Friday, February 10, 2023

From Empire to “Emperan”



FOR us members of Subud Indonesia, a national congress is a moment that goes beyond mere organizational matters. Indeed, the national congress is considered essential, because it is in this event that the work programs of the national committee and the national helpers dewan are put together, up to the appointment of new regional helpers and new chairpersons of wing bodies who will replace those who have completed their tenure.

The majority of members, however, who deliberately paid a lot of money to be able to attend a congress, treated it a place to stay in touch, to gather to share their longing to meet their distant brothers and sisters. Oddly called “penggembira” (cheerers) by the organizing committee (OC), the term actually refers to “those who come just to have fun with each other, regardless of the true purpose of the event”.

Cheerers usually pay for the cheapest registration package—at the 30th National Congress in Surabaya, East Java, 3 to 5 February 2023, the package was called the Festival Package, with each participant paying 300,000 IDR for three days and only got a name-tag!

Cheerers are usually just excited to attend the opening ceremony. Before the pandemic, Ibu Rahayu was usually present at the opening ceremony, because the congress was held on or close to the birthday of PPK Subud Indonesia, where Ibu would cut the yellow cone-shaped rice and give a little speech.

Reportedly due to Ibu Rahayu’s absence, the number of participants was somewhat reduced. But the enthusiasm remained high, because it was the first time members in large numbers could gather since social restrictions had been greatly relaxed.

This year’s Subud Indonesia National Congress was quite disappointing, especially due to poor coordination among the OC members had cost a number of participants who paid in advance to get rooms in the three hotels provided. The organizing of committee’s, helpers’, and wing bodies’ meetings too was hampered by the committee’s performance which was seen as violating the bylaws of PPK Subud Indonesia.

However, the participants’ anxieties were greatly relieved by what arose outside the congress venue. A joke spread among the participants, that while the official congress was held at a four-star hotel in downtown Surabaya, called the Grand Empire Palace Hotel, the “true congress” was actually held at the “Grand Emperan”. “Emperan” is an Indonesian word for “sidewalk” or “porch”.

Hanging out in coffee shops or street food stalls, sitting cross-legged on mats on the ground or on long wooden benches, members from many parts of the country joined in for the informal, laid-back, boisterous atmosphere—a mix of two-way talks on experiences with the Latihan, chatter filled with jokes followed by bursts of laughter, and sing songs spoofed on Subud themes.

Those moments at the Grand Emperan gave congress participants a distinct and unforgettable impression, which instilled in most of them the belief that this is how the Subud brother- and sisterhood should be.©2023


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 10 Februari 2023




 

Monday, January 30, 2023

Keajaiban Mengirim Rokok

 


ADA pengalaman lucu terkait yang tampak dalam foto di atas. Kisah nyata pada 6 Oktober 2015. Saya dimintai tolong oleh pembantu pelatih Subud Florida, Amerika Serikat, bernama Ruslan, untuk membeli dan mengirim 24 slop rokok Djarum Super 16 ke Malawi di Afrika Tengah, karena dia akan ke sana selama empat bulan. Di Malawi, Ruslan sudah membuka 30 orang (kini, kabarnya, sudah berkembang jadi hampir 100 anggota).

Dengan santai saya pun mengunjungi tiga toko kelontong berbeda sampai terkumpul 24 slop rokok Djarum Super 16. Dengan uang yang dikirim Ruslan via Western Union. Dengan santai pula saya bawa slop-slop rokok tersebut  yang sudah saya kemas dalam kardus, ke kantor DHL di Pasarminggu, jam 11 malam.

Melihat kardus yang saya serahkan, petugasnya bertanya, “Apa isinya?” Saya menjawab, tanpa ragu, “Duapuluh empat slop rokok, Pak.”

Dia kemas ulang isi kardus itu ke kemasan DHL. Saya bayar Rp6.787.000 untuk ongkosnya. Lima hari kemudian, Ruslan memberitahu saya via FB Chat, bahwa kiriman saya sudah sampai Malawi.

