Friday, August 4, 2023

Pamulang

 



KEMARIN (3 Agustus 2023) waktu Jakarta, saat nongkrong bersama satu saudara Subud di sebuah kafe milik seorang pembantu pelatih dari Subud Cabang Jakarta Selatan, yang terletak sekitar 1 km dari Wisma Subud Cilandak, saya ditanya olehnya, mengapa sekarang saya rutin Latihan di Wisma Barata Pamulang. Tujuh bulan belakangan ini saya memang sudah sangat jarang Latihan di Cilandak, dan rutin menghadiri Latihan bersama di Pamulang. Lagipula, secara jarak, rumah saya lebih dekat ke Wisma Barata dibandingkan dengan ke Wisma Subud Cilandak.

“Apakah Mas sedang ada konflik dengan anggota di Cilandak? Atau tersinggung pada anggota Jakarta Selatan?” tanyanya lagi.

“Tidak ada satu pun dari kedua alasan itu,” kata saya. “Entah mengapa, saya merasa digerakkan untuk Latihan di Pamulang.”

Seperti kita ketahui bersama, Wisma Barata Pamulang adalah rumah Bapak setelah meninggalkan Wisma Subud Cilandak. Bapak juga meninggal pada 23 Juni 1987 ketika sudah beralamat di Pamulang. Istilah “pamulang” dalam bahasa Jawa berarti “pengajaran” (pamulangan) atau “latihan”. Dan jauh sebelum rumah Bapak di Desa Pamulang selesai dibangun, Bapak pernah berkata bahwa pendopo rumah yang luas itu kelak dapat digunakan untuk Latihan para anggota Subud.

Saya pribadi memaknai “Pamulang” sebagai “pemulangan”, kata bahasa Indonesia yang padanan bahasa Inggrisnya adalah “return home” atau “repatriation”. Dan memang selama saya Latihan di Pamulang, terutama di ruang utama di bawah mezanin dimana kamar tidur dan ruang kerja Bapak berada, di bagian tengah rumah, saya selalu terdorong untuk “pulang ke diri”, yang menyebabkan Latihan saya selalu kuat, mendalam dan semakin mendalam, dengan penerimaan-penerimaan di luar kehendak saya, yang intinya mendorong saya untuk belajar menerima kehendak Tuhan dengan sabar, tawakal dan ikhlas.

Keadaan bahwa saya mantan anggota Cilandak membuat saya tidak mengenal banyak anggota Pamulang, dan sebaliknya pun mereka tidak mengenal saya. Jadi, sedikit sekali orang yang bisa saya ajak bicara atau menghabiskan waktu menunggu Latihan bersama dengan banyak mengobrol, yang pada gilirannya malah memperkuat akal pikir. Efeknya, saya datang ke Wisma Barata Pamulang seringnya untuk mendapatkan momen mengheningkan diri yang lebih lama hingga waktunya tiba untuk Latihan bersama.

Beberapa saudara Subud di Cilandak mengomentari perubahan signifikan pada diri saya sejak melakukan Latihan di Pamulang; saya terlihat lebih tenang, lebih rendah hati, tidak banyak bicara. Istri saya pun mengatakan bahwa sejak saya Latihan di Pamulang, saya tidak lagi suka marah-marah. Seorang saudari Subud, melalui pesan WhatsApp-nya, berkata bahwa dia melihat saya tidak lagi sombong dan menyebalkan seperti sebelumnya, dan dia dengan leluasa mengutarakan segala kekurangan saya, tanpa saya bereaksi dengan protes atau marah—sebaliknya, saya malah merasakan kasih sayang yang luar biasa terpancar dari kata-katanya.

