berbeda dari lumpia-lumpia yang sering kita temukan di bagian-bagian lain di Pulau Jawa. Lagipula kudapan tradisional ini bukan asli Indonesia, melainkan dibawa oleh pedagang-pelaut asal Tiongkok yang merapat di pesisir Pulau Jawa. Di Tiongkok sendiri, lumpia merupakan salah satu dari menu khas negeri itu, yakni dimsum.

Ciri khas lumpia Semarang terletak pada ukurannya yang melampaui lumpia yang biasa dijajakan pedagang gorengan di Jakarta, juga renyah dengan rasa isinya agak manis. Isinya, umumnya, terdiri dari irisan rebung, telur, dan daging ayam atau udang. Cita rasa lumpia Semarang adalah perpaduan rasa Tionghoa dan Indonesia, karena memang penemunya adalah orang Tionghoa Semarang yang menikah dengan orang Indonesia. Makanan ini mulai dijajakan dan dikenal di Semarang pada waktu pesta olahraga Ganefo (Games of the New Emerging Forces) pada tahun 1962.

Lumpia khas Semarang yang disajikan di toko Lumpia Gang Lombok, Semarang.

Sepuluh potong lumpia yang saya beli di Stasiun Tawang dikemas dalam besek anyaman bambu yang labelnya bertuliskan “Mataram”. Tadinya saya kira, lumpia itu adalah warisan kuliner kerajaan Mataram, tapi ternyata saya keliru. Cap “Mataram” pada kemasan lumpia itu berasal dari nama jalan di Semarang, Jl. Mataram, yang merupakan salah satu dari lima aliran lumpia Semarang.

Seperti perguruan kungfu, dalam kisah-kisah klasik Tiongkok, yang punya banyak aliran, jajanan tradisional Negeri Tirai Bambu itu, dewasa ini, punya lima ”aliran” yang kesemuanya dapat ditemukan di Semarang. Masing-masing terkenal dengan cita rasa berbeda, yaitu aliran Gang Lombok (Siem Swie Kiem), aliran Jl. Pemuda (almarhum Siem Swie Hie), dan aliran Jl. Mataram (mendiang Siem Hwa Nio). Ketiga aliran ini berasal dari satu keluarga Siem Gwan Sing-Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal pencipta lumpia Semarang, Tjoa Thay Yoe-Wasih.

Aliran keempat muncul setelah sejumlah pegawai lumpia Jl. Pemuda keluar dari tempat mereka bekerja dan mendirikan usaha sendiri, dan aliran kelima adalah orang-orang dengan latar belakang hobi kuliner yang membuat lumpia dengan resep hasil pembelajaran dari lumpia yang sudah beredar.

Generasi tertua saat ini, yaitu generasi ketiga Siem Swie Kiem, yang tetap setia melayani konsumennya di kios warisan ayahnya (Siem Gwan Sing) di Gang Lombok No. 11. Keistimewaan lumpia Gang Lombok ini, menurut sejumlah penggemarnya, adalah racikan rebungnya yang tidak berbau, juga campuran telur dan udangnya tidak amis.

Toko Lumpia Gang Lombok di kota Semarang. (Foto: David FP)


Lumpia buatan generasi keempat dapat kita peroleh di kios lumpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien, di Jl. Pemuda dan Jl. Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios almarhum ayahnya, Siem Swie Hie, yang merupakan abang dari Siem Swie Kiem, di Jl. Pemuda (mulut Gang Grajen) sambil membuka dua cabang di Jl. Pandanaran.

Kekhasan lumpia Mbak Lien ini adalah isinya yang ditambahi racikan daging ayam kampung. Ketika awal mula meneruskan usaha mendiang ayahnya, Mbak Lien membuat tiga macam lumpia, yaitu lumpia isi udang, lumpia isi ayam (untuk yang alergi udang), dan lumpia spesial berisi campuran udang serta ayam. Tapi karena merasa kerepotan dan apalagi kebanyakan pembeli suka yang spesial, sekarang Mbak Lien hanya membuat satu macam saja, yaitu lumpia istimewa dengan isi rebung dicampur udang dan ayam.

Toko oleh-oleh "Loenpia Mbak Lien" di Gang Grajen, Jl. Pemuda No. 1, Pandansari, Semarang Tengah. (Foto: Freddy Samad)

Adapun generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari mendiang Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie Kiem) meneruskan kios ibunya di Jl. Mataram (Jl. MT Haryono), di samping membuka kios baru di beberapa tempat di kota Semarang. Di antara anak-anak almarhum Siem Hwa Nio ini ada juga yang membuka cabang di Jakarta. Bahkan ada cucu almarhum Siem Hwa Nio sebagai generasi kelima membuka kios lumpia sendiri di Semarang.

Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta lumpia Semarang tersebut, sekarang banyak juga orang-orang ”luar” yang membuat lumpia Semarang. Mereka umumnya mantan karyawan perusahaan-perusahaan pembuat lumpia yang sudah melegenda. Mereka yang mempunyai hobi kuliner juga turut meramaikan bisnis lumpia Semarang dengan membuat lumpia sendiri, seperti Lumpia Ekspres, Phoa Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden Restaurant di Jl. Gajah Mada, Semarang.

Wisata boga Semarang cukup kaya akan keanekaragaman makanan dan kudapan yang lezat. Sejak lama, Semarang sudah begitu identik dengan lumpia, wingko babat, tahu gimbal dan bandeng presto. Pusat oleh-oleh khas Semarang di Jl. Pandanaran yang begitu padat pengunjung pada akhir pekan merupakan bukti besarnya potensi wisata boga kota itu.

Wisata boga juga bisa dilakukan di Pasar Semawis, yang dibuka di Gang Warung, kawasan Pecinan, tiap Jumat-Minggu malam. Di tempat itu, kita bisa menikmati makanan, minuman dan jajanan khas Semarang.

Pasar Semawis, atau dikenal juga sebagai Waroeng Semawis, awalnya merupakan gagasan dari perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata). Pasar Semawis bermula dengan diadakannya Pasar Imlek Semawis di tahun 2004, menyusul diresmikannya Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional di Indonesia.

Pasar Semawis menyajikan beraneka ragam hidangan yang bisa kita pilih bersama keluarga, mulai dari pisang plenet khas Semarang, nasi ayam, es puter, kue serabi, aneka sate, bubur kacang hingga menu-menu steamboat yang menarik untuk dicicipi. Pusat jajanan terpanjang di Semarang ini buka mulai jam enam sore hingga tengah malam.

Sebenarnya, ada sejumlah kawasan lain di kota Semarang yang menjadi tujuan wisata boga. Kawasan Simpang Lima, Jl. Ahmad Dahlan, Jl. Gajahmada dan Tanah Mas merupakan kawasan wisata boga yang hidup setiap malam. Sementara itu, sejumlah kafe, restoran, rumah makan, hingga warung tenda menjadi jujugan orang-orang yang membeli kenyamanan menikmati makanan.

Budaya Campur-Aduk


SOAL kekayaan budaya, Semarang juga amat kaya. Mulai dari kesenian Gambang Semarang yang diadopsi dari gambang kromong Betawi, ketoprak, wayang orang – yang begitu identik dengan Ngesti Pandawa, hingga ritual dugderan. Ngesti Pandawa adalah kelompok wayang orang yang berdiri sejak 1 Juli 1937, dan hingga kini masih terus menghibur penonton setiap malam Minggu di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang. Namun nasib Ngesti Pandawa sudah tidak seperti dulu lagi, yaitu pada masa kejayaannya hingga tahun 1980an. Setelah berusia 72 tahun pada 2009, kelompok wayang orang itu masih harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Setelah Gedung Ngesti Pandawa diambil alih oleh pemerintah, kelompok wayang orang tersebut pindah ke Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo yang berada di kompleks TBRS.

 

Kebudayaan Semarang merupakan campur-aduk antara budaya Tionghoa, Jawa, dan Islam, sehingga tak heran jika muatannya mengandung unsur-unsur budaya tersebut. Gambang Semarang contohnya. Gambang Semarang merupakan perpaduan antara tari dengan diiringi alat musik dari bilah-bilah kayu dan gamelan Jawa yang biasa disebut “gambang”. Gambang Semarang sering muncul pada perhelatan tertentu, seperti Festival Dugderan dan Festival Jajan Pasar. Gambang Semarang telah ada sejak tahun 1930 dengan bentuk paguyuban yang anggotanya terdiri dari pribumi dan peranakan Tionghoa, yang mengambil tempat pertunjukan di gedung Pertemuan Bian Hian Tiong di Gang Pinggir. Jenis alat musik yang dipakai adalah kendang, bonang, kempul, gong, suling, kecrek, gambang serta alat musik gesek. Di samping musik, ada penari dan penyanyi.