Tahun 2016, kembali Ruslan minta tolong saya untuk hal yang sama, tapi kali ini hanya 18 slop. Karena saya sibuk, saya minta satu saudara Subud Jakarta Selatan, bernama Palta, untuk membantu Ruslan. Ajaibnya, DHL malah menolak pengiriman 18 slop tersebut, karena peraturan yang melarang pengiriman rokok ke luar negeri melebihi batas maksimal satu setengah slop. Kata petugasnya, peraturan itu telah diberlakukan sejak 2013.

Palta bilang ke petugas DHL-nya bahwa saya pernah mengirim 24 slop tahun 2015 dan bisa. Si petugas tidak percaya dan minta Palta untuk menunjukkan waybill (resi, dalam foto tersebut di atas) pengiriman 24 slop tersebut. Palta me-WhatsApp saya, meminta saya memfoto waybill tersebut dan kuitansi pembayarannya dan kirim ke dia via WhatsApp.

Si petugas garuk-garuk kepala, bingung sekaligus kaget, karena yang tertanda pada kuitansi 6 Oktober 2015 itu adalah namanya!

Palta melaporkannya ke Ruslan, dan Ruslan berkata ke saya via FB Chat: “Anto, saya kira kamulah yang seharusnya mengirim rokok itu. Kekuatan spiritual kamu telah mencapai level itu. Palta belum sampai!”©2023

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 31 Januari 2023


Monday, January 2, 2023

Arifin Dwi Slamet’s Quotes 2022

“Di saat aku berhenti beragama, saat itulah aku berspiritual

Di jalan spiritual justru kutemukan mutiara-mutiara agama yang berkilauan

yang terpendam pasir ajaran

dan ritual tanpa roh

selama berabad-abad peradaban”

(Arifin Dwi Slamet, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 30 Januari 2022)

“The best managers translate ideas into action. The best translators manage action into ideas.” (Arifin Dwi Slamet, 25 Maret 2022)

“I ceased to attend professional workshops and seminars after realizing what I had learned was never going to work in real life. We can’t predict how life will turn out. That’s the beauty.” (Arifin Dwi Slamet, 29 Maret 2022)

“Apa bedanya wisata religi dan wisata spiritual? Wisata religi adalah perjalanan ke tempat-tempat yang memberi perasaan akan kedekatan dengan yang ilahi, yang membutuhkan sarana dan prasarana. Wisata spiritual adalah perjalanan ke dalam diri, tidak perlu sarana apa pun, dan tidak ke mana-mana secara lahiriah. A journey within is a journey without.” (Arifin Dwi Slamet, 9 April 2022)

“Tuhan memberi manusia potensi tak terbatas, tetapi manusia berusaha maju dalam usahanya dengan mengandalkan bakatnya yang terbatas.” (Arifin Dwi Slamet, 20 April 2022)

“Jiwa yang terbelenggu melahirkan pikiran yang sempit.” (Arifin Dwi Slamet, 21 April 2022)

“Proses hidup kita berkelanjutan. Di setiap tahap, kita diberi 'kabar gembira' tapi itu bukan akhir perjalanannya. Sukses adalah SUKa berproSES. Yang berhenti berproses akan kalah dan mati." (Arifin Dwi Slamet, 23 April 2022)

“Kenyataan itu akan diperkuat oleh keberanian dan kesabaran, tawakal dan keikhlasan saudara-saudara sekalian. Saudara tidak perlu takut-takut karena Latihan itu adalah bimbingan dari kekuasaan Tuhan, asal saudara melakukan sesuatu yang benar, yang tidak menyalahi keadaan yang sebenarnya. Ya, dalam tindakan saudara, saudara tidak akan sepi daripada penuturan dan bimbingan.” (Muhammad Subuh, Cilandak, Indonesia, 26 Mei 1987 – 87 CDK 5)

“Perubahan yang bertumbuh bermula dari menjadi diri sendiri.” (Arifin Dwi Slamet, 25 April 2022)

“Banyak orang mengira mudik hanya pulang ke kampung, sehingga yang merasa tidak punya kampung jadi tidak (perlu) mudik. Padahal mudik yang paling utama adalah kembali ke asal, dengan melakukan perjalanan ke dalam diri, berkoneksi dengan jiwa. Selamat Hardiknas (Hari Mudik Nasional).” (Arifin Dwi Slamet, 2 Mei 2022/1 Syawal 1443 H.)

