MESKIPUN tidak diketahui dengan pasti kapan
sebenarnya wahyu Latihan Kejiwaan diterima oleh Muhammad Subuh, namun tidak ada
salahnya rangkaian kegiatan peringatan 100 tahunnya diselenggarakan
susul-menyusul dengan Kongres Nasional XXXI PPK Subud Indonesia. Bisa
dibayangkan betapa hiruk-pikuknya suasana yang menyelimuti Wisma Subud
Cilandak, Wisma Barata Pamulang, dan tempat-tempat lainnya yang menyimpan
jejak-jejak kehidupan Bapak dan Subud di Pulau Jawa dan Kalimantan Tengah. Para
anggota Subud Indonesia, terutama yang ada di dalam kepanitiaan kedua
perhelatan akbar itu, sudah tentu harus menghadapi kesibukan luar biasa.
Dalam Autobiografi
RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo diceritakan bahwa Bapak sedang berjalan
kaki santai di tengah malam untuk melepas kepenatan setelah belajar tatabuku ketika
pengalaman ajaib itu beliau lalui. Diceritakan bahwa sebuah bola cahaya jatuh
ke kepala beliau ketika beliau berjalan di depan proyek pembangunan Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ)
atau Rumah Sakit Sipil Pusat yang sudah tuntas. Menilik tahun dari kejadian
yang dialami Bapak, yaitu 1925, sedangkan CBZ diresmikan pada 9 September 1925,
dapat kita perkirakan bahwa wahyu itu turun dalam rentang waktu antara akhir
Juli dan pertengahan Agustus 1925.
Tetapi di Subud, apalagi dalam budaya
masyarakat Indonesia, kapan persisnya waktu terjadinya sebuah peristiwa tidaklah
sepenting peristiwanya. Makanya, alih-alih menyelenggarakan peringatan 100
tahun pada sekitar bulan Juli atau Agustus—atau lebih pas lagi, bersamaan
dengan bulan kelahiran Bapak, Juni—Pengurus Nasional Subud Indonesia
membarengkannya dengan perhelatan dua tahun sekali di Subud Indonesia, yaitu
kongres nasionalnya. Rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan 100 Tahun
Penerimaan Bapak di bulan Januari 2025 ini menggerakkan seluruh energi menuju
Kongres Nasional PPK Subud Indonesia yang sangat meriah, dihadiri oleh 800
peserta dari 41 cabang di seluruh negeri; termasuk di antaranya 48 peserta
asing dari 18 negara.
Tanda-tanda kemeriahan bernuansa
internasional mulai tampak pada 25 Januari, ketika para anggota dari luar
negeri berdatangan ke Wisma Barata Pamulang pada malam hari. Itu hari Sabtu,
jadwal Latihan regulernya Ranting Pamulang, sehingga tak mengherankan jika
suasananya kian ramai lantaran para anggota Indonesia berbaur dengan
saudara-saudarinya dari luar negeri yang menjadi peserta kegiatan menelusuri
kembali jejak-jejak seratus tahun Latihan Kejiwaan yang diterima Muhammad Subuh
di Semarang pada tahun 1925. Hidangan cukup meriah dan lezat menanti para
hadirin, di samping izin untuk mengunjungi kamar tidur Bapak di lantai dua
rumah utama.
Dari Wisma Barata, para peserta asing
utamanya kembali ke hotel masing-masing—sebagian menginap di sejumlah tempat di
dalam kompleks Wisma Subud yang berfungsi sebagai penginapan. Panitia telah
mengoordinasi transportasi para peserta asing dari dan ke Wisma Subud, sebagai
titik kumpul mereka. Mereka menantikan acara pembuka dari rangkaian kegiatan
peringatan 100 Tahun Penerimaan Bapak keesokan harinya, 26 Januari.
Hari ke-1
KETIKA saya tiba di Wisma Subud pada sekitar
pukul setengah sepuluh, para peserta asing telah berada di dalam Hall Latihan,
mendengarkan rekaman audio ceramah Bapak. Di bagian lain dari Wisma Subud,
yaitu Adi Puri, juga tengah digelar pameran Ceramah Bapak yang diselenggarakan
oleh Pusat Arsip WSA di Jakarta. Pameran yang sama juga digelar di selasar depan
ballroom di venue Kongres Nasional XXXI PPK Subud Indonesia, yaitu di Patra
Semarang Hotel & Convention, Semarang, Jawa Tengah, pada 31 Januari hingga
2 Februari 2025. Karena kegembiraan yang tercipta di luar Hall Latihan Cilandak
pada hari Minggu yang cerah itu, dengan temu kangen antara para anggota
Indonesia dan luar negeri bertemankan minuman panas dan dingin serta nasi
kotak, beberapa kegiatan yang sebenarnya sudah ditetapkan di General Agenda terpaksa dibatalkan.