“Ya, memang, saya dulu persis seperti yang kamu bilang,” jawab saya. “Sejak Latihan di Pamulang, saya semakin jelas dan jernih melihat diri saya.” ©2023

 

Pondok Cabe Ilir, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, 4 Agustus 2023


Wednesday, August 2, 2023

Baper

BEBERAPA hari yang lalu, dalam sebuah obrolan via WhatsApp dengan seorang pembantu pelatih dari Subud Cabang Jakarta Selatan, saya menceritakan pengalaman saya dalam beberapa tahun terakhir dengan sejumlah saudara Subud yang memblokir nomor WhatsApp saya karena mereka “baper” dengan apa yang pernah saya sampaikan kepada atau sikap dan perilaku saya di mata mereka. Mereka merasa tidak nyaman untuk terus berhubungan dengan saya.

Jika Anda telah menerima Latihan Kejiwaan, Anda semestinya tidak boleh “baper”, karena itu berarti Anda terpedaya oleh daya-daya rendah—itulah yang saya dan pembantu pelatih itu simpulkan. Kenyataannya memang demikian; “baper” dapat menodai Latihan, membuat Latihan Anda bergerak “ke lain jurusan” dan menghambat pertumbuhan jiwa Anda.

“Baper” adalah sebuah kata dalam kamus milenial Indonesia yang merupakan akronim dari “BAwa PERasaan”. Ada beberapa penggunaan kata “baper”, tergantung konteksnya, antara lain:

·       Jangan baper (don’t take it personally)

·       Baperan (thin-skinned, brittle, tempered)

·       Baper (terbawa suasana oleh lagu, film atau cerita) (feeling into it)

Saya pernah membuat grup WhatsApp (WAG) yang saya namai “Subud 4G—Anti Baper”, yang memiliki lebih dari 70 anggota dari seluruh Indonesia. “4G” adalah singkatan dari Guyub, Gayeng, Guyon, Gila, dan saya memilih nama tersebut karena pada waktu itu 4G, teknologi seluler generasi keempat, sedang tren.

Di mata para anggota senior dan pembantu pelatih, WAG itu paling kacau, paling tidak beretika, paling tidak sopan, mungkin di seluruh dunia Subud. Postingan-postingan bernada kasar bercampur aduk dengan nasihat-nasihat lemah lembut, para anggotanya saling mengejek, saling menyerang, saling melempar lelucon-lelucon jorok, saling menghina, bercekcok tiada akhir selama tahun-tahun pertama keberadaan WAG tersebut. Banyak anggota yang keluar dari WAG itu, tetapi tidak sedikit yang, karena penasaran, justru ingin bergabung. Sejak dibuat pada 2016, kini tinggal 65 partisipannya, dan hanya 20 persen yang masih tetap memposting secara aktif—terutama meme-meme lucu dan berita-berita terkini terkait penistaan agama yang kemudian dikritisi dari sudut pandang Subud.

Alasan utama saya membuat WAG itu adalah karena pada waktu itu saya tengah gencar mempelajari memetika dan bagaimana manusia dapat dipengaruhi sedemikian rupa oleh persepsi mereka sendiri. Saya seorang praktisi pengembangan merek (branding), dimana memetika dan persepsi merupakan ranah kajian saya untuk dapat menciptakan strategi komunikasi merek yang efektif.

Karena saya yang membuatnya, sayalah yang menjadi admin utamanya, dan mengangkat tujuh anggota lainnya sebagai admin. Enam di antaranya adalah pembantu pelatih dari cabang-cabang Subud di seluruh negeri. Sebagai admin, saya mencermati proses Latihan dalam mentransformasi setiap anggota WAG dari “sangat baper” menjadi “tidak baper”. Mereka yang tidak tahan terhadap “perang daya-daya” biasanya karena mereka tidak berpegang teguh pada bimbingan Latihan, suka menyalahkan orang lain atau keadaan, selalu mengedepankan hati dan akal pikiran mereka, atau masih suka melakukan mixing.

Pendekatan WAG Subud 4G membuktikan bahwa Latihan harus dipraktikkan melalui kenyataan hidup yang keras, dan bahwa proses pembersihan rasa diri tidak selalu menyenangkan, seperti yang dibayangkan kebanyakan anggota Subud. Persis yang dikatakan Bapak dalam ceramah di Cilandak, 9 November 1971 (71 TJD 20), “Tiada kebahagiaan tanpa didahului dengan penderitaan walaupun orang yang berbudi pekerti yang utama.”