“’Kebenaran’ adalah ‘kebetulan’ yang terjadi berulang-ulang.” (Arifin Dwi Slamet, 16 Mei 2022)

“Sedetik yang lalu adalah masa lalu. Sedetik ke depan adalah masa depan.” (Arifin Dwi Slamet, 25 Mei 2022)

“Make a great picture or write so great that people will get the picture.” (Arifin Dwi Slamet, 24 Juni 2022)

“Teori adalah hiburan untuk pikiran.” (Arifin Dwi Slamet, 22 Juli 2022)

“To understand that everything is there not always for a reason makes life a lot easier.” (Arifin Dwi Slamet, 22 Juli 2022)

“Hidup tidak ada ilmunya. Untuk sintas dalam hidup, karena itu, gunakan ‘seni untuk hidup’.” (Arifin Dwi Slamet, 29 Juli 2022)

“Menjadi diri sendiri itu harus siap dijauhi, dimusuhi, atau dianggap aneh/gila. Tapi menjadi diri sendiri itu menenteramkan, membuat terasa dekat dengan Yang Maha.” (Arifin Dwi Slamet, 30 Desember 2022)

“Keajaiban dengan menjadi diri sendiri adalah bahwa kita nyaman berada di mana pun, dalam keadaan apa pun.” (Arifin Dwi Slamet, 30 Desember 2022)



Thursday, December 29, 2022

My Place of Rebirth: the Venue for the 30th Subud Indonesia National Congress, 3-5 February 2023

THE 30th Subud Indonesia National Congress will be held from 3 to 5 February 2023 in my “place of rebirth”, i.e. Surabaya. I have always considered my opening in Subud as my rebirth. And I was opened at the Subud branch in the second largest city in Indonesia. Even though it has been more than 18 years that I have been regularly doing Latihan at the Cilandak Hall which is the place for regular group Latihans of the South Jakarta branch, I am administratively still listed as a member of the Surabaya Subud branch.

I am actually a resident of Jakarta, the capital of the Republic of Indonesia; the first issuance of my ID card has confirmed that I was born and raised in Jakarta. I moved to Surabaya after marrying a woman from the provincial capital of East Java, to live and continued my career there. There, too, I found Subud.

I love Surabaya, an egalitarian city, with a long history as a port city since the days of the archipelagic kingdoms which later, during the Dutch colonial period (1799-1942), developed into a naval base as well as a center for the maritime industry.

Surabaya in 1945 became the world’s attention when on November 10 of that year a terrible battle broke out between Indonesian guerrilla fighters against British troops who were accompanied by Dutch civil administration officials who were trying to re-colonize Indonesia. The guerilla fighters armed with makeshift weapons, not infrequently in the form of sharp bamboo sticks and samurai swords left by the Japanese military that previously occupied Indonesia, fought against the heavily armed British troops (the majority consisted of Indian soldiers who were members of two Indian infantry divisions) which had just been forged by battles during the Second World War, backed by naval and air bombardments.

The battle of 10 November 1945 devastated Surabaya and the fact that many fighters died in defending it gave this city a special nickname: “City of Heroes”. And 10 November is annually commemorated by the Indonesian people as Hero’s Day.

The name Surabaya itself is said to have come from the Old Javanese phrase “sura ing bhaya”, or “dare to face danger”, which is symbolized by the profile of a shark fighting against a crocodile. A coat of arms that existed long before 1945, representing Majapahit, which was one of the largest thalassocratic empires ever to exist in the Indonesian Archipelago.

The spirit of “dare to face danger” (or “to be brave in challenging circumstances”) makes the native of Surabaya, known as Arek Surabaya (literally “child of Surabaya”), tend to be tough, outspoken, egalitarian, and not easily give up in trying to achieve goals. However, the Javanese culture inherited from Arek Surabaya’s ancestors also made the people of Surabaya friendly towards people coming from other regions or countries. These typical characteristics are also found among the members of Subud Surabaya.