Bagaimanapun, Latihan bersama tetap diadakan, pria dan wanita bergantian, di
Hall Cilandak.


Film sejarah perjalanan Bapak dan
perkembangan Subud menghibur para hadirin yang menikmati perjamuan makan malam
di dalam Hall Cilandak. Ditampilkan pula para sesepuh Subud Indonesia untuk
berbagi cerita pengalaman mereka bersama Bapak dalam kesempatan itu. Agenda
acara cukup padat pada hari itu, membuat para peserta baru meninggalkan Hall
Cilandak ketika malam sudah larut, sementara mereka keesokan harinya harus
sudah berada di titik kumpul pagi-pagi sekali, untuk berangkat ke Sukamulya.
Hari ke-2
JIKA diurut dalam rentang masa, Sukamulya
adalah “perjalanan terakhir” Bapak. Hal ini dijadikan tema dari tur bermobil
sejumlah anggota dari Surabaya, Jawa Timur, yang dibordir di bagian punggung
jaket biru cerah yang mereka kenakan: “Dari Kedoeng Djattie ke Sukamulya” (From
Kedoeng Djattie to Sukamulya). Jaket itu dipesankan oleh pembantu pelatih
mereka (pembantu pelatih yang sama yang membuka saya 21 tahun lalu di Surabaya)
dalam jumlah cukup banyak, sehingga bahkan para pembantu pelatih dan anggota
dari berbagai cabang di Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur mendapatkannya dan
mereka kenakan dalam perjalanan ke Semarang, lokasi Kongres Nasional XXXI PPK
Subud Indonesia. Di bagian depan jaket, selain lambang Subud, juga terbordir
tulisan “Semarang, Sabtu Wage, 1 Februari 2025”. Sabtu Wage adalah hari lahir
Jawanya Bapak, sedangkan 1 Februari adalah tanggal lahirnya PPK Subud. Betapa
istimewanya Januari-Februari 2025 bagi Subud secara menyeluruh!


Selama di Sukamulya, para peserta perjalanan bersejarah
100 Tahun Penerimaan Bapak melakukan Latihan di Hall Sukamulya dan, tentu saja,
berziarah ke makam Bapak Muhammad Subuh. Makan siang dan ramah tamah tersedia
bagi peserta sebagaimana biasanya didapat para pengunjung Sukamulya bila datang
dalam rombongan. Sorenya, rombongan napak tilas kembali ke Jakarta menumpang tiga
mobil LCV Hiace Commuter yang dikoordinasi oleh panitia. Perjalanan kembali ke
Jakarta memakan waktu yang lebih lama dibandingkan berangkatnya karena
menghadapi lalu lintas yang sangat padat sejak di kawasan Puncak hingga di
Jakarta, karena waktu pulangnya bertepatan dengan jam karyawan pulang kantor.
Hari ke-3
TANGGAL 28 Januari perjalanan ke Semarang
dimulai. Semarang adalah ibukota provinsi Jawa Tengah dan memiliki nilai yang
sangat signifikan dalam sejarah Subud, karena selain Bapak bertempat tinggal
cukup lama di kota di pesisir utara Jawa ini, beliau juga mengalami penerimaan
gaib yang kelak dinamai Latihan Kejiwaan itu di sana. Ada tiga daya tarik
wisata spiritual bagi anggota Subud yang berkunjung ke Semarang, yaitu rumah
Bapak di Bergota Kalisari, area di depan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi
dimana Bapak menerima wahyu Latihan Kejiwaan, dan rumah kelahiran Bapak di
Kedungjati, yang kini secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten
Grobogan, sekitar 26 mil dari pusat kota Semarang ke arah tenggara. Pada hari
pertama di Semarang, para peserta napaktilas mengunjungi rumah Bapak di
Kalisari.


Rumah Kalisari atau oleh masyarakat setempat
disebut “Dalem Bapak Subuh” (“dalem” dalam bahasa Jawa berarti “rumah”)
terletak di kawasan Bergota, yang memiliki nilai sejarah yang penting bagi
Semarang secara keseluruhan. Semarang, yang namanya berasal dari kenyataan
bahwa di tempat dimana ia bermula terdapat “asem
arang-arang” (Jw., “pohon asam yang jarang”), berawal kurang lebih pada
abad ke-6 Masehi di daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi
Bergota) dan kelak menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan Mataram
Kuno merupakan kerajaan agraris sekaligus talasokrasi yang berdiri di Jawa
Tengah pada abad ke-8 Masehi, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10
Masehi.


Acara di Rumah Kalisari dimulai sejak sore
hingga larut malam, diisi dengan makan malam, mendengarkan rekaman audio
ceramah Bapak, dan Latihan bersama di hall yang satu atap dengan rumah utama.
