Friday, February 7, 2014

Tiada Hutan, Tiada Masa Depan!

Saya bersama Yakobus, warga Kampung Aurina II, Distrik Airu, Kabupaten Jayapura, Papua, di tengah hutan hujan Mamberamo. Perhatikan perlengkapan berburu di tangan Yakobus yang masih primitif.
DESEMBER 2008, saya mendapat pengalaman yang kelak saya disadarkan akan keunikannya. Pada awal bulan itu, saya mendapat penugasan ke daerah di KalimantanTimur yang dekat dengan perbatasan RI-Malaysia, untuk syuting profil video sebuah perusahaan kontraktor pertambangan. Tiga hari saya bersama tim berada di pedalaman, di tengah hutan yang di beberapa titiknya muncul penambangan batubara terbuka (open pit coal mining) dan perkebunan sawit.

Baru pertama kali itu saya benar-benar menyaksikan dengan mata kepala sendiri yang namanya hutan hujan (rainforest). Dan di tengah hutan itu saya merayakan ulang tahun saya yang ke-41 keesokan harinya. Klien saya secara khusus menggelar pesta untuk saya pada malam harinya, setelah sorenya mereka memberi saya kado spesial: Peledakan sebuah bukit yang mengandung batubara. Ketika saya membagi pengalaman ini di akun Facebook saya, banyak teman yang menyatakan iri—merayakan ulang tahun di tengah hutan merupakan sesuatu yang ternyata diimpikan banyak orang!

Tetapi saya saat itu tidak menyadari di mana letak keistimewaannya. Saya bukan pecinta lingkungan dan tidak menaruh perhatian yang serius pada kelestarian lingkungan hidup pada saat itu. Bila saat itu saya memiliki kepedulian terhadap lingkungan, tentu penambangan terbuka dan peledakan bukit yang saya ceritakan di atas akan membuat hati saya pilu.

Pada bulan Desember 2009, saya mendapat undangan dari Bupati Jayapura, Papua, untuk bersama beliau dan jajarannya serta wartawan dari berbagai media lokal dan nasional mengunjungi distrik paling terpencil dari Kabupaten Jayapura, yaitu Distrik Airu, yang hanya dapat dicapai dengan berperahu motor selama delapan hingga sepuluh jam menyusuri Sungai Nawa. Sungai Nawa merupakan daerah aliran sungai dari sungai terlebar dan terbesar dalam volume air di Indonesia, yaitu Mamberamo.

Perjalanan panjang dengan perahu bermotor yang panjang namun sempit—selebar badan saya—itu melewati kawasan lembah Mamberamo yang merupakan rumah bagi hutan hujan yang sangat luas dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Di tempat itulah pertama kali saya menyaksikan secara langsung burung kakaktua dan elang botak, rusa bertanduk (antler) dan babi hutan di habitat aslinya, dan bukan di kebun binatang.

Pengalaman di Mamberamo ini membuka pintu kesadaran saya akan pentingnya hutan, dan bahwa masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh kelestarian hutannya. Kesadaran itu membuat saya mengerti mengapa perayaan ulang tahun saya di tengah hutan Kalimantan Timur menimbulkan iri dari teman-teman saya; ternyata karena hutan itu memang istimewa. Selain sudah tergolong langka di dunia, hutan hujan itu menyediakan apa saja yang dibutuhkan manusia untuk hidup. Hutan hujan bahkan dijuluki “pabrik farmasi terbesar di dunia”, karena lebih dari seperempat obat-obatan alami ditemukan di situ.

Rasanya tidak berlebihan bila saya menyebut hutan itu masa depan kita. Tiada hutan, tiada masa depan! Saya memperoleh wawasan yang kian mendalam dan luas tentang manfaat hutan bagi kehidupan manusia setelah dua tahun belakangan ini terlibat sebagai penulis buku tentang perusahaan-perusahaan peraih PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup) Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Hutan itu sarat daun hijau yang memproduksi klorofil atau zat hijau daun. Klorofil itu mengandung nutrisi-nutrisi yang membantu meningkatkan jumlah dan kualitas sel darah merah dalam tubuh, sehingga meningkatkan sirkulasi dan produksi energi yang lebih banyak. Selain itu, kandungan magnesium dalam klorofil membantu mengangkut oksigen ke semua sel dan jaringan dalam tubuh kita, dan juga merangsang sel-sel darah merah, yang meningkatkan pasokan oksigen. Entah apa jadinya kelangsungan hidup makhluk di bumi ini bila hutan hujan terpangkas habis.

Membayangkan bumi ini berkurang koleksi hutan hujannya sungguh mencemaskan saya. Terbayang masa depan, paling tidak, bangsa Indonesia tenggelam dalam wabah penyakit mematikan yang ditimbulkan oleh kekurangan klorofil. Harapan saya mulai beroleh dayanya kembali setelah menyaksikan—lewat pekerjaan saya menulis buku tentang perusahaan-perusahaan peraih PROPER Emasantara lain, upaya-upaya dunia korporasi dalam perlindungan keanekaragaman hayati. Berbagai upaya yang ditempuh Greenpeace South East Asia (GPSEA) juga mengembalikan nyawa harapan saya.

Program Protect Paradise dari GPSEA, yang bermisi perlindungan dan pelestarian hutan dan lahan gambut di Indonesia, memiliki potensi untuk membuat keanekaragaman hayati di negeri ini tumbuh secara alami dan berkelanjutan. Dengan demikian, akan tumbuh harapan bangsa Indonesia akan masa depan yang lebih cerah dengan insan-insan yang memiliki kualitas kesehatan yang optimal, yang mampu berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan dalam bidang ekonomi, sosial dan lingkungan hidup negeri ini!©


Kalibata, Jakarta Selatan, 7 Februari 2014 

Thursday, February 6, 2014

Mengorbankan Perasaan Sebagai Korban

“Jangan tinggal di masa lalu, jangan bermimpi tentang masa depan, pusatkan pikiran pada masa kini.”

—Buddha Gautama



SUATU pagi, di masa yang sudah lama berlalu, ibu saya tergopoh-gopoh dari dalam rumah mendatangi saya yang sedang duduk-duduk santai di teras. Saat itu, saya masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama (SMP), sekitar tahun 1982-1983. Ibu saya, yang barusan membersihkan kamar tidur saya, datang dengan membawa serta penggaris segitiga plastik yang padanya tertempel label kertas bikinan saya sendiri, dengan tulisan hasil mesin ketik berbunyi “Colonel Anto Dwiastoro, 101st Airborne Division, U.S. Army”. Ibu saya sekalian mengeluhkan tingkah saya yang suka berkhayal seperti itu kepada ayah saya yang saat itu berada bersama saya di teras. 