 

Dugderan adalah sebuah upacara yang menandai bahwa bulan puasa telah datang. Dulunya, dugderan merupakan sarana informasi pemerintah Kota Semarang kepada masyarakatnya tentang datangnya bulan Ramadhan. Dugderan dilaksanakan tepat satu hari sebelum bulan puasa. Kata dugder, diambil dari perpaduan bunyi dugdug, dan bunyi meriam yang mengikuti kemudian diasumsikan dengan derr.

 

Sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah, yang dikenal sebagai “jantung” budaya Jawa, Semarang memayungi berbagai kesenian tradisional Jawa yang juga terdapat di daerah-daerah lain di Jawa Tengah, seperti, misalnya, wayang kulit dan ketoprak.

 

Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Digelar secara rutin setiap malam Jumat Kliwon  di TBRS, kesenian ini sudah tumbuh sejak abad ke-16 pada masa Wali Sanga.


Ketoprak merupakan kesenian tradisional yang mengangkat cerita tentang babad Tanah Jawa. Sejarah yang dijadikan landasan cerita sering dibumbui dengan berbagai pemanis sehinggga menjadi cerita yang layak dinikmati. Saat ini ketoprak sering ditampilkan di TBRS setiap malam Selasa Kliwon dan di gedung museum Ronggowarsito.

 

Batik Semarangan juga menandai kekhasan budaya Semarang. Batik ini pernah mengalami masa kejayaan sekitar abad ke-18 sampai abad ke-19, karena dipakai semua kalangan, baik bangsawan maupun rakyat jelata. Namun, konon kejayaan ini berakhir menyusul meletusnya Gunung Ungaran akhir abad kesembilanbelas. Tahun 1980an, motif batik Semarangan mulai disibak lagi. Salah satu motifnya adalah sarung kepala pasung. Motif ini didominasi warna coklat dan hitam dengan ornamen lebih mengarah bentuk tumbuhan.


Menyambut Sepenuh Hati


SEMARANG adalah salah satu dari segelintir kota di Jawa di mana kita masih dapat merasakan cara hidup tradisional berpadu dengan kenyamanan kota modern. Kota ini memiliki baik daerah pantai maupun perbukitan. Tampaknya, pemerintah daerah Kota Semarang melakukan upaya terbaiknya untuk menjadikan kota kembar dari Brisbane, Australia, itu sebagai destinasi wisata yang cukup representatif bagi turis domestik maupun mancanegara. Keberadaan hotel-hotel bertaraf internasional, dari berbintang lima hingga satu, maupun yang kelas melati, melengkapi eksistensi Semarang sebagai tujuan wisata. Ada cukup banyak pusat perbelanjaan di kota ini, dan belanja di Semarang merupakan pengalaman yang menarik, karena kita bisa mendapatkan beraneka macam di mal-malnya. Apabila ingin merasakan atmosfer lokal, kita bisa ke Pasar Johar, sebuah pasar tradisional.

 

Simpang Lima adalah pusat perbelanjaan yang paling terkemuka di kota ini. Simpang Lima menaungi banyak toko dan bioskop, dan menyediakan apa saja yang kita cari. Setiap pagi, banyak orang berlari pagi di sepanjang jalan di depan pusat perbelanjaan itu. Mal Sri Ratu adalah mal tertua di Semarang, sedangkan mal-mal penting lainnya adalah Plaza Matahari, Mal Citraland, dan Java Mall. Ada banyak restoran di kawasan pusat perbelanjaan, di mana kita bisa istirahat setelah berbelanja.


Pusat jajanan berselera di kawasan Simpang Lima Semarang. Kawasan ini terkenal dengan wisatawan kuliner yang mencicipi aneka kuliner khas Semarang. (Foto: Krisnandy Bagus)


Saya menunjukkan Tahu Gimbal yang saya pesan di pujasera Simpang Lima Semarang. Difoto pada 6 Juni 2015.

 

Ibukota provinsi Jawa Tengah yang terletak 312 km sebelah barat Surabaya itu memiliki brand wisata “Semarang Pesona Asia” yang dimulai pada tahun 2007. SPA adalah sebuah event tahunan yang mementaskan berbagai kegiatan pagelaran seni dan budaya Asia, pameran, seminar pariwisata, festival film dokumenter dan kuliner.

 

Dengan segala fasilitas dan infrastruktur yang tergolong cukup memadai, masyarakat Semarang dengan sepenuh hati menyambut wisatawan untuk datang ke kota itu. Mereka memiliki alasan yang kuat: infrastruktur dan fasilitas yang menunjang, daya tarik wisata yang cemerlang serta kisah-kisah sejarah yang gemilang membuktikan bahwa Semarang bukan sembarang!©2022