Seluruh rangkaian kegiatan di Rumah Kalisari ditutup dengan mengenang
Penerimaan Bapak, baik secara penceritaan lisan maupun mengunjungi lokasi
terjadinya pengalaman gaib itu yang kini telah menjadi bagian dari RS Dr.
Kariadi yang berjarak sekitar 500 meter dari Dalem Bapak Subuh.
Hari ke-4
Keesokan paginya, para peserta napaktilas
diangkut ke Kedungjati, desa di Kabupaten Grobogan (pada zaman kolonial,
kawasan itu masuk Karesidenan Semarang; sistem karesidenan sudah tidak
digunakan lagi kini) di mana Bapak dilahirkan. Bahkan di abad ke-21 ini,
Kedungjati masih memberi kesan ketertinggalan, dengan dusun dimana rumah
kelahiran Bapak berlokasi jauh dari ingar-bingar modernitas. Di rumah yang
bangunannya sebagian besar sudah tidak orisinal itu hingga kini masih ada
jadwal Latihan rutin (Kamis dan Sabtu malam) yang diadakan oleh Ranting
Kedungjati. Di rumah Kedungjati, para peserta napaktilas juga mencicipi Latihan
bersama serta mengunjungi situs bersejarah di dekat rumah tersebut, yaitu
Stasiun Kedungjati, stasiun kereta api yang diresmikan pertama kali pada 19
Juli 1868, yang jalurnya merupakan kelanjutan dari jalur kereta api pertama di
Indonesia yang terbentang sepanjang 16,7 mil antara Semarang dan Tanggung (juga
di Kabupaten Grobogan).



Terdapat kesalahkaprahan di antara para
anggota Subud, yang mengira Bapak pernah bekerja di stasiun itu. Bahkan satu
anggota dari Surabaya, Jawa Timur, yang berkunjung ke stasiun itu pada 31
Januari, mengatakan bahwa vibrasi Latihan sangat kuat ia rasakan di peron
stasiun tersebut dan mengira bahwa Bapak sering melakukan Latihan di situ. Pernyataannya
dapat dibantah karena dua alasan: (1) Bapak menerima Latihan pertama kali di
Semarang dalam usia 24 tahun, sedangkan beliau bekerja di NIS ketika usia
beliau 17 hingga 20 tahun; (2) Autobiografi
RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo tidak menyebutkan bahwa Bapak bekerja di
Stasiun Kedungjati sebagai penata buku.
Bapak mengawali karirnya sebagai pegawai
lepasan di Nederlandsch Indische Spoorweg
Maatschappij (NIS) atau Perusahaan Perkeretaapian Hindia Belanda yang
swasta di Stasiun Kalitidu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berkat bantuan
pamannya dari garis ibu beliau yang menjabat sebagai kepala stasiun. Menemukan
keberadaan Bapak di Stasiun Kalitidu saat inspeksi, seorang pejabat NIS Belanda
mengangkat Bapak sebagai pegawai resmi dan menempatkan beliau di Stasiun
Bojonegoro sebelum memutasi beliau ke Surabaya. Autobiografi tidak memerinci nama stasiun di Surabaya tersebut,
namun secara historis satu-satunya stasiun besar di kota Surabaya yang dimiliki
NIS adalah Stasiun Pasarturi yang dibuka pada 1 April 1900.
Hari ke-5
PADA hari berikutnya, 30 Januari, para
peserta menapaktilasi perjalanan Bapak dan Ibu Sumari beserta anak-anak mereka
ke Wolodono di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sekitar 86 km dari pusat kota
Semarang. Wolodono adalah desa asal Ibu Sumari, istri Bapak. Pada zaman
pendudukan Jepang di Indonesia, untuk menjauh dari keadaan Semarang Barat yang keadaannya
genting, Bapak dan keluarga beliau mengungsi ke Wolodono dengan berjalan kaki.
Seperti dikisahkan dalam Autobiografi,
Bapak dan keluarga beliau bertemu dengan kepala gerombolan perampok di tengah
hutan, yang alih-alih menunjukkan itikad buruk malah mengundang Bapak
sekeluarga untuk bermalam di rumahnya, memberi kebetahan pada Bapak sekeluarga,
sampai ia bahkan membujuk Bapak untuk tinggal lebih lama.
Ketika saya dan tim SICA dan SES Indonesia ke
Temanggung untuk kunjungan kedua kalinya pada Oktober 2024 kami menginap di
rumah seorang anggota setempat yang berlokasi di Desa Bulu yang bertetangga
dengan Desa Wolodono. Karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat mengunjungi
rumah Ibu Sumari yang pernah ditempati Bapak sekeluarga selama mengungsi semasa
Perang Dunia Kedua, namun tuan rumah kami bercerita bahwa kerabat dari Ibu
Sumari masih bertempat tinggal di sana. Mereka tidak ada yang ikut Subud,
tetapi di desa tersebut terdapat kelompok kecil anggota Subud yang masih
melestarikan Latihan Kejiwaan yang diwariskan pendahulu mereka dari desa itu.