Dewasa ini, WAG Subud 4G masih eksis, tetapi situasinya lebih ramah dan lebih damai ketimbang ketika pertama kali dibuat. Daya-daya rendah telah dijinakkan dan dikelola menurut kebutuhan dari setiap anggota. Dalam kenyataan hidup sehari-hari, para anggotanya pun berhubungan dengan baik (kami sering bertatap muka di sebuah kafe milik seorang pembantu pelatih Subud Jakarta Selatan yang juga admin dari WAG tersebut), saling menyayangi dengan tulus, dan semua mengakui bahwa “proses penuh kekerasan” yang mereka lalui di Subud 4G telah menginspirasi mereka untuk dengan tenang dan ikhlas menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan mereka. Puji Tuhan.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 2 Agustus 2023


Sunday, July 23, 2023

The Meme God

Commenting on someone’s post on the Facebook Group “SUBUD AROUND THE WORLD”  on June 16, 2023, regarding how Subud responds to atheism, I wrote the following.

 

I know a member well, who passed away in 2020. He was opened in 1968 in Cilandak by Pak Darto. He told me that he was an atheist when he joined Subud. He was never introduced by his parents to religion or teachings about divinity, because his father was a sympathizer of the Indonesian Communist Party and his mother adhered to Javanese mysticism.

It was his mother who took him to Wisma Subud, to meet Pak Darto to open her son. The mother had joined Subud earlier—she was opened by Ibu Sumari in London. The mother was a nurse on the hospital ship USS Hope which was anchored in England at the time.

His mother brought him to Subud because he had had a stomach ache and had not recovered even though he had been treated by doctors.

The member said to me, “If at that time Pak Darto had explained anything about God, I would not have wanted to join Subud. But Pak Darto instead told me to go into a room where thirty people were waiting to be opened.”

The member also shared that he did the Latihan for 12 years without “believing in God” and still received strong vibrations. One day, while speeding on the highway, he had a terrible accident, which normally would have killed the driver. But the member instead felt extraordinary peace and calm, which made him resignedly surrender to whatever would happen to him. He even had time to think, “Wow, this is how death feels like. So wonderful.”

Before he passed out, he saw a bluish light envelop him. Then, he heard screams of people, saying, “Hey, the driver is still alive!”

The member was amazed to see that he was completely unharmed, both outside and inside his body. From then on, he began to believe that there was an existence beyond human life, but he was reluctant to call it a god.

I myself have experience with atheism. Two years before I was opened in Subud, my chaotic, pain-ridden life had led me to decide that God didn’t exist and religion was bullshit.

After doing Latihan for four years, I again did not believe in God. It may be an expression of the cleansing I was going through—one that cleared my mind of human teachings about god and led me to know the true god, which is beyond the reach of our minds. But in my “not believing in a meme* god” state, my Latihan felt really strong—maybe because my mind wasn’t shackled by teachings; I felt very free.

I shared this experience with a member who also didn't believe in God at the time. He confirmed me by stating that his Latihan experience was very similar to mine. And I noticed that those who stayed in Subud (especially native Indonesians) are those who don't believe in a meme god, a god that was conceived by reason through man-made teachings.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 24 July 2023

 

*) A meme is an idea, behavior, or style that spreads by means of imitation from person to person within a culture and often carries symbolic meaning representing a particular phenomenon or theme. A meme acts as a unit for carrying cultural ideas, symbols, or practices, that can be transmitted from one mind to another through writing, speech, gestures, rituals, or other imitable phenomena with a mimicked theme.


Thursday, July 20, 2023

Bicara Dengan Jiwa

DALAM dua minggu ini, entah mengapa, saya “terpaksa” harus mendengarkan keluh-kesah dari para orang tua yang menginginkan anak-anak mereka, yang telah cukup usianya, untuk masuk Subud.

