Tuesday, December 30, 2025

Arifin Dwi Slamet’s Quotes—2025

“Belajarlah sebanyak-banyaknya dari buku-buku, tapi untuk mendapatkan pemahaman sebanyak-banyaknya hanya bisa melalui sabar, tawakal, ikhlas.” (Arifin Dwi Slamet, 30 Januari 2025)

“Rasa yang kita dapat dari penderitaan hidup tergantung sudut pandang kita: Sebagai nikmat Tuhan atau sebagai hukumanNya.” (Arifin Dwi Slamet, 17 Maret 2025)

“Pelajaran yang saya petik dari hidup ini adalah bahwa kita tidak bisa benar-benar konsisten dengan apa-apa yang kita yakini.” (Arifin Dwi Slamet, 22 April 2025)

“Subud is for personal growth. Yet many people don’t want to grow and eventually know the truth. Many quit the Subud Latihan after realizing their inner truth, which is beyond their wishes. You see, we like to control God, and despise the act of surrendering to His Will. ‘Let go, let God’ isn’t the name of the game many so-called modern people know.” (Arifin Dwi Slamet, pesan WhatsApp kepada teman)

“Lebih baik dibenci karena apa adanya, daripada dicintai karena berpura-pura.” (Arifin Dwi Slamet, 21 Mei 2025)

“Orang yang terus menerus baper terhadap satu hal yang memicu kebaperannya sesungguhnya tidak pernah beranjak dari masa lalu. Nikmatnya hidup terletak di Saat Ini.” (Arifin Dwi Slamet, 27 Mei 2025)

“Setiap kali Anda merasa tidak bisa akur dengan seseorang, jangan lantas menyalahkan dia. Kemungkinan paling besar, diri Andalah penghambatnya. Dengan energi ikhlas Anda bisa cocok dengan siapa saja. (Arifin Dwi Slamet, 2 Juni 2025)

“How can you forget the rules if you don’t know any of them? To know them you have to practise them.” (Arifin Dwi Slamet, 5 Juli 2025)

“Dipuji itu jauh lebih menantang daripada dicaci. Dipuji membuat lupa diri, dicaci bisa menyentuh kesadaran diri. Jangan sampai tersandung karena merasa tersanjung.” (Arifin Dwi Slamet, 7 Juli 2025)

“Menjadi kreatif bukan perkara membuat sesuatu yang baru, melainkan melakukan secara berbeda.” (Arifin Dwi Slamet, 9 Juli 2025)

“Seperti cinta yang tidak selalu bisa dimiliki, tapi selalu indah untuk dirasakan.” (Anonim, 17 Agustus 2025)

“Tidak ada pemahaman yang tuntas. Yang kamu pahami saat ini adalah untuk Saat Ini.” (Arifin Dwi Slamet, 5 September 2025)

“Lompatan yang tinggi membutuhkan daya tolak yang kuat. Jadi, jangan berkecil hati jika saat ini kamu ditolak di sana-sini atau direndahkan, karena itu pertanda kesuksesanmu akan melesat lebih jauh dari posisimu saat ini.” (Arifin Dwi Slamet, 15 September 2025)

“If women are always right and men are always wrong, then when I tell you that you are right does that mean I am wrong?” (Anonim)

“Kalau kamu culas, menjahati orang lain untuk memuaskan egomu, berkata tidak benar tentang orang lain karena kamu malu mengakui yang sebenarnya, maka saya tidak heran kalau kamu mengalami ujian hidup yang berat saat ini. Bukan Tuhan yang sedang mengujimu, tapi kamu sendiri yang menciptakan ujian itu bagi dirimu sendiri. Cobalah kamu menginsafi apa yang pernah kamu perbuat di masa yang belum lama lalu.” (Arifin Dwi Slamet, 6 Oktober 2025, dengan Andrea Ramschie di pikirannya)

“Alasan mengapa kita sulit bahagia adalah karena kita selalu berusaha menemukan alasan untuk bahagia.” (Arifin Dwi Slamet, 7 Oktober 2025)

“Kecantikan itu energi yang terpancar dari diri seseorang, bukan penampakan fisiknya.” (Arifin Dwi Slamet, 12 Oktober 2025)

