“One
step at a time
There’s no need to rush
It’s like learning to fly
Or falling in love
It’s gonna happen and it’s
Supposed to happen that we
Find the reasons why...”
There’s no need to rush
It’s like learning to fly
Or falling in love
It’s gonna happen and it’s
Supposed to happen that we
Find the reasons why...”
—Jordin Sparks, dari lirik lagu “One
Step At a Time” (2008)
TAHUN 2001,
saya dan rekan sekantor saya di Surabaya, seorang pengarah seni (art director) di sebuah biro iklan papan
atas di Kota Pahlawan, ditugasi bos kami untuk pergi ke Yogya. Misi kami adalah
untuk membicarakan kerjasama antara biro iklan tempat kami bekerja dengan
sebuah griya produksi (production house)
yang berbasis di Yogya. Rekan saya, sang pengarah seni, bernama Andri, sangat
mengenal Yogya, karena walaupun ia asal Pekalongan, ia menimba ilmu desain
grafis di Institut Seni Indonesia (ISI) yang memang berlokasi di ibukota provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta itu.
Saat itu
merupakan kali kedua saya berkunjung ke Kota Yogya. Yang pertama adalah pada
tahun 1992, dalam rangka liburan akhir semester. Tetapi, kali kedua inilah yang
berkesan, karena mematri sebuah pelajaran yang bertahun-tahun kemudian masih
saya ingat dan menjadi cara saya menjalani hidup.
Pada hari saya
dan Andri tiba di Kota Yogya, yang perjalanannya dari Surabaya kami tempuh
dengan bus, kami diajak dua teman Andri semasa kuliah, yang tampaknya
enggan meninggalkan kota itu meskipun sudah lama tamat pendidikannya di ISI,
menikmati bakmi godog khas Yogya (sebutan lazimnya “bakmi Jawa” untuk
membedakannya dengan bakmi Cina yang pengolahan dan racikan bumbunya memang
berbeda). Ada satu pedagang kakilima bakmi godog di dekat tempat saya dan Andri
menginap (yaitu kamar kos yang pernah dihuni Andri semasa kuliah dahulu) di Jl.
HOS Cokroaminoto.
Kami berempat
dan masing-masing dari kami memesan menu yang sama: Bakmi godog nyemek. Setelah menerima pesanan kami,
si pedagang mulai menyiapkan menu tersebut. Nah, di sinilah saya menyaksikan
sesuatu yang unik. Meskipun kami berempat memesan menu yang sama, si pedagang
memasaknya satu per satu—porsi per porsi, bukan sekaligus banyak, yang menurut
saya bisa dia lakukan dengan menakar terlebih dahulu bumbu dan bahannya dengan
standar untuk empat porsi. Bagaimanapun, hal mudah itu tidak dia lakukan; dia
tetap memasak empat porsi bakmi godog nyemek
satu demi satu.
Saya tidak
memprotes pendekatan si pedagang bakmi godog itu. Saya pikir, biarlah, mungkin
itu memang caranya, meskipun saya sama sekali tidak paham mengapa begitu cara
dia. Andri, yang menangkap kegelisahan saya dengan cara si pedagang bakmi godog
kakilima itu menyajikan pesanan pembelinya, berujar, “Jangan heran, Mas. Memang
begitu cara penjual makanan di Yogya.”
Tetapi, si
Andri tidak menjelaskan mengapa begitu. Saya rasa, dia juga tidak mengerti
mengapa, dan hanya nrimo saja
kenyataan itu, seakan hal itu merupakan suatu adat warisan leluhur yang tidak
patut dipertanyakan. Saya pun segera lupa dengan kegelisahan dan tanya di benak
saya ketika piring bermuatan bakmi godog nyemek
beraroma mengundang selera telah dihidangkan di hadapan saya. Hanya setelah
masuk SUBUD bertahun-tahun kemudian saya menerima, melalui pengalaman saya,
pengertian mengapa segala sesuatu harus dilakukan atau disikapi satu per satu. One step at a time, istilahnya dalam bahasa Inggris.
Saya teringat
ketika masih aktif di industri periklanan Surabaya, yang minim sumber daya
manusianya untuk sejumlah profesi praktisi periklanan. Sebagai copywriter, yang tugasnya adalah
menemukan ide, mengonsepkan sebuah iklan berdasarkan ide tersebut, dan menuangkannya
dalam wujud naskah atau teks, saya juga melakukan tugas ganda (multitasking) dengan menjadi perencana
strategi (strategic planner), dan pembina
usaha (account executive). Saat itu,
saya bangga dengan kemampuan saya melakukan tugas ganda, tetapi lama kelamaan
saya menyadari kualitas hasil pekerjaan saya tidaklah layak dibanggakan. Kualitasnya
sedang-sedang saja untuk ketiga pekerjaan itu.
Di SUBUD, dari
beberapa ceramah Bapak Subuh yang pernah saya baca atau dengarkan, saya
mendapat pengertian bahwa segala sesuatu jangan dilekaskan, jangan dipercepat
dari proses normalnya, atau jangan melakukan banyak hal sekaligus, karena kita
akan kehilangan momen “melatih rasa” atau perasaan nikmat dari prosesnya. “Ingin
lekas bisa itu malah memperkosa jiwa,” demikian Bapak mengatakan. Saya
merenungkan beberapa pengalaman saya di masa lalu, di mana suatu pencapaian
yang instan tidak menghidupkan intelektualitas saya, dibandingkan dengan
pencapaian melalui proses panjang, yang memberi saya kesempatan untuk belajar,
mengobservasi, coba-salah (trial-and-error),
dan pengertian berangsur-angsur.
Baru-baru ini,
pada hari Lebaran pertama tahun 2019/1440 Hijriyah, saya berlebaran ke rumah
sepupu saya. Sepupu saya menghidangkan menu beragam, dari bakso sampai ketupat
dan lauk-pauknya. Alih-alih bingung memilih mana dulu yang harus saya makan,
saya sejak dari rumah sudah mendapat bimbingan dari dalam untuk makan dua jenis
makanan yang berbeda dengan jeda dari satu ke yang lainnya satu hingga satu
setengah jam. Saya makan bakso terlebih dahulu. Benar-benar terasa lezatnya,
apalagi saya makannya perlahan, mengunyah dengan baik, merasakan setiap jengkal
makanan yang masuk ke mulut saya. Lalu, saya istirahat satu jam dari makan apa
pun lainnya, hanya minum air mineral. Sejam kemudian, barulah saya mencicipi
ketupat bersama lauk-pauknya. Nikmatnya tiada tara dan tidak membuat saya
kekenyangan. Saya bersyukur Tuhan telah membimbing saya dalam cara mengonsumsi
makanan di hari raya Idul Fitri yang sarat hidangan istimewa itu.
Melakukan
berbagai kegiatan atau memikirkan berbagai hal secara bersamaan dalam satu
waktu menghilangkan kenikmatan yang seharusnya kita rasakan dalam melakoni
hidup ini. Nikmat itu ada dalam proses, dari tahap ke tahap, waktu ke waktu, dengan perasaan sabar, tawakal, dan ikhlas.
Proses yang kita lalui menghidupkan kesadaran penuh pada diri kita sendiri dan pada
peristiwa-peristiwa yang melengkapi proses tersebut. Dalam proses itu, kita
menyaksikan bekerjanya bimbingan Tuhan Yang Maha Tak Terbatas. Suka menjalani
prosesnya adalah tanda bahwa kita sukses. Sukses adalah “SUKa berproSES.©2019
Jl.
Pondok Cabe III Gang Buntu, Tangerang Selatan, 9 Juni 2019
No comments:
Post a Comment