Sekali waktu, seorang anggota dari cabang lain datang bersama istrinya ke Wisma Barata Pamulang untuk memenuhi jadwal Latihan bersama hari Rabu malam. Kepada saya, si anggota bercerita tentang anaknya yang bermasalah, dan untuk mengatasi masalah itu, ibu si anak, yaitu istri si anggota yang juga anggota Subud, memaksa anaknya untuk masuk Subud, dengan rayuan bahwa masa depan si anak akan lebih baik. Suaminya sendiri tidak menghendaki bila anak mereka masuk Subud karena dipaksa kedua orang tuanya.

Si suami pun meminta pendapat saya. Saya katakan padanya bahwa sebaiknya anaknya jangan dipaksa masuk Subud dan supaya dia menasihati istrinya agar jangan memaksa anak mereka. Masuk Subud itu panggilan jiwa, bukan karena propaganda atau iklan, dan tidak bisa diperlakukan seolah Subud itu produk komersial yang memiliki dampak yang sama bagi semua konsumennya.

“Jadi, menurut Mas Arifin, apa yang seharusnya saya dan nyonya lakukan?” tanya si suami.

Saya sampaikan bahwa yang bisa dia lakukan adalah tetap Latihan, tetap berusaha meluruskan jalan anaknya agar terhindar dari masalah yang lebih parah, serta memohon bimbingan Tuhan. Ada satu yang kurang dalam penjelasan saya, tetapi pada saat itu saya tidak tahu apa yang kurang itu.

Ketika berkata begitu, saya tiba-tiba teringat pada satu keponakan saya yang saat ini tinggal bersama saya di rumah saya di Pondok Cabe. Keponakan ini memiliki gaya hidup dan pola pikir yang, tak dia sadari, sebenarnya merugikan dirinya. Sebagai anak dari keluarga yang berantakan (ayah-ibunya bercerai), keponakan saya itu dibesarkan oleh kedua orang tuanya secara material belaka, tanpa dilengkapi dengan tuntunan mental spiritual maupun intelektual yang memadai. Dia malas, mau enaknya saja, terlalu tergantung pada gawai (dia lebih banyak menghabiskan waktu setiap hari dengan memelototi ponselnya, main game), kurang bertanggung jawab, yang tentunya amat merugikan kami sebagai pemilik rumah dimana ia turut menghuninya.

Tugas yang tidak ringan dibebankan ke saya dan istri ketika keponakan itu memutuskan untuk ikut kami. Saya dan istri menuntut agar dia berubah sikap dan perilakunya, agar tidak merepotkan kami dan juga agar dia memiliki masa depan yang cerah. Tetapi, bukan hal mudah untuk mengubah pola pikir seseorang yang sudah terbentuk sedemikian rupa sejak ia kecil. Saya terus bertanya-tanya, bagaimana saya dapat membantu keponakan ini mengubah pola pikir dan gaya hidupnya. Dan jawaban mengenai pertanyaan saya itu bisa pula menjadi jalan keluar bagi si anggota yang menanyakan pendapat saya perihal pola asuh anaknya.

Obrolan saya dengan anggota itu terputus karena kami dan para anggota yang sudah hadir di Wisma Barata Pamulang lainnya dipanggil untuk Latihan bersama di Rumah Besar (kediaman Bapak Subuh di Pamulang). Karena itu hari Rabu, maka adalah giliran anggota pria yang Latihan di Rumah Besar. Saya memfavoriti posisi di ruang depan tengah, tepat di bawah mezanin dimana kamar tidur dan ruang kerja Bapak berada. Entah mengapa, Latihan saya di situ selalu kuat namun selalu dalam gerak dan suara yang harmonis bagaikan orkestra musik Jawa yang meruyak ke tengah lembah yang sejuk.