“If you always put limit on everything you do, physical or anything else. It will spread into your work and into your life. There are no limits. There are only plateaus, and you must not stay there, you must go beyond them.” (Bruce Lee)

“Subud itu adalah praktik, bukan pelajaran yang hanya berhenti pada pembahasan lisan atau tulisan. Membahas sabar, tawakal, dan ikhlas tanpa mengalaminya langsung takkan membawa kita pada pemahaman hakikinya. Dan sabar, tawakal, dan ikhlas itu merupakan hidayah atau bimbingan dari Yang Maha Kuasa yang tidak ada dasar teorinya. Untuk mengenal Subud, cukup, dan satu-satunya, hanya dengan melakukan Latihan Kejiwaan dengan rajin dan tekun.” (Arifin Dwi Slamet, 16 Desember 2025) ©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Desember 2025

Ketika Ucapan Spontan Menjadi Kenyataan

TANGGAL 28 Desember 2025 saya mendapat kabar duka dari Iskandar Henry—salah satu pembantu pelatih Subud Cabang Jakarta Selatan, bahwa sahabat dan mantan rekan kerja saya sekaligus saudara Subud saya (meski sudah lama tidak Latihan lagi), Agus Ichwanto namanya, meninggal dunia. Iskandar mengetahuinya karena istrinya merupakan teman SMA dari istrinya Agus.

Saya kemudian mengirim pesan WhatsApp ke Mas Heru, pembantu pelatih dari Cabang Surabaya yang kini bermukim di Madiun, yang memperkenalkan saya dan Agus kepada Subud pada tahun 2003. Mas Heru mengingatkan saya pada insiden pada tahun 2004, ketika saya baru dibuka.

Setelah saya dibuka, Agus datang ke Surabaya lagi sebentar karena ada suatu urusan bisnis. Agus pernah dua tahun tinggal di Surabaya di mana saya sudah duluan tinggal di sana. Kami berteman baik sejak 1996 ketika dia bergabung di biro iklan tempat saya bekerja, Rama & Grey. Dia menginap di Hotel Narita, hotel bintang tiga di Jl. Barata Jaya XVII, Surabaya, ditemani Mas Heru.

Suatu malam, saya bertemu dengan Agus dan Mas Heru di lobi Hotel Narita. Agus berkata ke saya di depan Heru, nadanya terdengar emosional: “Gue pengen masuk Subud tapi kalau cobaannya kayak Mas Heru gue nggak sanggup! Gue nggak sanggup kalau sampai kehilangan anak dan istri!”

Saat itu, Mas Heru sedang melalui periode pembersihan gila-gilaan, kehilangan hampir segalanya. Mulai dari istri yang minta cerai dan anak perempuan semata wayangnya dibawa sang mantan istri, sampai dia hidup terlunta-lunta di jalan tanpa atap dan kadang tidak makan sehari.

Lalu, saya spontan berkata ke Agus, bahwa ujian hidup setiap orang tidak ada yang sama. “Kalau sama semua, Tuhan nggak kreatif,” kata saya bercanda. Lalu, saya lanjut berkata, serius, “Lo mungkin nggak akan kehilangan keluarga lo, Gus. Tapi kalau lo kehilangan ingatan bagaimana?!”

Si Agus kaget mendengar ucapan saya dan dia berpikir lama, tetapi tidak merespons saya.

Nah, ketika saya mengabari meninggalnya Agus ke Mas Heru, hari Minggu kemarin, dan bahwa dia tahun 2017 dirawat tiga bulan di rumah sakit akibat virus otak yang membuat dia hilang ingatan (sampai meninggal, Agus belum pulih benar), Mas Heru teringat ucapan saya di lobi Hotel Narita, 21 tahun lalu.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Desember 2025

Saturday, December 27, 2025

Obituari: Agus Ichwanto (16 Agustus 1968-28 Desember 2025)

 


MENGENALNYA pertama kali tahun 1996 ketika ia bergabung sebagai Senior Copywriter di Rama & Grey (PT Rama Perwira), sebuah biro iklan multinasional tempat saya bekerja saat itu, yang kala itu kantornya berlokasi di pinggir Terminal Bus Blok M, sejajar dengan Fuji Image Plaza dan toko mainan Hoya. Eksentrik orangnya tetapi bisa cocok dengan saya. Dialah booster ide-ide kreatif pada diri saya, melalui lelucon-leluconnya yang aneh.