Label kertas itu ciptaan saya yang berkhayal menjadi komandan tentara Amerika, dan itu amat mengkhawatirkan ibu saya, yang rupanya tidak mau kalau anaknya tumbuh sebagai tukang khayal. Serta-merta, ibu saya mencabut label itu dan menyobeknya. Tindakan beliau membuat saya amat marah dan membela diri, bahwa berkhayal tidaklah separah yang beliau bayangkan.

Pada waktu itu, saya merasa syok dan sangat tertekan, tetapi diam-diam saya tetap melestarikan kebiasaan saya berkhayal. Saya bertekad tidak mau merasa jadi korban (victim) dari kekurangmengertian orang tua saya terhadap yang namanya “berimajinasi”. Berkat saya keukeuh tidak mau mematuhi larangan berkhayal yang dikeluarkan ibu saya, 12 tahun sejak peristiwa itu saya sukses sebagai pekerja iklan yang syarat utamanya adalah kemampuan berimajinasi!

Tidak sedikit orang yang mengikatkan diri mereka pada peristiwa (yang dianggap) traumatis di masa lalu walaupun sudah melangkah di masa kini. Mereka membiarkan diri terpuruk jadi korban dari keadaan yang mereka hadapi di masa lalu, sehingga tidak atau kurang berani melangkah maju di masa kini. Ajaran atau nasihat keliru di masa lalu telah tertanam sedemikian dalam di benak mereka, dan itu yang mengendalikan diri mereka di masa kini. Ajaran/nasihat itu telah berkembang menjadi meme, atau “virus akalbudi” yang bereplikasi dengan sendirinya, yang hanya dapat dilawan oleh kehendak dari si “korban”.

Perasaan sebagai korban keadaan itu disebut viktimisme—dari kata bahasa Inggris victim yang berarti “korban”. Hambatan yang dialami sebagian orang dalam tumbuh-kembangnya secara fisik, mental dan spiritual kebanyakan memang disebabkan oleh faktor viktimisme. Seseorang yang merasa sebagai korban dari keadaan yang dihadapinya di masa lalu cenderung membuatnya selalu menyalahkan orang lain atau keadaan tertentu jika dirinya mengalami hambatan dalam prosesnya untuk maju.

Viktimisme menghancurkan masa depan kita. Setiap kali kita berpikiran bahwa masalahnya ada di luar sana, pikiran itulah masalahnya. Setiap kali Anda membungkus kehidupan emosional Anda dengan kelemahan orang lain atau situasi, Anda telah menyerahkan kebebasan emosional Anda kepada orang atau situasi itu dan mengizinkannya untuk mengacaukan hidup Anda. Masa lalu Anda telah menyandera masa kini Anda!

Meski syok dan merasa jengkel pada masa itu, saya tidak menyalahkan ibu saya yang melarang saya berkhayal. Justru larangan beliau menjadi daya yang mendorong saya untuk berusaha keras membuktikan bahwa kekhawatiran beliau tidak beralasan. Dan saya berhasil!

Apa pun yang pernah Anda alami di masa lalu tidak seharusnya Anda terikat padanya. “Masa lalu adalah guru kehidupan,” kata sejarawan dan filsuf Romawi kuno, Cicero. Petiklah pelajaran berharga darinya, dan bukannya takut melangkah di masa kini lantaran dihantui masa lalu. Sukses memang butuh pengorbanan; mulailah dengan mengorbankan perasaan sebagai korban yang menghinggapi Anda, yang menghambat langkah Anda untuk maju.©


Kalibata, Jakarta Selatan, 6 Februari 2014 

Monday, January 20, 2014

Interdependensi

“Seluruh gagasan tentang kasih sayang didasarkan pada kesadaran yang tajam mengenai saling ketergantungan antara semua makhluk hidup, yang merupakan bagian dari satu sama lain, dan semua yang terlibat dalam hubungan satu sama lain.”

—Thomas Merton, penulis dan mistikus Amerika berdarah Inggris



SAYA punya kebiasaan menggunduli rambut saya hingga kepala saya plontos setiap satu setengah bulan sekali. Mengapa satu setengah bulan? Tidak lain dan tidak bukan lantaran selama rentang waktu itulah rambut saya tumbuh dan membuat kepala saya tak ubahnya rumput liar yang tak terurus. Saya pernah dan sering berharap kepala saya tetap plontos untuk selamanya, agar tak usah pergi ke tukang pangkas rambut setiap setengah bulan sekali, dan tidak perlu bersusah-payah merawat rambut saya.

Nah, hari Minggu, 19 Januari 2014, yang lalu, saya kembali mendatangi tukang pangkas rambut langganan saya untuk menggunduli kepala saya. Tukang pangkas rambut langganan saya ini seorang pria yang ramah, yang selalu mengajak pelanggannya mengobrol tentang berbagai persoalan aktual sambil sesekali melempar pandang ke pesawat televisi di sudut kedai cukur itu yang dipasangi televisi kabel, sehingga selagi dicukur pelanggan dapat menikmati hiburan yang disajikan di televisi.

Hari Minggu itu, obrolan saya dan si tukang pangkas rambut seputar banjir yang sedang melanda Jakarta. Ia menyatakan pendapatnya bahwa penggundulan hutan merupakan salah satu penyebab banjir dan tanah longsor. Menanggapinya, saya berseloroh bahwa kepala saya bila digunduli tidak akan menyebabkan banjir keringat, malah menyejukkan kepala saya. Saya juga berkata, “Saya berharap kepala saya plontos untuk selamanya, nggak perlu tumbuh lagi rambut di atasnya.”

Mengomentari perkataan saya, si tukang pangkas rambut itu, sambil mencukur sisa-sisa rambut di kepala saya, berujar, “Ah, jangan selamanyalah. Nanti tukang pangkas kehilangan rezeki.” Saya sempat tertegun mendengar kata-katanya, dan terbawa ke suasana permenungan. Betapa semua makhluk memiliki interdependensi atau saling ketergantungan untuk bisa sintas (survive) dalam perjalanan hidupnya. Bukan cuma manusia dengan sesamanya, tetapi juga manusia dengan lingkungannya; juga satu jenis hewan dengan jenis hewan lainnya, dan antara hewan dengan habitat atau alamnya. 

Interdependensi merupakan suatu hubungan di mana satu orang saling terhubung pada orang(-orang) lainnya. Konsep ini berbeda dari hubungan yang bersifat dependen, di mana beberapa orang bersifat dependen sedangkan beberapa lainnya tidak. Dalam hubungan yang interdependen, para peserta dapat menggantungkan diri mereka satu sama lain secara emosional, ekonomi, ekologi dan/atau moral dan bertanggung jawab satu sama lain. Sebagian orang mendukung kebebasan atau kemerdekaan (independence) sebagai kebaikan yang utama; sebagian lainnya melakukan hal yang sama dengan mengabdikannya untuk keluarga, komunitas atau masyarakat. Interdependensi dapat menjadi landasan yang sama di antara kedua aspirasi ini.