As a city which economy is supported by manufacturing-based industries and product and service trading activities, Surabaya has an infrastructure like Jakarta: complete and modern, and connected to the world. Apart from the Juanda international airport which serves domestic and international flights, the Tanjung Perak port in Northern Surabaya is the second busiest seaport in Indonesia. Railway lines in the north and south of Java connect Jakarta with Surabaya, which are served by a number of Economy to Executive class train trips. Gubeng Station, one of the two major stations in the city, even provides trains for those who wish to continue their trip to the eastern tip of Java Island, where they can cross to Bali by ferry.

The Wisma Subud of Surabaya is located in Eastern Surabaya. The building was dedicated by Bapak on June 25, 1978. But Subud had made history of its existence in Surabaya long before that. Historically, Surabaya has also been a part of Bapak’s history; it was told in one of Bapak’s talks that Bapak once lived in a boarding house in Tembok, a village located not far from the venue for the upcoming 30th Subud Indonesia National Congress.

Surabaya is indeed a city full of historical events and artifacts. A sociologist from the city’s state Airlangga University once said that Surabaya is a giant open-air museum. Being Subud Indonesia’s first grand event since the pandemic and serving as a prelude to the World Congress in Kalimantan in 2024, it is hoped that the upcoming National Congress will also become a historic event for Subud as a whole.©2022

 

Pondok Cabe, South Tangerang, 30 December 2022


Coat of arms of Soerabaia (old spelling of Surabaya) during the Dutch colonial era, granted in 1931.


Western Surabaya at dusk (late 2015).

The Heroes Monument in downtown Surabaya. Erected in memory of the Battle of Surabaya in 10 November 1945.



The Latihan Hall of Wisma Subud Surabaya at Jalan Manyar Rejo 18-22, Eastern Surabaya.


The Blauran-Embong Malang area of Surabaya. The big white building in center is the Grand Empire Palace Hotel where the 30th Subud Indonesia National Congress will take place.



Sunday, November 27, 2022

Harmony Starts with Acceptance

IN Subud, people with different temperaments and behaviors can come together in harmony. One complements the other. That is what always amazed me. I was recently asked by one of my clients, who is not in Subud and often sees photos of my activities in Subud on my Facebook timeline, “What made you guys so close and harmonious, even though your backgrounds are different from each other?”

He compared Subud members to himself; because he likes cycling, he joined the bicycle community. To discuss the dynamics of his work, he gets together with his co-workers. To reminisce about his college days, he will attend his campus reunion. He just found out that people from different backgrounds and likes can unite in such a way in Subud. “What unites you all? How can that be?!”

I answered him, that I myself also questioned it, driven by my fascination with it. But that is what makes Subud so special to me.

Especially in Subud Indonesia, feuds or conflicts have never discouraged us from the harmony between us. We may not greet each other at gatherings, or we don’t like each other, but still, in a sense, there is a feeling of affection for each other—a feeling that each gets but often doesn’t understand why this can happen.

Perhaps the secret to creating lasting harmony is our willingness to surrender, let go and let God. In Subud, I witnessed how attempts to force harmony ended in disappointment. Harmony actually exists when everyone is given the freedom to be him or herself, while we accept whatever our brother’s or sister’s situation is with patience, trust and sincerity.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, November 28, 2022 

Thursday, November 24, 2022

The Chosen Ones

A longtime Subud brother recently shared his thoughts with a new member of the South Jakarta group, in front of me, on the east terrace of the Cilandak Latihan Hall. As usual, new members are euphoric and feel that everyone should be in Subud.

This longtime member said:People who join Subud are chosen ones. Those who are interested in Subud may not want to apply. Those who are in the waiting period may not want to be opened. Once opened, they may not want to continue to do the Latihan. Those who do the Latihan may not be ready to accept reality. Those who get reality may not want to believe in it, so they don't want to follow it.