Agus Ichwanto namanya. Pada ulang tahunnya, 16 Agustus, selalu saya kirimi ucapan selamat via WhatsApp disertai info bahwa tanggal ulang tahunnya sama dengan tanggal kelahiran unit Angkatan Darat Amerika Serikat favorit saya, Divisi Lintas Udara ke-101.

Kami sama-sama dipecat dari Rama & Grey, hanya selisih beberapa bulan, dan saya sempat freelance untuk dia ketika dia menjadi Head of Marketing Communications PT Jayaboard Indonesia. Seolah berjodoh, kami bersua kembali dan menjadi satu tim di Kota Pahlawan pada 2002. Saat Agus menjadi General Manager Apel Putih Advertising, dia “menyeret” saya untuk tandem dengan dia, sebagai Creative Director.

Di Apel Putih pun, kami juga sama-sama dipecat, pada 2003. Agus kembali ke Jakarta sementara saya bertahan di Surabaya. Agus masih sesekali balik ke Surabaya. Melalui dialah, saya berkenalan dengan orang yang kelak menjembatani saya dengan Subud, Mas Heru Iman Sayudi. Agus sudah tahu Subud duluan, tapi masuk Subudnya saya duluan—Agus dibuka di Subud Kelompok Merdeka Selatan (Danareksa) pada Oktober 2005, sekitar satu setengah tahun setelah saya mengalami pembukaan di Cabang Surabaya.

Almarhum Agus Ichwanto ketika berkunjung ke kantor saya di Jl. Kalibata Selatan II, 15 September 2017.

Meski jarang berjumpa secara tatap muka, kami tetap berkoneksi. Sekali waktu, 15 September 2017, Agus mengunjungi kantor saya di Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan. Dia bercerita bahwa dia baru pulih dari penyakit yang disebabkan oleh virus otak yang mengakibatkan ingatannya hilang. Menurut Agus, satu-satunya yang dia ingat di kala sakit adalah “Latihan Kejiwaan Subud”.

Sore ini, saya di-WhatsApp oleh satu saudara Subud, Iskandar Henry, bahwa sahabat saya, rekan kerja saya sesama copywriter, dan juga saudara Subud saya, Agus Ichwanto, telah berpulang ke Sang Pencipta. Semoga almarhum selalu dalam kemurahan Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 28 Desember 2025

Sunday, December 21, 2025

Kekuatan Untuk Mengubah Hidup

“TUA itu pasti, dewasa itu pilihan,” merupakan kutipan yang kerap berseliweran di grup-grup WhatsApp alumni sekolah-sekolah dimana saya pernah mengenyam pendidikan, baik di tingkat prasekolah, dasar, menengah dan tinggi.

Dan teman-teman saya, dengan kesadaran akan ke-tua-an mereka, cenderung melekatkan pada diri mereka persepsi tentang usia tua, yaitu penyakit(an), membekali diri menyambut akhir hayat, dan kemampuan fisik yang berkurang secara signifikan. Padahal penyakit, maut dan kemampuan fisik tidak ada hubungan dengan usia.

Usia memang konsep yang multifaset: secara biologis dan administratif (angka), usia adalah hitungan waktu sejak lahir yang memengaruhi kematangan fisik dan kognitif; tetapi secara psikologis, sosial, dan potensi, usia sering dianggap hanya konsep atau “angka” karena tidak sepenuhnya menentukan kemampuan, kebijaksanaan, atau kualitas hidup seseorang, yang lebih tergantung pada pola pikir, pengalaman, dan tindakan. 

Saya mempelesetkan kutipan di atas menjadi “fisik menjadi tua itu pasti, tapi menjadi muda terus itu pikiran.”

Kalimat “Kamu akan menjadi seperti apa yang kamu pikirkan” (Buddha Gautama) atau “Hati-hati dengan apa yang kamu pikirkan, karena itu jadi kenyataanmu” (Plato), menegaskan bahwa pikiran kitalah yang akan membentuk realitas, tindakan, kebiasaan, karakter, bahkan takdir kita. Pikiran positif mengarah ke hasil positif dan pikiran negatif ke sebaliknya, melalui mekanisme psikologis seperti self-fulfilling prophecy, yang perlu dikelola dengan sadar agar hidup lebih baik dan sukses. 