Ketika Latihan, saya menerima jelas dan jernih sekali “ucapan” Bapak, sebuah nasihat terkait bagaimana kita bisa mengubah pola pikir dan gaya hidup seseorang. “Bicaralah dengan jiwanya!” Pembicaraan dari jiwa ke jiwa. Barulah saya di situ saya tersadar tentang kekurangan dalam penjelasan saya kepada si anggota yang anaknya bermasalah.

Sayang sekali si anggota dan istrinya sudah pulang ketika saya keluar dari Rumah Besar. Maksud saya, saya mau menyampaikan penerimaan saya tadi: Bicara dengan jiwa. Ah, tidak apalah, saya pikir. Mungkin memang belum waktunya. Dan hanya itu yang dapat saya sampaikan dalam tulisan ini; jiwa saya mencegah saya memaparkan pengalaman praktisnya.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 20 Juli 2023

Wednesday, July 19, 2023

Jurang Pemisah Antar Generasi

DI Subud Indonesia dewasa ini muncul isu terjadinya jurang pemisah (gap) antar generasi yang sudah berlangsung cukup lama. Generasi yang lebih tua merasa prihatin dengan sikap dan perilaku Pemuda Subud (Subud Youth) yang mereka rasa kurang mewakili nilai-nilai susila, budhi, dharma. Generasi yang lebih muda, terlebih yang bergabung dengan Subud dalam kurun waktu lima tahun belakangan ini, merasa bahwa mereka kurang mendapat perhatian, bahwa yang tua-tua merasa lebih hebat sehingga maunya benar sendiri, dan para pembantu pelatih senior tidak tergerak untuk melayani kebutuhan generasi muda.

Saya baru-baru ini tidak sengaja terseret dalam obrolan seorang anggota Pemuda Subud Jakarta Selatan berusia 29 tahun dengan seorang pembantu pelatih senior, seorang berkebangsaan Amerika yang tinggal di kompleks Wisma Subud Cilandak. Si anggota Pemuda rupanya tertarik dengan permasalahan saya, yang menurutnya menjadi solusi atas permasalahan yang sedang ia hadapi.

Ketika saya hendak bercerita, ia permisi untuk pergi dari tempat kami bertemu, karena merasa bahwa saya ingin bicara empat mata saja dengan si pembantu pelatih. Tetapi saya mempersilakan ia untuk turut mendengarkan, karena mungkin ia akan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Ia berpesan agar saya tidak menceritakan masalahnya kepada orang lain di luar lingkaran obrolan kami saat itu. Saya pun berpesan hal yang sama.

Giliran ia menceritakan masalahnya, yang, demi kenyamanan kami bersama, dia lakukan ketika kami telah berada di sebuah kafe di Jl. Cipete Raya, bernama Teh Tarik Aceh, sekitar 2 km dari Wisma Subud Cilandak, saya sempat membatin, “Wah, soal sepele begitu kok menjadi masalah berat bagi dia?”

Tetapi saya segera disentil oleh diri saya sendiri: “Ingatkah kamu ketika kamu berusia 29 tahun? Bukankah kamu saat itu langganan klinik psikiatri?”

Saya tersentak dengan kenangan yang disodorkan oleh jiwa saya itu. Benar, pada tiga bulan pertama tahun 1997 saya dirujuk oleh perusahaan tempat saya bekerja ke psikiater karena saya dipandang menderita depresi berat. Penyebabnya adalah konflik keluarga, antara saya dengan kakak perempuan saya, yang melibatkan berbagai pihak yang mendukung kakak saya dan menekan saya. Pada saat itu, kedua orang tua saya baru meninggal dan saya belum masuk Subud. Anda bisa bayangkan betapa kesepian dan sengsaranya saya.

Dari kacamata saya saat ini, situasi yang menyakiti saya secara psikologis kala itu sebenarnya bisa saya atasi dengan baik, tanpa saya harus menderita depresi dan menjadi pasien klinik psikiatri. Dari kacamata saat ini ya. Tetapi, dari versi diri saya di usia 29 tahun, masalah itu justru terasa amat ekstrem, yang tidak mampu saya hadapi sendiri. Di usia itu saya sudah harus mengonsumsi obat penenang yang diresepkan sang psikiater, yang hanya memberi ketenangan selama 12 jam saja.