Kenduri Anggota
TANGGAL 31 Januari adalah hari istimewa bagi
semua anggota Subud Indonesia. Tanggal itu menandai hari pertama dari Kongres
Nasional XXXI PPK Subud Indonesia, yang berlangsung sampai 2 Februari. Bapak
menyebut kongres sebagai “kendurinya anggota”, karena di ajang itu para anggota
Subud bertemu untuk merayakan silaturahmi, temu kangen dengan
saudara-saudaranya yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.


Secara organisasi, seperti tertera dalam
Anggaran Dasar Subud Indonesia, kongres diadakan setiap dua tahun sekali, yang
dikunjungi oleh para utusan dari cabang-cabang dan lainnya yang dianggap perlu
oleh Pengurus Nasional. Jika mengikuti aturan ini, maka sebenarnya yang hadir
di kongres nasional tidak sampai seratus anggota. Nyatanya, 800 anggota dalam
dan luar negeri menghadiri Kongres Nasional XXXI di Semarang tahun ini—angka ini
lebih tinggi dari Kongres Nasional ke-30 di Surabaya pada 2023. Sebagian besar
peserta rela menempuh jarak jauh dan mengeluarkan biaya cukup besar sebenarnya
karena memandang pentingnya kongres kali ini, yang berbarengan dengan peringatan
100 Tahun Penerimaan Bapak dan ulang tahun ke-78 PPK Subud Indonesia yang
tanggal Masehinya bertepatan dengan hari pasaran kelahiran Bapak di kalender
Jawa, yaitu Sabtu Wage.
Menjadi salah satu pesertanya, saya menempuh
perjalanan bermobil bersama dua pembantu pelatih dari Subud Jakarta Pusat.
Perjalanan sejauh kira-kira 438 km dari Jakarta ke Semarang itu memakan waktu
hingga lima setengah jam. Di pelataran parkir dan lobi Patra Semarang Hotel &
Convention, saya menjumpai kendaraan-kendaraan roda empat maupun bus-bus besar
carteran sejumlah cabang telah atau baru tiba, mengangkut orang-orang yang
dengan mereka saya cukup familiar tapi hanya dua tahun sekali saya bertatap
muka. Suasana keharuan bercampur gembira menyeruak dalam pertemuan-pertemuan
kami, diiringi pelukan erat dan saling menempel pipi kanan dan kiri. Tidak
sedikit yang menyapa saya dan saya membalas sapaan mereka meskipun saya tidak
mengenal mereka—mereka rupanya mengenal saya dari profil media sosial saya;
beberapa di antaranya bahkan masuk Subud setelah membaca kisah-kisah pengalaman
saya dengan Latihan Kejiwaan yang saya unggah ke blogspot saya.
Selama tiga hari Kongres, para anggota yang
tidak memiliki kepentingan dengan kepengurusan dan kepembantupelatihan
memanjakan diri mereka dengan pertemuan-pertemuan sesaat atau berlarut-larut
dalam gathering kecil yang
menginspirasi sekaligus menambah wawasan mengenai sejarah Subud, aspek-aspek
kejiwaan serta melakoni hidup dengan bimbingan Latihan. Ballroom Ramashinta yang merupakan bagian dari Patra Semarang Hotel
& Convention dipadati para peserta dalam dan luar negeri pada sore hari, 31
Januari, untuk menyaksikan prosesi pembukaan Kongres Nasional. Pemerintah
Republik Indonesia diwakili kehadirannya oleh Wakil Menteri Kebudayaan, Giring
Ganesha Djumaryo, sedangkan Pemerintah Daerah Jawa Tengah mengutus Kepala
Bidang Kebudayaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah,
Eris Yunianto. Adalah Wakil Menteri Kebudayaan yang mendapat kehormatan untuk
membuka Kongres Nasional XXXI PPK Subud Indonesia.
Acara pembukaan berlangsung sangat meriah dengan pertunjukan tari-tarian dan
musik, dan kian meriah keesokan malamnya, 1 Februari, yang merupakan puncak
acara peringatan 100 Tahun Penerimaan Bapak dan perayaan ulang tahun ke-78 PPK
Subud Indonesia. Semua yang hadir merasakan bahwa kemeriahan di dalam ballroom dan hujan deras terus-menerus
di luar ballroom memastikan bahwa
jejak-jejak seratus tahun yang telah lewat akan tercetak kembali seratus tahun
ke depan dengan optimisme yang langgeng.©2025
Pondok Cabe,
Tangerang Selatan, 7 Februari 2025