Itu teorinya. Secara praktik, pada dasarnya, manusia tidak bisa melepaskan diri dari interdependensi. Tidak ada manusia yang bisa hidup seorang diri tanpa dukungan emosional dan ekonomi dari orang lain atau dari lingkungan hidupnya. Penyair berkebangsaan Inggris, John Donne (1572-1631), menulis dalam salah satu puisinya bahwa “Tiada manusia yang merupakan pulau, berdiri sendirian. Setiap orang merupakan potongan dari daratan, bagian dari yang utama.”

Kita semua saling membutuhkan, bahkan untuk hal-hal yang dipandang sepele, seperti saya dan tukang pangkas rambut di atas. Ketika pada bulan Desember 2009 saya memenuhi undangan bupati Jayapura, Habel Melkias Suwae, untuk bersama beliau dan jajarannya mengunjungi satu-satunya distrik di Kabupaten Jayapura, Papua, yang paling terpencil dan terletak di tepi Sungai Mamberamo, saya belajar sesuatu tentang pentingnya interdependensi manusia dengan lingkungan hidupnya. Tetua kampung yang saya kunjungi bercerita tentang filosofi masyarakat Mamberamo dan sungainya, “Ambillah seperlunya dari alam. Jangan asal ambil tanpa memikirkan keseimbangannya. Kalau kita tidak mempedulikan orang lain atau alam, orang lain dan alam pun tidak akan mempedulikan kita. Kita saling bergantung satu sama lain—itu yang membuat alam seimbang dan berkelanjutan!”

Interdependensi tampaknya merupakan hukum alam atau kodrat Ilahi. Kesalingtergantungan ini, bila dibangun dan dilestarikan, akan menampakkan kehadiran sejati Tuhan—bahwa makhluk, hidup atau mati, merupakan bagian terpadu dari diriNya. Dalam kehidupan manusia, kebencian atau ketiadaan kasih sayanglah yang merusak keberadaan interdependensi, yang perlahan akan membunuh manusia yang menafikannya. Pendek kata, demi kesintasan kita yang berkelanjutan, kita amat tergantung pada kesalingtergantungan.©


Kalibata, Jakarta Selatan, 20 Januari 2014 

Tuesday, January 7, 2014

Bersamamu, Di Sini dan Selamanya

Kebersamaan kita mengajarkanku mencintai dengan setia
Aku belajar tak kenal waktu dan ruang tentang hidup
senapas dengan nada bicaramu yang bersyair
Di sini, di balik dadaku bersemayam sebuah nama
yang tiap kali kuucap menyamai sebuah ungkapan rasa
Rasa tentang kerinduan yang takkan luruh bersama waktu

Kudengar tiup angin yang mengabari
setiap detak jantungmu yang menyuarakan rindu
dari kejauhan yang tak dapat kuukur dengan mistar
seberapa pun panjangnya jarak memisahkan,
namun dekap hangat gelora jiwaku dapat
mendekatkan bentang panjang menjadi sejengkal napas kita

Begitu besar aku merindu, begitu dalam aku mencintaimu
Seperti kata yang tak kenal akhir,
di situ aku mengalun bersama denting genta
yang bergetar seirama langit biru indah di dalam jiwa kita
selamanya….



Jakarta Selatan, 23 Desember 2013

Sunday, January 5, 2014

Pemerkosaan Proses

“Hidup adalah sebuah proses untuk menjadi, sebuah kombinasi keadaan yang harus kita lalui. Kegagalan menimpa mereka yang memilih suatu keadaan dan menetap di situ. Itulah kematian mereka.”

—Anais Nin


SUATU ketika, saat bersama keponakan dan ipar, ketika masing-masing menikmati secangkir kopi putih yang dipredikat dengan nama “kopi luwak”, saya menjelaskan bahwa kini sulit diperoleh kopi luwak yang asli. Yang saya maksud dengan “asli”, adalah kopi yang dibuat dari biji kopi yang ditemukan dalam kotoran luwak yang sebelumnya telah menggunakan naluri hewaniahnya untuk memilih biji kopi terbaik pada tanaman kopi, yang prosesnya berlangsung sangat alami!

Tetapi dewasa ini, untuk kepentingan bisnis, luwak-luwak dikandangkan dan diberi makan biji-biji kopi yang “dianggap” terbaik oleh manusia. Dikandangkan sedemikian rupa, luwak-luwak tersebut mengalami stres yang berefek pada kesehatan fisiknya, sehingga zat kimia dari tubuhnya yang seyogianya berperan secara alami dalam memberi kualitas tertentu pada biji kopi yang dimakannya, mengalami penurunan mutu. Benar, biji kopi tetap ditemukan di antara kotoran luwak versi kandang tersebut, tetapi kualitasnya dalam rasa jauh berbeda dari kualitas biji kopi yang dimakan luwak secara alami di alam bebas.

Dewasa ini, proses seringkali diabaikan, atau diperpendek rentangnya, demi mengakomodasi budaya yang memuja yang serba instan. Padahal, pemerkosaan proses menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan di kemudian hari. Ini berlaku dalam hal apa saja. Pemerkosaan prosesmenimbulkan kerusakan di sistem sejak awal, yang seringkali tidak disadari oleh pelaku. Dan biasanya ketika pelaku menyadarinya, segala sesuatunya sudah terlalu rusak untuk bisa diperbaiki.

Saya pernah bekerja di sebuah biro iklan di Surabaya, Jawa Timur, yang general manager-nya adalah veteran dari sebuah biro iklan multinasional di Jakarta, yang memaksakan penerapan sistem-sistem mapan di tempatnya bekerja dahulu di biro iklan di Surabaya tersebut. Dalam waktu yang tidak lama sejak saya bergabung—yang cuma berbeda beberapa bulan dengan sang general manager, biro iklan itu terseok-seok jalannnya, dan akhirnya stagnan.

Dalam kritik saya kepada sang general manager di dalam rapat dengan para karyawan dan direksi, saya memberi perumpamaan bahwa pemaksaan penerapan sistem-sistem itu tak ubahnya memasang mesin Ferrari pada bajaj—alih-alih membuat bajaj berlari kencang laksana Ferrari, malah membuatnya rontok di tengah jalan, lantaran bodi bajaj tidak didesain secara aerodinamis untuk menghadapi kondisi melaju dalam kecepatan tinggi. Tetapi saya tambahkan dalam pandangan saya atas keadaan biro iklan di Surabaya tersebut, bahwa sistem-sistem mapan tersebut baik dan tepat untuk pengembangan bisnis, namun penerapannya tidak dapat dipaksakan, melainkan secara bertahap melalui suatu proses yang bersama dengan itu sumber daya manusianya dapat menyesuaikan diri.