Pada dasarnya, kedua kalimat di atas adalah pengingat kuat bahwa kita memiliki kekuatan untuk mengubah hidup dengan mengendalikan dan mengarahkan kekuatan pikiran kita ke arah yang lebih positif dan produktif. 

Pikiranlah yang terus-menerus membentuk persepsi kita tentang dunia, memengaruhi emosi, keputusan, dan tindakan sehari-hari. Pikiran Tindakan Kebiasaan Karakter Takdir, ini adalah alur logisnya. Apa yang kita pikirkan keluar jadi ucapan, lalu tindakan berulang menjadi kebiasaan, kebiasaan membentuk karakter, dan karakter menentukan takdir.

Keyakinan kita (misalnya, takut gagal) bisa memicu tindakan yang justru menyebabkan kegagalan itu terjadi. Pikiran negatif dan stres bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh, sementara optimisme bisa memperkuatnya.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Desember 2025

Thursday, December 18, 2025

Perdukunan 2.0

 

Poster film Dukun Magang, sebuah film horor-komedi Indonesia yang baru saja dirilis pada November 2025 lalu. Industri film Indonesia terus memanfaatkan obsesi masyarakat—terutama di kalangan Gen Z—terhadap tema-tema yang berpusat pada horor dan perdukunan. 

MENJELANG akhir tahun 2005, saya menyertai seorang pembantu pelatih senior dari Cabang Jakarta Selatan yang diundang untuk mengunjungi Cabang Probolinggo, Jawa Timur. Seorang pembantu pelatih yang lebih muda juga ikut bersama kami. Kami tidak langsung menuju Probolinggo; melainkan terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta ke Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo, yang berjarak sekitar 18,5 kilometer dari pusat kota Surabaya, ibu kota Jawa Timur. Kami menginap semalam di Surabaya, yang memberi kami kesempatan untuk memenuhi undangan dari Cabang Surabaya—cabang yang sama di mana saya menyelesaikan kandidatan saya sebelum akhirnya dibuka.

Malam itu di Hall Surabaya, pembantu pelatih senior dari Cabang Jakarta Selatan tersebut diminta untuk memberikan ceramah, yang kemudian dilanjutkan dengan gathering kejiwaan. Beliau memiliki kekayaan pengalaman dan bakat alami dalam berkomunikasi; orang-orang sangat menyukai beliau dan selalu menantikan kunjungan beliau ke cabang-cabang mereka. Pemahaman beliau tentang kejiwaan sungguh mendalam, menjangkau jauh melampaui konteks standar Subud. Beliau wafat pada tahun 2010. Setelah dibuka pada tahun 1972, beliau sebenarnya sempat meninggalkan Subud setelah hanya tiga tahun melakukan Latihan—sebuah episode dalam perjalanan spiritual beliau yang beliau sebut sebagai “masa pembersihan”.

Selama masa vakumnya dari Subud, beliau menjadi seorang dukun, “mewarisi” kemampuan dari ayah beliau yang kabarnya adalah seorang dukun sakti. Menariknya, beliau tidak diperkenalkan ke Subud oleh ayah beliau, melainkan oleh seorang paman yang telah membesarkan beliau sejak kecil. Setelah sepuluh tahun mempraktikkan perdukunan, beliau akhirnya kembali ke pangkuan Subud.

Beliau membagikan kisah ini dalam pertemuan dengan para anggota di Surabaya malam itu, pada tanggal 30 Desember 2005. Cerita beliau memicu seorang pembantu pelatih wanita untuk bertanya, “Apakah benar anggota Subud tidak bisa disantet?”

“Siapa bilang?” jawab pembantu pelatih senior itu. “Tentu saja bisa!”

Pembantu pelatih wanita itu terperanjat. Selama ini, ia selalu mendengar dari pembantu pelatih lain, para anggota, bahkan dalam ceramah-ceramah Bapak dan Ibu Rahayu bahwa kekuatan gelap atau “daya setaniah” tidak dapat menyentuh anggota Subud. Pembantu pelatih senior itu tertawa terbahak-bahak sebelum melanjutkan, “Maksud saya, kecuali anggota Subud yang sabar, tawakal, dan ikhlas.”