“Why do things like this happen? If you believe that God wills or that God exists, you don't need to question it. Even if you don't believe in God, why waste your time thinking about why people want to join or not join Subud? Here, in Subud, reason is over!” ©2022


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, November 25, 2022 

Wednesday, November 9, 2022

Ras Perang Dari Pegunungan Nepal

Tentara Gurkha dari Satuan Tugas Helmand, Brigade Mekanis ke-4 Inggris, dalam misi International Security Assistance Force (ISAF) di Afghanistan tahun 2010.

SEJAK di bangku sekolah dasar, saya sudah diperkenalkan pada suatu peristiwa bersejarah di Nusantara, yang meskipun kejadiannya dua bulan setelah berakhirnya Perang Dunia II di Pasifik tetapi tetap tercantum dalam buku sejarah Perang Dunia Kedua.

Peristiwa itu dikenal sebagai Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Pertempuran hebat antara pasukan Sekutu melawan para pejuang Indonesia itu sebenarnya berlangsung sejak 27 Oktober hingga 20 November 1945, tetapi 10 November menandai jatuh tempo ultimatum panglima Allied Forces in the Netherlands East Indies (AFNEI) atau Pasukan Sekutu di Hindia Belanda, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh, yaitu 10 November 1945, pukul enam pagi, sehingga tanggal itulah yang ditetapkan sebagai Hari Pahlawan yang diperingati bangsa Indonesia hingga kini.                                

Sejak SD hingga saya kuliah di Jurusan Sejarah FSUI dan mengambil spesialisasi sejarah militer, saya tidak begitu peduli pada Pertempuran Surabaya, dan “menerima begitu saja” informasi bahwa pertempurannya melibatkan kekuatan militer Inggris yang diboncengi Belanda, yang ingin kembali berkuasa di Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, barulah saya menyadari sesuatu yang berbeda: Yang disebut “pasukan Inggris” ternyata adalah dua divisi infanteri dan satu brigade infanteri independen (berdiri sendiri) yang ditugaskan pada salah satu dari kedua divisi tersebut, yang bermarka “Indian”, alias unit yang mayoritas prajuritnya berasal dari India dan anak benua India (pada saat itu mencakup  Bhutan, Nepal, dan Pakistan), serta dibentuk pertama kalinya di negara yang kala itu bernama British Raj atau India Inggris. Para prajuritnya juga berasal dari berbagai budaya dan agama—ada yang Hindu, Buddha, Sikh, Kristen maupun Islam.

Unit-unit tempur dari Angkatan Darat Inggris itu memang dipimpin para perwira berkebangsaan Inggris, persis resimen-resimen kulit berwarna (colored troops) dalam Perang Saudara Amerika 1861-1865 yang semua perwiranya adalah kaum berkulit putih. Dari tingkat bintara (non-commissioned officer) hingga tamtama (enlisted) adalah orang-orang berkebangsaan India dan anak benua India yang beragama Hindu, Buddha, Sikh dan Islam.

Divisi Infanteri India ke-23 yang bertempur di Surabaya, contohnya, mayoritas beranggotakan prajurit beragama Hindu dan Islam, sehingga lencana unitnya berupa gambar siluet ayam jago berwarna merah di atas dasar kuning berbentuk lingkaran. Kabarnya, pemilihan ayam jago sebagai lencana unit itu karena panglima pertamanya, Mayor Jenderal Reginald Savory, merasa hal itu tidak menyinggung anak buahnya yang beragama Islam maupun Hindu.

Dalam Pertempuran Surabaya, kabarnya juga ada beberapa prajurit India yang muslim membelot ke para pejuang Republik, karena diajak para pejuang atas perintah Sukarno, yang mendengar laporan tentang terdengarnya seruan allahuakbar dari pihak pasukan Inggris yang datang menyerbu kota Surabaya. Kalaupun kabar itu benar, pastilah mereka itu prajurit India yang berasal dari daratan India dan negara-negara tetangganya yang berpenduduk mayoritas muslim. Tidak mungkin berasal dari Nepal yang berpenduduk kaum Gorkhali atau Gurkha yang beragama Hindu.