Belakangan ini, saya amati sejumlah bisnis yang digawangi oleh orang-orang yang tidak memiliki visi, misi dan nilai yang jelas dan semata mempertimbangkan keuntungan besar yang bakal diperoleh. Kebanyakan memang meraup keuntungan besar, tetapi kebanyakan pula sifatnya taktis, berjangka pendek, lantaran pengabaian atau pemerkosaan terhadap proses yang seharusnya ditempuh untuk memperkuat sendi-sendi perusahaan telah membuat keuangan perusahaan yang berasal dari modal awal mengalami salah kelola yang parah.

Perusahaan milik “mitra sinergis” saya, yang berbeda badan hukum dengan perusahaan saya, menampilkan contoh seperti itu. Bergabung bersama seorang desainer muda yang belum banyak pengalaman bisnisnya, melainkan semata mengandalkan “pengalaman indra penglihatannya” di perusahaan-perusahaan komunikasi pemasaran dan korporat yang pernah disinggahinya untuk waktu yang singkat, kawan saya itu mengelola sebuah bisnis komunikasi korporat yang memiliki ketidakjelasan visi, misi dan nilai. Bahkan sang desainer muda sempat mau nyontek bisnis inti saya, yaitu branding, tetapi ia batal melakukannya setelah ia saya tantang wawasannya mengenai apa sejatinya branding itu.

Entah karena kelabakan menghadapi persaingan bisnis yang cukup keras di industri komunikasi atau karena ia benar-benar tidak tahu bahwa pertumbuhan bisnis membutuhkan proses yang tidak pendek, ia serta-merta memanfaatkan keuntungan materi dari proyek-proyek ritel (taktis) untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu perlu. Termasuk untuk meningkatkan citra dirinya di mata klien, supaya tidak diremehkan, lewat pembelian gadget baru dan canggih (dan sudah pasti mahal harganya), sedangkan yang lama masih dapat diandalkan untuk kelancaran pekerjaan. Akibatnya, enam bulan sejak perusahaannya beroperasi, terjadi kesemrawutan dalam pengelolaan keuangan, sehingga kawan saya terpaksa berutang ke sana ke mari. Setiap pemasukan langsung ludes buat melunasi utang, sementara ia harus membayar gaji sejumlah karyawan yang diperkerjakan mitranya lantaran mitranya begitu bernafsu membuat bisnis mereka dicitrakan sebagai “raksasa nan hebat” lewat jumlah karyawan dan teknologi high-end yang digunakannya.

Lihatlah gejala “pemerkosaan proses” yang juga berlaku di jalan raya. Kini, banyak pengendara yang dimanjakan oleh kemudahan teknologi sampai mereka pun melupakan (atau mengabaikan) proses yang harus mereka lalui agar benar-benar mahir mengendarai kendaraan di jalan raya sekaligus menguasai aturan-aturan yang berlaku. Dahulu, mendiang ayah saya bercerita bahwa untuk memperoleh surat izin mengemudi (SIM), seseorang harus melalui serangkaian proses yang cukup berat, tetapi berdampak positif dalam membentuk perilaku pengemudi di jalan raya kelak setelah ia memperoleh SIM. Proses itu saking memberatkan seorang calon pemegang SIM sampai-sampai membuat seorang pengendara selalu waspada dan berhati-hati sekali ketika mengemudikan kendaraannya di jalan raya lantaran khawatir SIM-nya, yang diperolehnya dengan susah-payah, bakal dicabut bila ia melanggar. Proses membuat seorang pengendara memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam tindak-tanduknya di jalan raya. Dewasa ini, proses tersebut telah dipersingkat, untuk memfasilitasi “generasi instan” dalam memperoleh SIM mereka. Tidak mengherankan jika sekarang jalan raya sama mautnya dengan medan perang!

Di ajang spiritualitas, gejala pemerkosaan proses juga merajalela. Kalau sudah bicara uang, apa saja dikomersialkan, termasuk ranah spiritual yang sesungguhnya merupakan “bawaan lahir” setiap manusia. Dengan kata lain, kalau Anda menyadarinya, spiritualitas itu bekal gratis yang diberikan Tuhan atas diri manusia, sehingga sungguh bodohlah Anda kalau harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli produk” spiritual dari sesama manusia!

Parahnya, selain telah menjadi komoditi pasar, spiritualitas juga dikerdilkan nilainya lewat pemerkosaan terhadap prosesnya. Spiritualitas adalah suatu pertumbuhan batin manusia melalui proses yang dinamai “hidup” dibarengi keinsafan akan eksistensi sebuah kekuatan yang melampaui hidupnya. Sekalinya proses itu dipersingkat, Anda takkan mengalami pertumbuhan batin tersebut, atau kalaupun mengalaminya sifatnya hanya sementara, tidak langgeng. Namun, penyingkatan proses itulah yang justru marak dewasa ini—lagi-lagi, demi mengakomodasi kebutuhan generasi instan yang maunya serba cepat jadi. Pemerkosaan proses pertumbuhan spiritual biasanya mengakibatkan si pelaku jadi hilang kewarasannya. Saya menyaksikan hal semacam itu pada sejumlah kawan saya yang menempuh “jalan spiritual instan”.

Tidak akan ada pertumbuhan yang sehat tanpa melewati proses. Sama seperti seorang bayi yang dipaksa untuk berjalan sesaat setelah dilahirkan—yang terjadi adalah ia mengalami kecacatan pada kakinya kelak.©


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 6 Januari 2014


Monday, December 30, 2013

Anto Dwiastoro's Quotes 2013


“Bertobat tidak harus diucapkan, mengingat Tuhan tidak harus dilisankan. Beriman tidak harus dinyatakan, sebab ketika diri ini berserah dengan sabar, ikhlas dan tawakal segala ucapan pun luruh dan semua niat di hati jadilah.” (Anto Dwiastoro, 3 Januari 2013)

“Kau bisa mengubur mayat, tapi tidak bisa mengubur masa lalu.” (Detektif Mac Taylor (Gary Sinise), CSI: NY)

“Kemajuan spiritual seseorang memang sulit atau bahkan tidak bisa diukur. Tetapi kalau mau tahu apakah spiritualitasmu sudah tumbuh dan berkembang atau belum, periksa saja dirimu, apakah masih bergantung pada orang lain, termasuk guru duniamu, atau sudah bisa berjalan sendiri mengikuti tuntunan dari Guru Sejati!” (Anto Dwiastoro, 20 Januari 2013)

“Spiritualitas itu ibarat matahari, yang menyinari diri kita, memberi kehangatan dan energi hidup. Tetapi di atas semua itu tidak ada yang bisa mengklaim sebagai miliknya hanya dengan memberinya nama, mengorganisasikannya dan menerapkan aturan-aturan yang membuat orang-orang yang ‘paling dekat dengan matahari’ merasa dialah yang paling berhak dan paling tahu tentangnya. Matahari tidak bisa dipagari, apalagi mengklaim kepemilikan atasnya.” (Anto Dwiastoro, 20 Januari 2013)