Ketika mendapat sentilan dari jiwa saya itu, saya lantas memahami mengapa ada jurang yang cukup lebar di Subud Indonesia, dan di negara-negara lainnya, antara generasi tua dan yang lebih muda. Generasi yang lebih tua, menurut saya, seharusnya menaruh kaki mereka di sepatu anggota Pemuda, menjiwai kehidupan anak muda terutama di era yang penuh tekanan ini.

Menasihati mereka agar Latihan dengan rajin tidaklah cukup; Anda harus benar-benar hadir dalam kehidupan mereka, memandang kehidupan sebagaimana mereka melihatnya melalui mata mereka, dengan tulus mendampingi mereka melalui saat-saat kelam, mendengarkan keluh-kesah maupun harapan-harapan mereka. Beri mereka cinta yang membangunkan kedekatan atau persahabatan.

Pendek kata, jangan merasa, karena lebih tua, lantas Anda selalu benar dan menganggap persoalan Pemuda adalah sesuatu yang sepele saja.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 19 Juli 2023

Saturday, May 27, 2023

Cara Berpakaian Ala Subud

 


TAHUN 2006, ketika gedung S. Widjojo Centre belum dijual, saya sering menghadiri Latihan bersama di situ pada setiap Selasa malam. Pada suatu Selasa, saya datang dua jam sebelum Latihan pria dimulai pada pukul setengah delapan malam. Saya baru pulang kantor dan pakaian saya sangat kasual: setelan kaus lengan pendek berkerah dan celana jeans belel serta kaki saya beralaskan sandal gunung. Di kantor saya, sebuah firma kehumasan, berpakaian kasual merupakan hal biasa, apalagi di departemen kreatifnya, dimana saya saat itu menjadi direktur eksekutifnya.

Di lobi lantai 11 gedung S. Widjojo Centre, dimana para anggota duduk menunggu sebelum Latihan bersama, saya duduk di sebelah Pak Muchtar Siregar, salah satu pembantu pelatih senior yang ditugaskan untuk Kelompok Sudirman (nama resmi kelompok Latihan di S. Widjojo Centre). Beliau memandangi saya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu berkomentar, “Anda tahu? Bapak itu gaya berpakaiannya sangat rapi dan sempurna.”

Menyadari bahwa Pak Muchtar sedang menyindir penampilan saya, saya pun menjawab, “Saya perlu berpakaian seperti ini karena membuat saya merasa bebas, Pak. Kebebasan membuat kreativitas saya berkembang.”

Pak Muchtar menampik kebenaran dari alasan saya, “Ah, kalau orang yang sudah menerima Latihan tidak akan terbatas kreativitasnya. Dia tidak diatur kebebasannya oleh pakaian yang dia kenakan.”

Saya diam saja saat itu, hanya menjawab dengan senyuman. Tapi saya merenungkan mengapa begitu banyak pekerja kreatif percaya bahwa pakaian dan aksesori yang mereka kenakan dapat mempengaruhi kreativitas mereka.

Dalam perjalanan waktu, ketika Latihan makin aktif “mengolah” diri saya, saya menjadi yakin akan kebenaran kata-kata yang diucapkan Pak Muchtar itu. Latihan juga membantu menata kerapian berbusana saya, terutama ketika bertemu dengan klien atau menghadiri acara-acara resmi (yang dihindari banyak rekan saya di dunia kreatif periklanan, karena menolak jika harus berpakaian formal). Dan walaupun saya tidak meninggalkan kesukaan saya berpakaian yang kasual, Latihan akan membimbing saya dalam memilih baju dan celana apa yang harus saya kenakan pada satu hari tertentu.