Inggris mengerahkan dua divisi infanteri India ke Surabaya, yaitu Divisi Infanteri India ke-23 dan ke-5. Di dalam senarai tempur (order of battle) dari Divisi Infanteri India ke-23 di palagan Surabaya terdapat Brigade Infanteri India ke-37 yang menaungi tiga batalion Gurkha Rifles, sedangkan dalam senarai tempur dari Brigade Infanteri India ke-49 (independen) yang sedang di-BKO (bawah kendali operasi) pada Divisi ke-23 ada dua resimen asal Nepal, yaitu Resimen Kalibahadur dan Resimen Shere. Tak perlu dijelaskan lagi, kedua resimen asal Nepal itu pastilah beranggotakan prajurit Gurkha dan Gurkha India. Dalam Divisi Infanteri India ke-5 pun terdapat dua batalion Gurkha Rifles.

Pada pendaratan tanggal 6 November 1945 itulah kali pertama pasukan Gurkha menginjakkan kaki di Surabaya. Kedatangan mereka disokong oleh artileri berat maupun bantuan tembakan kapal di lepas pantai Surabaya, serta mendapat perlindungan dari pesawat-pesawat tempur Inggris, sehingga laju pertempuran pada bulan November menjadi berbeda dengan Pertempuran Tiga Hari pada 28 hingga 30 Oktober 1945.

Gurkha adalah sebutan buat orang-orang asli Nepal, sedangkan Gurkha India adalah masyarakat yang berasal dari bagian timur lautnya India yang berbahasa Nepali—berwarganegara India tetapi berakar pada budaya Nepal.

Saya menemukan banyak artikel terkait Pertempuran Surabaya yang keliru dalam bahasan mereka mengenai Gurkha. Para penulis artikel itu menyamakan tentara Gurkha dengan tentara India biasa atau bahwa semua prajurit India yang bertempur di Surabaya pada Oktober-November 1945 adalah orang Gurkha. Yang menggelikan adalah artikel-artikel yang menyebut tentara Gurkha meneriakkan “allahuakbar” atau berhenti bertempur karena mereka mendengar para pejuang Indonesia menyerukan kebesaran Allah. Ya, menggelikanlah; apakah para penulisnya tidak tahu bahwa suku Gurkha di Nepal dan Gurkha India beragama Hindu?

Lebih konyol lagi yang menyebutkan bahwa presiden Pakistan yang tewas dalam kecelakaan pesawat pada 17 Agustus 1988, Zia ul Haq, merupakan komandan Gurkha yang ikut bertempur di Surabaya tahun 1945. Entah dari mana sumber informasi itu, tetapi hal itu jelas tidak mungkin, mengingat Zia ul Haq terlahir dalam keluarga muslim yang taat di Punjab, suatu daerah geopolitik, kebudayaan, dan historis di Asia Selatan, khususnya di bagian utara anak benua India, yang terdiri dari wilayah Pakistan timur dan India utara. Kemungkinan besar, Zia adalah anggota Resimen Punjab ke-2 yang dibentuk pada 1761 sebagai bagian dari Angkatan Darat Inggris.

Pasukan Gurkha bagi Inggris adalah seperti Legiun Asing bagi Prancis. Meskipun Gurkha memenuhi kriteria Konvensi Jenewa untuk dianggap sebagai tentara bayaran (mercenary), tetapi, sama seperti rekannya dari Prancis, Gurkha dikecualikan dari ayat (e) dan (f) dari pasal 47 Protokol I Konvensi Jenewa yang bertajuk “Mercenary”. Ayat (e) berbunyi “Tentara bayaran bukanlah anggota angkatan bersenjata dari Pihak yang sedang berperang”, sedangkan ayat (f) “Tentara bayaran tidak dikirim oleh Negara yang bukan merupakan Pihak yang berperang dalam suatu tugas resmi sebagai anggota angkatan bersenjata.”

Unit-unit Gurkha terdiri dari orang-orang Gurkha Nepal dan India. Sejumlah 96.000 orang Gurkha direkrut untuk Angkatan Darat Nepal, 42.000 untuk AD India, 4.010 untuk AD Inggris, dan sisanya tersebar di Kontingen Gurkha Singapura, Unit Cadangan Gurkha Brunei, pasukan perdamaian PBB dan di berbagai zona perang di seluruh dunia.