“Keterikatan pada paradigma lama, menjauhkan diri dari hal-hal baru, dan berpegang pada ritus-ritus mapan dari budayanya akan memasung tumbuh-kembang intelektual, material dan spiritual seseorang.” (Anto Dwiastoro, 20 Januari 2013)

“Dua hal yang menandai kalau kita telah dikuasai daya kebendaan: (1) Kita melekat padanya hingga kita melupakan hakikat kemanusiaan kita, dan (2) Kita berusaha keras menjauhinya hingga kita melupakan hakikat benda itu bagi hidup kita. Yang terbaik adalah mengendalikan benda-benda yang kita miliki agar mereka tidak menguasai kita.” (Anto Dwiastoro, 30 Januari 2013)

“Ya Tuhan, bimbinglah kami dalam bekerja, tuntunlah kami dalam berusaha untuk kesejahteraan kami dan orang-orang yang bekerja untuk kami dengan jujur dan profesional. Semoga bisnis kami, LI9HT Brand Communications, membawa kami kepada cahaya petunjukMu sehingga langkah kami menjadi ringan, sebagaimana yang menjadi arti dari namanya. Amin, ya Tuhan.” (Doa Anto Dwiastoro, 31 Januari 2013)

“Adalah mudah untuk menandai dirimu kreatif atau tidak. Ketika kamu merasa sangat bosan dengan sesuatu atau seseorang dan tidak tahu bagaimana memperbaruinya sehingga menambah kebosananmu, saat itulah kamu boleh menyimpulkan bahwa kamu tidak kreatif.” (Anto Dwiastoro, 1 Februari 2013)

“Tidak ada yang namanya kebenaran mutlak. Yang ada hanya kecocokan pribadi mutlak.” (Anto Dwiastoro, 2 Februari 2013)

“Tanda bahwa seseorang itu tidak mencintai dirinya sendiri adalah miskin secara material, intelektual dan spiritual.” (Anto Dwiastoro, 4 Februari 2013)

“Kematangan spiritual seseorang terletak pada kemampuannya menjumbuhkan, bukannya mengotak-kotakkan, dunia dan akhirat, non-kejiwaan dan kejiwaan, material/intelektual dan spiritual.” (Anto Dwiastoro, 5 Februari 2013)

“Engkau ingin mengerti Beethoven, hanya Beethovenlah yang mengerti dirinya. Engkau ingin mengerti karya-karya Dostoyevsky, tanyalah langsung pada Dostoyevsky sendiri. Engkau ingin mengerti ciptaan Tuhan, tanyakan pada Tuhan. Jangan tanyakan pada manusia tentang ciptaan Tuhan, karena dia takkan mengerti sebagaimana Tuhan mengerti ciptaanNya." (Pdt. DR Stephen Tong, Seminar Keluarga 2010: “Rahasia Kemenangan Cinta dan Sex Menuju Pernikahan” di stasiun televisi Reformed 21, 7 Februari 2013, pukul 08.00-09.30)

“Ironi terbesar dalam hidup manusia adalah matanya. Mata bisa melihat segala hal, tetapi tidak bisa melihat si pemilik mata. Jadi, tidak mungkin mengenal diri sendiri. Socrates yang mengatakan, ‘Kenalilah dirimu’, tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Tanyalah pada Tuhan yang menciptakan diri ini.” (Pdt. DR Stephen Tong, Seminar Keluarga 2010: "Rahasia Kemenangan Cinta dan Sex Menuju Pernikahan" di stasiun televisi Reformed 21, 7 Februari 2013, pukul 08.00-09.30)

“Tidak pernah ada persatuan manusia yang abadi lantaran nama, simbol atau atribut wujud maupun nonwujud. Keabadian baru tercapai apabila landasannya adalah Cinta tanpa kepentingan atau pamrih.” (Anto Dwiastoro, 8 Februari 2013)

“Kebanyakan kita suka mengidentifikasi diri dengan asal-usul, suku, ras, agama/aliran kepercayaan, ideologi, kelompok, simbol-simbol--tidak menginsafi bahwa tanpa itu semua, kita sudah sangat lengkap dibekali oleh Sang Pencipta untuk menjalani hidup di dunia dengan tuntunan jiwa yang dicahayai olehNya." (Anto Dwiastoro, 19 Februari 2013)

“Untuk memperbaiki penampilan, jangan berkaca di depan cermin di dinding atau meja rias. Di cermin seperti itu, segalanya merupakan kebalikannya. Berkacalah pada cermin hatimu, di mana kamu menjadi diri sendiri. Niscaya kecantikan sejatimu akan memancar.” (Anto Dwiastoro, 19 Februari 2013)

“Tidak ada Jalan yang mutlak Benar, karena keBenaran itu berJalan-jalan, tidak menetap di satu tempat.” (Anto Dwiastoro, 22 Februari 2013)

“Yang ajaib dari hidup ini adalah bahwa ketika kita mendedikasikan diri pada sesuatu, maka akan terbuka semua jalan menuju sesuatu itu.” (Anto Dwiastoro, 28 Februari 2013)

“Brands succeed best when they make a powerful emotional connection with people who buy them.” (John Simmons, Invisible Grail, p. 31)

“Segala sesuatu dalam hidup ini punya sisi baik maupun sisi buruk, walaupun sesuatu itu di luarnya tampak baik. Apa yang kita dapatkan dari sesuatu itu tergantung pandangan kita berat ke sisi yang mana—bila baik kita mendapat baik, bila buruk kita mendapat buruk. Sesederhana itu.” (Anto Dwiastoro, 4 Maret 2013)

“Manusia yang paling merugi di dunia adalah dia yang sepanjang hidupnya tidak pernah mengalami perubahan, baik secara material, intelektual maupun spiritual.” (Anto Dwiastoro, 6 Maret 2013)

“Dalam keberagamaan, berserah dirinya setelah berusaha. Dalam kejiwaan, berserah dirinya bersamaan dengan berusaha, sehingga semua perkataan dan perbuatan, pikiran dan perasaan kita senantiasa berada dalam jalur tuntunan Tuhan.” (Anto Dwiastoro, 7 Maret 2013)

“Tidak ada keputusan yang salah. Yang ada langkah yang salah, karena tidak berani mengambil keputusan lantaran takut salah.” (Anto Dwiastoro, 7 Maret 2013)

“Spiritualitas/kejiwaan, sekalinya memperdebatkan pemahaman pribadi dari masing-masing pelakunya, akan berubah seketika menjadi agama yang terorganisasi.” (Anto Dwiastoro, 12 Maret 2013)