Tetapi yang paling penting buat saya adalah kenyataan bahwa Latihan yang semakin kuat dan dalam seiring waktu akan membuat kita terlihat memiliki karisma di mata orang lain, yang mengalahkan jenis dan gaya pakaian yang kita kenakan.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 28 Mei 2023


Thursday, May 11, 2023

Atribut Luar Diri

 “Jangan biarkan egomu terlalu dekat dengan posisimu, sehingga jika posisimu dijatuhkan, egomu tidak ikut-ikutan.”

~Colin Powell


BARU-baru ini, satu yunior saya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra/FS (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB) Universitas Indonesia (UI) mengirimkan via WhatsApp screenshot postingan dan komentar-komentar atasnya di sebuah grup Facebook, yang mengolok-olok para alumni Universitas Indonesia terkait suatu kasus plagiasi atau peniruan karya orang lain tanpa izinnya. Almamater kami diserang habis-habisan oleh sejumlah orang yang bukan alumni UI.

“Sudah tidak terkontrol,” tulis yunior saya di pesan WhatsApp-nya, mengiringi screenshot tersebut.

Ngotori diri aja mbaca yang gitu-gitu,” jawab saya. “Nggak usah tersinggung kalau almamater kita dijelek-jelekin. Almamater, pekerjaan, profesi, komunitas, gelar, pangkat, keahlian, dan lain-lain, di Titik Nol sudah nggak bersisa.”

Kita ini kan bukan pekerjaan kita, bukan gelar sarjana yang kita sandang, bukan pangkat yang terpasang di kedua bahu kita, bukan profesi kita. Semua itu bukan identitas kita, bukan jati diri kita. Semua itu didapat ketika kita terlahir di dunia, tumbuh dewasa dan memerlukan semua itu untuk hal-hal yang sejatinya hanya kita lakukan tidak sepenuh waktu kita. 

Sejak kecil, kita sering dibingkai untuk menjalani kehidupan dengan sasaran-sasaran tertentu pada setiap periode, mulai dari taman kanak-kanak, pendidikan dasar dan menengah, perguruan tinggi, lulus lalu bekerja, menikah, punya anak, membangun keluarga, membangun karir, lalu pensiun dan menanti tiba waktunya untuk “pulang”.

Karena budaya sudah sedemikian rupa menanamkan sasaran-sasaran seperti itu, akhirnya kita menjadi melekat pada atribut-atribut “luar diri” itu. Melekatnya demikian ketat, bahkan berjumbuh dengan diri kita, larut dalam kepribadian kita, membuat kita tersakiti bila atribut-atribut itu dilecehkan orang lain.

Tidak ada yang salah dengan melekatkan dengan erat diri kita dengan apa pun yang berada di luar diri. Tetapi, kalau kita biarkan, hal itu dapat membuat kita mengalami kondisi “keterikatan”, yang memburamkan batas antara kepribadian kita dan unsur-unsur dari luar itu. Ketika unsur-unsur luar yang melekat pada diri kita itu dianggap buruk atau direndahkan, ada potensi kita mengalami tekanan atau stres karena merasa makna atau nilai diri kita diinjak-injak atau hilang.

Kecenderungan yang sudah sangat umum inilah yang menjelaskan mengapa banyak orang ketika mereka pensiun akan mengalami depresi. Hal itu disebabkan karena kebanyak orang sudah kelewat lama melekat (attached) pada pekerjaan atau jabatan mereka, yang membuat mereka tidak punya kehidupan lain atau keterampilan lain di luar dunia pekerjaannya.

Bagaimana mengatasi kemelekatan tersebut? Kalau saya pribadi, saya kikis habis dengan keinsafan bahwa saya bukanlah pekerjaan, profesi, almamater, gelar sarjana, dan lain-lain yang sejatinya bukan bagian dari kepribadian saya. Dengan keinsafan ini juga saya jadi mampu melakukan banyak hal yang melampaui batas-batas yang sebelumnya saya persepsikan saya memilikinya—padahal tidak.©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 11 Mei 2023