Tentara Gurkha identik dengan pisau berbilah melengkung mereka yang disebut “khukuri” atau “kukri”, Pisau ini menjadi ciri khas dari Angkatan Darat Nepal dan Resimen Gurkha di seluruh dunia. Prajurit Gurkha juga bereputasi sebagai serdadu yang hebat dalam bertempur serta berani mati. Di kalangan tentara India terkenal ungkapan, “Jika ada yang bilang bahwa dirinya tidak takut mati, pasti dia bohong atau dia Gurkha.

Asal-usul keberadaan tentara Gurkha adalah ketika Inggris mulai bersentuhan dengan sebuah kekuatan yang unik dan kuat di perbatasan utara wilayah yang baru dimenangkan Inggris di Benggala (kini, Benggala Timur masuk Bangladesh, sementara Benggala Barat, Tripura, Assam, dan Jharkhand masuk wilayah India) dan Bihar (India) pada tahun 1767. Kekuatan ini adalah negara-kota Gorkha yang dipimpin oleh raja Prithwi Narayan Shah, dan saat itu merupakan sebuah desa di bukit yang sekarang menjadi Nepal barat, dari mana nama Gurkha berasal. Raja Prithwi dan penerusnya tumbuh begitu kuat sehingga mereka dapat menguasai seluruh wilayah pegunungan Kashmir di barat hingga Bhutan di timur.

Batalion Nusseree pada tahun 1857. Mereka kelak dikenal sebagai 
Resimen Gurkha Rifles ke-1.

Sebagai akibat dari sengketa perbatasan dan serangan berulang-ulang oleh Gurkha ke wilayah yang dikuasai Inggris, Gubernur Jenderal India menyatakan perang terhadap Nepal pada tahun 1814, yang berakhir pada tahun 1816 dengan perjanjian damai yang disebut Perjanjian Sugauli. Pasca penandatanganan perjanjian damai tersebut, Gurkha melayani Perusahaan Hindia Timur Inggris sebagai prajurit kontrak dalam Perang Pindari (Perang Anglo-Maratha) tahun 1817, Perang Burma-Inggris Pertama tahun 1826, Perang Anglo-Burma Pertama dan Kedua pada 1846 dan 1848.


Para pejabat Inggris di abad ke-19 menyatakan Gurkha sebagai “Martial Race” (Ras Perang), yang menggambarkan orang-orang Gurkha sebagai kaum yang “suka berperang dan agresif dalam pertempuran”. Hebatnya, satu orang serdadu Gurkha mampu menghabisi lawan dalam jumlah yang lebih banyak.

Seperti yang terjadi pada 23 Juni 1943, ketika Inggris bertempur melawan Jepang di Burma dalam Perang Dunia Kedua. Satu prajurit Gurkha, yang tersisa dari unitnya yang sudah tewas atau terluka setelah diserang Jepang di dekat jembatan kereta api, menggunakan pistol yang ia tembakkan sambil berlari melintasi medan yang terbuka dan berlumpur. Dia merampas dua senapan mesin dan sejumlah besar amunisi dari tiga tentara Jepang yang ia bunuh.

Hal ini mengingatkan saya pada pertempuran antara pasukan Legiun Asing Prancis dan Meksiko pada 30 April 1863, yang dalam sejarah disebut sebagai Pertempuran Camarón. Berkekuatan hanya 65 prajurit, pasukan Legiun Asing yang sedang berpatroli itu diserang dan dikepung oleh 3.300 pasukan infanteri dan kavaleri Meksiko. Setelah bertempur selama sepuluh jam, tersisa lima prajurit Legiun Asing, sedangkan Meksiko kehilangan 300 prajuritnya dan menanggung 500 prajurit yang terluka. Bagaimanapun, peristiwa ini menunjukkan betapa mengerikannya para pejuang yang tergabung dalam Legiun Asing dan sejenisnya, seperti tentara Gurkha.©2022

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 10 November 2022