“Spiritualitas yang sejati itu membuat kita tumbuh dan berkembang, bukan jalan di tempat apalagi mundur ke belakang dan terbuai nikmat dengan segala sesuatu yang sudah berlalu. Spiritualitas yang sejati itu membuat kita mantap di Saat Ini.” (Anto Dwiastoro, 13 Maret 2013)

“Spiritualitas yang hakiki itu memandirikan dan memberdayakan kita, lepas dari kemelekatan pada hal-hal di luar diri kita, termasuk guru/pendiri/penggagas jalan spiritual, ajaran/pelajaran maupun teks-teks yang seolah dianggap sakral. Spiritualitas yang hakiki itu terpaku pada bimbingan Yang Maha Esa, sedangkan yang lain-lain hanya ilusi.” (Anto Dwiastoro, 13 Maret 2013)

“Setiap orang sukses dengan caranya sendiri-sendiri, tidak bisa dikendalikan oleh cara orang lain, karena ‘sukses’ memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang, lantaran masing-masing orang punya tujuan-tujuan yang berbeda satu dengan yang lain.” (Anto Dwiastoro, 16 Maret 2013)

“Tidak usah menganggap negatif orang yang berkata atau beranggapan negatif tentang kamu, karena ia sesungguhnya sedang mengungkapkan sisi negatif dirinya.” (Anto Dwiastoro, 18 Maret 2013)

“Sikap penyerahan diri adalah ibarat cermin yang memantulkan semua negativitas atau keburukan, yang dilemparkan orang lain kepada Anda, kembali kepada si pelempar.” (Anto Dwiastoro, 18 Maret 2013)

“Pengalaman membuktikan bahwa api akan membesar jika dilawan dengan api, tetapi sebaliknya akan padam jika disiram air. Lawan kekerasan dengan kelembutan, betapapun kekerasan itu menyakiti kita.” (Anto Dwiastoro, 18 Maret 2013)

“Penyakit paling berbahaya ternyata bukan kanker, melainkan sikap tidak bisa menerima kenyataan.”(Anto Dwiastoro, 23 Maret 2013)

“KehendakNya takkan mewujud ketika kita hanya duduk berpangku tangan atau menengadahkan tangan. KehendakNya baru akan mengemuka ketika kita ringan tangan.” (Anto Dwiastoro, 26 Maret 2013)

“Namanya juga ‘berserah diri’; serahkan semua-muanya kepadaNya, termasuk ketidaktenangan diri kita, niscaya kita akan dibimbingNya memasuki ruang keikhlasan, kesabaran dan ketawakalan. Tidak perlu menunggu diri tenang dulu untuk berserah diri, karena itu berarti kita tidak percaya pada kekuasaanNya.” (Anto Dwiastoro, 27 Maret 2013)

“Diperlukan kekurangan dan kesadaran akan kekurangan untuk mendorong orang agar mau belajar terus-menerus mengisi kekurangan dirinya, sehingga tumbuh dan berkembang.” (Anto Dwiastoro, 3 April 2013)

Branding is not a battle of who has the better product but who can create the perception that it has the better product. Perception is reality.” (Jacky Tai & Wilson Chew, Transforming Your Business Into A Brand: The 10 Rules of Branding. Singapore: Marshall Cavendish Business, 2007, p. 44)

“If your brand fails to make a deep, positive and lasting first impression, you will only increase its chances of failure.” (Jacky Tai & Wilson Chew, Transforming Your Business Into A Brand: The 10 Rules of Branding. Singapore: Marshall Cavendish Business, 2007, p. 48)

Sukses atau gagal, dua-duanya merupakan ujian kesabaran.” (Anto Dwiastoro, 10 April 2013)

“Upayakan untuk menjadi yang terbaik bagi dirimu sendiri, alih-alih berupaya memenuhi terlalu banyak harapan dari terlalu banyak orang terhadap dirimu.” (Anto Dwiastoro, 11 April 2013)

“Agama-agama dewasa ini, sekalipun sudah berusia ribuan tahun, tidak ada yang azali (asli nan murni), dan kita dewasa ini membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran untuk meributkan perbedaan-perbedaan dalam ketidakazalian di antara agama-agama itu.” (Anto Dwiastoro, 15 April 2013)

“Dukun-dukun modern di Indonesia mem-branding diri mereka sebagai ‘penasihat/konsultan spiritual’, yang akhirnya membuat kata ‘spiritual’ memiliki konotasi negatif, begitu pula dengan kata ‘mistikisme’ (paham bahwa kekuasaan Tuhan itu pada hakikatnya meliputi hidup manusia). Spiritualitas, yang berarti ‘kerohanian’, akhirnya dipandang tidak lebih dari ‘pedukunan’ di benak orang yang berpikiran sempit, sehingga agama-agama di zaman sekarang pun emoh menyisipkan spiritualitas dalam ajarannya. Tidak mengherankan, bila praktik keberagamaan dewasa ini sangat kering, karena hanya menyentuh ritual, sedangkan Tuhan adalah Spirit Maha Kuasa yang hanya bisa disentuh lewat jalan spi-ritual!" (Anto Dwiastoro, 22 April 2013)

“Sungguh nikmat kesadaran bahwa semua ibadah yang kita lakukan adalah untuk keuntungan dan kemanfaatan kita sendiri, dan bukannya untuk menyogok Tuhan.” (Anto Dwiastoro, 29 April 2013)

“Adalah baik jika merekmu dikenal dan mendapat perhatian dari konsumen, dan untuk itu merekmu harus mengenal dan memperhatikan konsumen.” (Anto Dwiastoro, 30 April 2013)

“Why bother to choose something you don’t recognize, if you can choose something you do—Kenapa harus repot-repot memilih sesuatu yang tidak kamu kenal, jika kamu bisa memilih sesuatu yang kamu kenal?” (Anto Dwiastoro, 30 April 2013)

“Hidup adalah perjalanan, bukan tujuan. Karena itu, sukses adalah milik mereka yang tidak berhenti berproses. The process means a lot more than the success.” (Anto Dwiastoro, 9 Mei 2013)

“Mimpi itu harus dibarengi keberanian untuk bangun dari tidur, agar dapat menjadi kenyataan.” (Anto Dwiastoro, 11 Mei 2013)

“Kesuksesan maupun kegagalan tidak bertahan lama. Yang bertahan adalah pemahaman diri tentang hikmah yang dipetik dari kedua kejadian tersebut.” (Anto Dwiastoro, 12 Mei 2013)

“Kurang percaya diri—salah satu faktor penyebab banyaknya ide kreatif mati sebelum sempat dilahirkan ke dunia.” (Anto Dwiastoro, 22 Mei 2013)

“Orang lain tidak selalu seperti yang kita pikirkan mengenainya.” (Anto Dwiastoro, 28 Mei 2013)

