SEBAGAI konsultan branding,
saya rajin mengamati perkembangan-perkembangan terbaru di industri komunikasi
pemasaran, korporat dan keberlanjutan. Tren terkini dalam branding adalah penceritaan (storytelling).
Penceritaan sebagai strategi branding
bukan sesuatu yang baru sebenarnya. John Simmons dalam bukunya, The Invisible Grail: How Brands Can Use Words to Captivate
Audiences, yang terbit tahun 2003, sudah mengemukakan hal itu.
Dahulu, Indonesia adalah negeri yang dibangun di atas
fondasi narasi yang kokoh. Dari ujung barat hingga timur, setiap jengkal tanah
memiliki guratan pada batu prasasti atau lontar atau tuturan lisan yang
diwariskan dengan penuh khidmat. Tradisi ini menunjukkan bahwa nenek moyang
bangsa Indonesia adalah pengamat yang tajam sekaligus penyusun strategi
kebudayaan yang ulung lewat kata-kata.
Tetapi bangsa Indonesia kontemporer tampaknya kepayahan
dalam mengantisipasi tren penceritaan yang merebak di industri komunikasi
domestik saat ini. Dengan kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat,
seharusnya tradisi penceritaan bangsa Indonesia semakin kuat. Nyatanya, tidak!
Meskipun berpengalaman lebih dari 30 tahun di branding, dan keahlian teknis saya
adalah copywriting, tetapi kemampuan
penceritaan saya justru dibangun dan dibiasakan di Subud. Dan keberadaan saya
di Subud belumlah selama karir saya di branding.
Baru mencapai 22 tahun pada 11 Maret 2026 lalu.
Saya mencermati, sekian banyak ceramah Bapak sarat
cerita pengalaman beliau sendiri maupun parabel-parabel dari kisah perwayangan,
karena hal itu memang merupakan cara paling sederhana untuk menyampaikan
kedalaman spiritual yang tidak sederhana. Novel The Light of the Inner Self juga merupakan salah satu “strategi”
komunikasi Bapak kepada anggota dengan cara yang menghibur. Fiksi yang imajinatif
lebih kena ke pikiran pembaca daripada nonfiksi yang akademik.
Selain kisah perwayangan dan karya tulis fiksi—sebagaimana
yang digunakan Bapak dalam menjelaskan aspek kejiwaan, Indonesia memiliki
kekayaan media komunikasi tradisional yang telah digunakan selama berabad-abad
untuk menyampaikan pesan moral, informasi sosial, hingga kritik politik kepada
masyarakat. Media-media ini sangat efektif karena bersifat
partisipatif—masyarakat tidak hanya menonton, tetapi sering kali terlibat
langsung dalam dialog atau merespons pesan yang diberikan.
Dalam ranah spiritualitas yang tidak bersandar pada
doktrin, buku teks, atau otoritas guru yang mengajar, tradisi penceritaan
bertransformasi menjadi jembatan komunikasi yang sangat vital. Fenomena ini
terlihat jelas di Subud, di mana tidak ada ajaran yang perlu dihafal atau
pelajaran yang harus dipelajari secara intelektual. Di sini, cerita bukan
digunakan untuk mendikte kebenaran, melainkan sebagai wadah untuk berbagi
pengalaman murni yang bersifat personal namun universal.
Membumikan
Pengalaman
Beberapa waktu lalu, pada hari Minggu pagi saya
memarkirkan sepeda motor saya di sebelah selatan Hall Latihan Cilandak. Dari
pelataran parkir saya dapat melihat Tatap Muka—sebuah kegiatan yang
mempertemukan anggota baru dengan para pembantu pelatih, di mana para pembantu
pelatih biasanya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan para anggota baru yang
belum sempat tersampaikan ketika mereka melalui masa tunggu tiga bulan mereka.
Tatap Muka digelar hanya sekali seminggu, tiap Minggu pagi mulai pukul 10.00
hingga 11.30 waktu Jakarta.
Sambil mengucapkan permisi, saya melewati ajang Tatap
Muka itu untuk menuju tempat nongkrong rutin saya di teras timur Hall Latihan Cilandak.
Tetapi dua dari tiga pembantu pelatih yang tengah bertugas melayani tanya-jawab
dengan para anggota itu serempak memanggil saya, dan mempersilakan saya duduk
di antara para pembantu pelatih. Saya bukan pembantu pelatih, tetapi saya
didaulat untuk menceritakan pengalaman saya dengan bimbingan Latihan. Menurut
para pembantu pelatih itu, saya adalah “gudang cerita pengalaman”. Entah dari
mana mereka mendapat informasinya, tetapi saya memang kerap menuliskan
pengalaman saya di blog saya—sebuah blog yang tidak saya harapkan untuk dibaca,
tetapi nyatanya tidak sedikit orang yang telah mengaksesnya, dan berbuntut
dengan mereka akhirnya masuk Subud.
Komunikasi antar anggota Subud sering kali berpusat
pada apa yang disebut dengan kesaksian atau penuturan pengalaman pribadi.
Karena jalan ini bersifat pengalaman langsung (empiris), maka satu-satunya cara
untuk menggambarkan apa yang terjadi di dalam diri adalah melalui narasi.
Seorang pembantu pelatih tidak berceramah kepada anggota tentang bagaimana cara
mencapai kedamaian; sebaliknya, mereka menceritakan momen ketika kedamaian itu
hadir secara tiba-tiba dalam keseharian mereka. Penceritaan ini berfungsi
sebagai cermin bagi orang lain, di mana pendengar sering kali menemukan
resonansi atau konfirmasi atas pengalaman mereka sendiri tanpa merasa digurui.
Selain itu, tradisi penceritaan di sini berperan
sebagai alat untuk membumikan pengalaman spiritual yang abstrak menjadi sesuatu
yang manusiawi. Dalam jalan yang menekankan pada perkembangan jiwa secara
alami, cerita tentang kegagalan, perjuangan, atau perubahan karakter yang halus
menjadi lebih berharga daripada teori-teori filosofis yang muluk. Melalui
cerita, para anggota membangun sebuah konsensus kolektif yang longgar tentang
bagaimana Latihan Kejiwaan bekerja dalam kehidupan nyata, mulai dari hubungan
keluarga hingga pekerjaan profesional.
Bahasa
Universal
Fungsi lain dari penceritaan dalam konteks ini adalah
sebagai pelindung dari kristalisasi ajaran. Karena cerita bersifat subjektif
dan dinamis, ia tidak mudah dibakukan menjadi hukum yang kaku. Sebuah cerita
tentang pengalaman seseorang pada hari ini bisa jadi berbeda dengan
pengalamannya tahun depan. Hal ini menjaga agar Subud tetap cair dan hidup,
sesuai dengan prinsip bahwa pertumbuhan jiwa adalah proses yang berkelanjutan
dan unik bagi setiap individu.
Pada akhirnya, penceritaan menjadi bahasa universal
yang menyatukan perbedaan latar belakang budaya dan intelektual para anggota
Subud. Tanpa adanya pelajaran formal, setiap orang berdiri sejajar sebagai
pencerita sekaligus pendengar. Komunikasi ini menciptakan sebuah ruang
persaudaraan yang organik, di mana pemahaman tidak datang dari instruksi lisan,
melainkan dari getaran makna yang terselip di antara baris-baris kisah hidup
yang dibagikan secara jujur dan rendah hati.©2026
Pondok
Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 5 April 2026