Gathering malam itu menjadi semarak ketika diskusi beralih ke topik perdukunan dan masalah mixing. Di Indonesia, perdukunan bukanlah hal yang asing atau tidak lazim. Dahulu, pada masa-masa awal Subud, banyak anggota yang terlibat dalam “pengobatan alternatif”, yang oleh masyarakat Indonesia umumnya dikategorikan sebagai “pekerjaan dukun”. Pada masa itu, orang-orang di luar Subud bahkan menyebut Bapak sebagai seorang dukun karena beliau melakukan praktik penyembuhan, meskipun beliau dengan ketat memegang teguh prinsip “mengikuti petunjuk Tuhan” melalui pembukaan (asalkan pasien menerima tawaran tersebut, seperti yang terjadi pada Prio Hartono).

Salah satu bibi saya, yang tahu bahwa saya telah masuk Subud, membagikan kisah beliau saat diobati oleh Pak Subuh. Beliau pindah ke daerah Pondok Labu, dekat Wisma Subud di Cilandak, pada tahun 1979. Sebenarnya tetangga beliaulah yang menyarankan agar beliau pergi menemui “orang pintar” di Wisma Subud bernama Pak Subuh untuk mencari kesembuhan atas penyakitnya. Bibi saya akhirnya memang sembuh, tetapi beliau sendiri tidak pernah masuk Subud. Bahkan, ketika putri bungsunya menyatakan minat untuk masuk, bibi saya dan suami beliau tidak mengizinkannya. “Islam sudah cukup,” kata putri beliau kepada saya, menjelaskan alasan orang tuanya.

Di Indonesia, khususnya dalam lingkaran tradisional, perdukunan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini—terutama sejak krisis keuangan Asia di akhir tahun 90-an—bukan hal yang aneh bagi orang Indonesia modern untuk menggantungkan harapan mereka pada dukun. Para praktisi ini telah melakukan pencitraan ulang (rebranding) yang modern; mereka tidak lagi berpakaian tradisional atau menggunakan gelar kuno. Alih-alih menyebut diri mereka dukun atau orang pintar, mereka kini memasarkan diri sebagai “inspirator” atau “mindset coach”.

Kelestarian perdukunan di Indonesia merupakan perpaduan kompleks antara warisan budaya yang berakar dalam, kebutuhan psikologis akan kepastian, dan terbatasnya akses ke lembaga-lembaga formal.

Sejarah Indonesia berjangkar pada kepercayaan animisme, dinamisme, serta pengaruh Hindu-Buddha yang telah ada jauh sebelum penyebaran agama-agama Abrahamik. Warisan ini membentuk kepercayaan masyarakat terhadap “orang pintar”, terutama karena praktik-praktik tersebut sering kali diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga. Dukun dipandang sebagai penjaga kearifan lokal, yang menyeimbangkan dunia manusia dengan alam gaib. Di banyak wilayah di tanah air, para praktisi—seperti dukun bayi atau tetua adat—memiliki kedudukan sosial yang bergengsi dan dianggap sebagai pemimpin masyarakat.

Pada tahun 2016, saat melakukan perjalanan ke pelosok sebuah daerah di Jawa Tengah untuk menyelidiki mengapa masyarakat setempat menolak pembangunan pabrik semen baru, saya bertemu dengan beberapa warga yang mengaku bahwa mereka sangat ketakutan terhadap seorang preman lokal yang dijuluki “Dukun Sakti”. Ketakutan ini memaksa mereka untuk mematuhinya daripada mengambil risiko menjadi sasaran ilmu hitamnya. Alhasil, mereka memberikan dukungan penuh terhadap penolakannya atas pembangunan pabrik semen di daerah mereka.

Berkat bantuan seorang pembantu pelatih dari cabang Subud setempat, saya berhasil menemui sang “dukun sakti” ini di rumahnya dan mewawancarainya selama dua jam. Saya memperhatikan bahwa dia sama sekali tidak memancarkan aura seorang dukun. Entah karena keseleo lidah atau hal lain, dia mengaku bahwa dia sering tampil di depan umum dengan pakaian serba hitam dan ikat kepala senada karena dia yakin hal itu memproyeksikan “aura yang menakutkan”. Saya sampai pada kesimpulan bahwa dia bukanlah dukun sungguhan; dia hanya menggunakan citra tersebut untuk mengintimidasi orang—dan cara itu berhasil. Itulah realitas bagi kebanyakan orang di pelosok Indonesia: mereka mudah goyah oleh penampilan luar.