“Seperti halnya seks dan ganti baju, aktivitas keberagamaan sepatutnya dilakukan di balik pintu kamar atau ruang pribadi, bukannya malah diumbar ke publik. Keimanan itu dipelihara dalam hati, bukan lewat mulut, atribut atau isyarat fisik!” (Anto Dwiastoro, 28 Mei 2013)

“Dengan berserah diri, tidak menghitung-hitung apa saja yang sudah kita terima dan beri, segala sesuatu akan lewat begitu cepat, hingga tak terasa kita sudah berhasil mencapai apa yang kita cita-citakan.” (Anto Dwiastoro, 30 Mei 2013)

“Sebuah rumah memiliki atap sehingga penghuninya mendapat keteduhan, tiang-tiang untuk menyangga atap tersebut, pintu untuk keluar-masuk, dan jendela untuk melihat apa yang terjadi di luar rumah. Pendek kata, setiap bagian dari rumah memiliki fungsi. Hidup pun seperti rumah; segala sesuatu di dalamnya ada untuk suatu alasan, apakah kesuksesan atau kegagalan, sehat atau sakit, baik atau buruk, dan begitu banyak unsur-unsur berlawanan lainnya, yang bila diteropong dengan kearifan akan meneduhkan diri kita, dan menyangga keikhlasan kita.” (Anto Dwiastoro, 1 Juni 2013)

“Segalanya tampak indah ketika masih di angan. Tetapi begitu sudah berada di tangan, keindahan itu menyusut seiring waktu.” (Anto Dwiastoro, 3 Juni 2013)

“Semakin total berserah diri, semakin terlihat gambaran menyeluruh dari proses-proses hidup ini, dan semakin simpel pula hidup ini—bahkan membuat kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kita perjuangkan dalam dan bagi hidup ini, karena semua-muanya jadi semu?!” (Anto Dwiastoro, 3 Juni 2013)

“Ya Tuhan, bimbinglah aku dalam pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan yang menurutMu benar, dan bukan yang menurutku baik atau buruk.” (Anto Dwiastoro, 8 Juni 2013)

“Hidup itu dijalani dengan ikhlas dan dirayakan, bukan dikeluhkan apalagi disesali.” (Anto Dwiastoro, 10 Juni 2013)

“Kita akan sulit menerima kekurangan dan mudah mengagung-agungkan kelebihan orang lain sebelum mampu menerima kekurangan dan memanifestasikan keistimewaan diri sendiri.” (Anto Dwiastoro, 10 Juni 2013)

“Agama itu sejatinya terbentuk dari serangkaian upaya kita untuk mengenal dan berdamai dengan diri sendiri, sehingga dengan begitu kita bisa mengenal dan berdamai dengan orang lain. Pertentangan, permusuhan atau pengkafiran yang dilancarkan suatu umat agama tertentu terhadap umat agama lain merupakan bukti betapa banyak orang yang belum mengenal dan berdamai dengan dirinya sendiri.” (Anto Dwiastoro, 10 Juni 2013)

“Cinta bukan cinta saat mengubah perubahan yang ditemukan.” (Dari film Did You Hear About the Morgans?)

“Bila kamu bertekad untuk berbakti kepada Tuhan, berserah diri kepadaNya, maka orang-orang yang kamu pikir sebagai buruk adalah ibarat taksi atau bus—mereka akan berlalu jika kamu tidak naik!” (Anto Dwiastoro, 1 Juli 2013)

“Hidup adalah sebuah teka-teki silang; kadang mendatar, kadang menurun. Tapi begitu diselesaikan, rasanya puas telah menjawab semua teka-teki hidup ini.” (Anto Dwiastoro, 11 Juli 2013)

“Tuhan tidak memberimu masalah. Dia memberimu cara hebat untuk menjalani hidup, sehingga setiap pagi kamu akan bersyukur kepadaNya, yang tidak bisa dilakukan semua orang.” (Malaikat Monica kepada Amy, gadis remaja berusia 15 tahun yang hidupnya berubah setelah ia divonis menderita diabetes yang membuatnya harus bergantung pada suntikan insulin tiap hari, dalam film seri Touched by an Angel di BeTV, 11 Juli 2013)

“Pekerjaan selalu ada. Yang jarang adalah menemukan orang yang dapat membahagiakan kita.” (Agen Spencer Reid kepada Agen Alex Blake, Criminal Minds, Fox 13 Juli 2013, pk 11.55 WIB)

“Sungguh, kesalahan terbesar dari budaya (kekuatan akal pikir) kita adalah mem-profiling Tuhan sedemikian rupa, sehingga akhirnya kita sering bingung sendiri dengan sifat-sifatNya yang tidak jarang ‘tidak konsisten’.” (Anto Dwiastoro, 2 Agustus 2013)

“Selalu mengalami kelebihan karena selalu mensyukuri kekurangan.” (Anto Dwiastoro, 4 Agustus 2013)

“Lebaran itu adalah untuk makan, minum dan berzikir kepada Allah. Ini yang sering kita lupakan.” (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Spesial Lebaran, MetroTV, 8 Agustus 2013)

“Hidup itu memberikan pilihan. Tetapi, jika engkau bingung untuk memilih di antara dua pilihan, pilihlah kedua-duanya.” (Anto Dwiastoro, 12 Agustus 2013)

“Ketika kamu bertemu orang yang memiliki ego yang tinggi, hadapilah ia dengan hati yang rendah.” (Anto Dwiastoro, 5 September 2013)

“Memperkuat, memfokuskan, dan menenangkan pikiran adalah langkah pertama yang penting untuk menyelesaikan tujuan apa pun.” (Nancy Spears, Buddha @ Office: Membawa Pencerahan di Tempat Kerja Anda dan Meningkatkan Laba Perusahaan (Jakarta: BIP, 2009), hlm. xxx)

“Mencintai pekerjaan Anda dan mengetahui bahwa itu penting bagi Anda, adalah hal yang menyenangkan.” (Katherine Graham, pendiri suratkabar Washington Post)

“Yang mengingatNya selalu akan merasa ramai walau sendirian, kaya walau hampa tangan, dan berani walau tanpa kawan.” (M. Quraish Shihab, Dia di Mana-Mana: ‘Tangan’ Tuhan di Balik Setiap Fenomena (Jakarta: Lentera Hati, 2013), hlm. 142)

“Selama kita melanjutkan untuk mendorong dan terpaku pada hasil, kita sesungguhnya membangun momentum menuju kemelekatan.” (Nancy Spears, Buddha @ Office (Jakarta: BIP, 2009), hlm. 79)

“Kita adalah kumpulan dari aneka pertanyaan yang belum terjawab.” (A. Carrel (1873-1944), peraih hadiah Nobel dalam bidang kedokteran 1912, dalam bukunya Man the Unknown)

“Rahasia besar kehidupan adalah bahwa tidak ada rahasia besar. Apa pun tujuan Anda, Anda bisa mencapainya jika Anda mau berusaha.” (Oprah Winfrey)

“Aku adalah misteri bahkan bagi diriku sendiri.” (Tokoh “Merle” dalam The Walking Dead Season 3)

“Saya tidak pernah bekerja pada akhir pekan, karena saya mencintai keluarga saya. Saya bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga saya, tapi ternyata yang paling dibutuhkan keluarga saya adalah kehadiran diri saya di dekat mereka.” (William Bernbach, copywriter terkemuka dunia dan pendiri biro iklan internasional Doyle, Dane, Bernbach {DDB})

“Alam tidak mengenal baik atau buruk, hanya seimbang atau tidak seimbang.” (Profesor Hollis Walker, Jr., pakar agama-agama Afrika yang menjadi pembunuh berantai dalam episode “Corazon” (episode ke-12) film seri Criminal Minds Season 6, tadi pagi di Fox)

“Melalui pemahaman tentang Maqashid Asy-Syariah (tujuan agama) kita dapat mengetahui hukum dan persoalan-persoalan ‘baru’ lainnya. Tujuan tuntunan agama adalah memelihara lima hal pokok yaitu Ajaran Agama, Jiwa, Akal, Harta dan Keturunan. Setiap aktivitas yang menunjang salah satunya, maka pada prinsipnya dibenarkan dan ditoleransi oleh Islam, dan sebaliknya pun demikian. Pembenaran itu bisa mengambil hukum wajib, atau sunnah (anjuran), atau mubah.” (M. Quraish Shihab, Dia di Mana-Mana: ‘Tangan’ Tuhan di Balik Setiap Fenomena.” (Jakarta: Lentera Hati, 2009) hlm. 354)

“Kunci dari menulis adalah menulis.” (William Forrester (Sean Connery) dalam film Finding Forrester)

“Seburuk-buruknya diri sendiri, masih lebih buruk hidup sebagai orang lain.” (Anto Dwiastoro, 20 Oktober 2013)

“Kegagalan yang disertai pemahaman akan maknanya adalah lebih baik daripada kesuksesan tanpa pemahaman akan maknanya.” (Anto Dwiastoro, 20 Oktober 2013)

“Jika Anda mendapatkan kehidupan yang membosankan dan menyedihkan lantaran Anda mendengarkan kata-kata ibu, ayah, guru, pendeta Anda, atau orang di televisi tentang bagaimana Anda harus menjalani hidup Anda, maka Anda pantas mendapatkannya.” (Frank Zappa)

“Kalau jalan ke Tuhan masih dibimbing oleh manusia, tentu saja tidak akan sampai ke Tuhan, hanya sampai kemampuan manusia itu.” (Ibu Rahayu, Rungan Sari, 11 Juni 2004)

“Art is a lie that makes us realize the truth.” (Pablo Picasso)

“Semua orang bisa berhasil sampai mereka gagal.” (Daryl, The Walking Dead Eps. 4 Season 4)

“Menghidupkan Hidup di dalam hidup. Kalau itu hidup, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan kita ini masih manusia biasa yang lemah dan banyak salah.” (Anto Dwiastoro, 10 November 2013)

“Aku tidak akan mematahkan punggung demi uang jutaan dolar yang takkan kubawa mati.” (Toby Keith, lirik lagu My List)

“A sad soul can kill quicker than a germ.” (John Steinbeck)

“Tuhan itu Tanda Tanya—maka beruntunglah mereka yang terus mempertanyakanNya, karena hal itu mendorong pada pencarian yang konsisten. Celakalah mereka yang menerimaNya sebagai Titik, karena hal-hal hebat mengenai diriNya terpendam dalam kepuasan diri yang bersifat sementara.” (Anto Dwiastoro, 22 November 2013)

“Cinta itu memberi makna dan nilai pada segala sesuatu yang kita lakukan. Bekerja tanpa cinta membuat kita stres; menghamba pada Tuhan tanpa cinta membuat kita tersesat; bercinta tanpa cinta merusak tubuh, hati, diri dan jiwa.” (Anto Dwiastoro, 23 November 2013)

“Di hutan, terhampar di hadapanku dua cabang jalan. Aku mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Dan itulah yang membuat segala perbedaan.” (Robert Frost)

“Orang-orang yang mengajarkan apa yang mereka pelajari, sejauh ini, adalah orang-orang yang hebat.” (Stephen R. Covey, The 8th Habit: Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan (Jakarta: Gramedia, 2005), hlm. 50)

“Mempelajari hidup tetapi tidak melakoninya sama saja tidak mengetahui tentang hidup.” (Anto Dwiastoro, 30 November 2013)

Jangan membenci, karena nanti saudara akan menjadi seperti yang saudara benci. Kalau saudara benci setan, ya saudara pun akan jadi setan.” (Muhammad Subuh)

“Hidupku sudah ditentukan. Tak akan satu menit lebih panjang atau lebih pendek daripada yang telah ditentukan.” (Anwar Sadat)

“Hanya orang-orang yang disiplin yang benar-benar bebas. Orang-orang yang tidak disiplin adalah budak dari suasana hatinya, budak kesenangan dan nafsu-nafsunya.” (Stephen R. Covey, The 8th Habit: Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan (Jakarta: Gramedia, 2005), hlm. 110)

“Tidak ada makanan yang sehat; yang ada pikiran yang sehat ketika memakan suatu makanan.” (Anto Dwiastoro—inspirasi dari makan siang di Jl. Camar III Blok BK No. 34, Bintaro Sektor 3, 7 Desember 2013)

“Ketika kehidupan, kerja, permainan dan cinta berputar di sekitar hal yang sama, Anda mendapatkan gairah!” (Stephen R. Covey, The 8th Habit: Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan (Jakarta: Gramedia, 2005), hlm. 113)


Monday, November 25, 2013

Ruang Tunggu

Di sini, kutunggu tanganmu menggapai jemariku yang memendam rindu
Berkata dalam padu padan kalimat yang menyuarakan selembut beledu
betapa aku mencintaimu tak beragu

Di sini, kutunggu matamu yang menatap mataku menuju satu
dan kulihat bening indah isyarat hatimu

Di sini, kutunggu mulutmu yang desah sekatanya memacu jantungku,
memicu derap cita untuk setia mengasihimu selamanya

Di sini, kutunggu hadirmu selalu, di dalam hangat rengkuh batinku yang menyelia rasaku tetap terpaku hanya kepadamu

Kunikmati gelora ini, yang selalu meliputi diri walau kamu tak selalu hadir di sini
Sabar kutunggu kamu di sini, di diriku yang tak pernah berhenti
mencintaimu dalam harap abadi

Di sini, di ruang tunggu batinku ini, sungai doaku tak pernah berhenti mengalir ke arahmu, wahai Kekasih Jiwaku...



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 26 November 2013