Inilah gambaran stereotip mengenai dukun yang begitu mendarah daging dalam psikis masyarakat Indonesia. Seorang anggota Subud lama di Jakarta pernah bercerita kepada saya bahwa sebelum masuk Subud, ia sering berkonsultasi dengan dukun. Ia sangat terkejut saat pertama kali bertemu Pak Subuh, yang penampilannya sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan—begitu berbedanya, hingga pada awalnya ia mengira Bapak tidak memiliki kekuatan spiritual sama sekali.

Orang sering kali berpaling ke dukun saat menghadapi frustrasi sosial atau tekanan hidup yang hebat. Banyak yang mencari “jalan pintas” tanpa proses panjang—baik itu untuk kekayaan, asmara, maupun kenaikan jabatan. Mengunjungi dukun memberikan rasa tenang atau “kepastian semu” bagi mereka yang sedang berada di tengah krisis kesehatan, keuangan, atau hubungan.

Pada tingkat praktis, dukun sering kali menjadi pilihan utama karena mereka lebih mudah dijangkau daripada sistem formal. Dibandingkan dengan biaya rumah sakit yang mahal atau konsultasi hukum yang rumit, jasa dukun dipandang lebih terjangkau atau berbasis sistem “bayar seikhlasnya”. Di daerah terpencil dengan tenaga medis yang minim, dukun tetap menjadi pilihan utama untuk persalinan dan layanan kesehatan umum.

Bahkan dalam politik Indonesia—mulai dari pemilihan gubernur hingga pemilihan kepala desa—banyak kandidat yang masih menyewa jasa dukun untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka atau untuk berfungsi sebagai “perisai spiritual” terhadap serangan lawan-lawan mereka.

Di hadapan modernisasi yang pesat dan banjir informasi yang tak henti-hentinya, perdukunan di Indonesia tidaklah memudar; melainkan bertransformasi dan menemukan relevansi jenis baru. Dukun, yang dulunya hanya dikaitkan dengan ritual mistis di desa-desa terpencil, kini tampil dengan gaya kontemporer. Mereka memainkan peran yang semakin signifikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan di kalangan elit perkotaan dan kaum terpelajar.

Pergeseran ini terkait erat dengan gejolak sosial dan ekonomi, terutama setelah krisis keuangan Asia 1997-1998. Ketidakpastian dan tekanan hidup telah mendorong banyak orang untuk mencari dukungan dan solusi di luar saluran konvensional. Di sinilah dukun modern menemukan ceruk pasar mereka. Mereka bukan lagi sekadar “orang pintar” dengan mantra-mantranya; mereka telah melakukan pencitraan ulang sebagai “inspirator”, “motivator spiritual”, atau bahkan “mindset coach” yang menawarkan perpaduan antara bimbingan psikologis dan spiritual.

Dukun modern adalah ahli dalam pemasaran dan komunikasi. Mereka memanfaatkan media sosial, situs web pribadi, bahkan tampil di media arus utama untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Mereka menggunakan gelar profesional seperti “certified paranormal” (paranormal bersertifikat) atau “spiritual healer” (penyembuh spiritual), yang membuktikan betapa baiknya mereka beradaptasi dengan tuntutan zaman modern.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik permukaan modernitas, masyarakat Indonesia tetap menjaga hubungan yang berakar kuat dengan dimensi spiritual dan metafisika. Dukun modern adalah contoh adaptasi budaya yang menarik—sebuah bukti bagaimana tradisi kuno menemukan cara untuk tetap relevan dan tetap menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam masyarakat Indonesia kontemporer.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 19 Desember 2025

Tuesday, December 9, 2025

Puisi “Percaya” dari Hein Pragt


Hein Pragt adalah seorang musisi Belanda yang kemampuannya dia peroleh dari autismenya. Pada tahun 2000, ia kembali menulis puisi di masa yang sangat sulit dan rumit dalam hidupnya sebagai motivasi bagi dirinya sendiri. Karena puisi ini telah sering dikutip dan ia telah menerima banyak tanggapan mengenainya selama dua puluh tahun terakhir, ia memutuskan untuk menempatkan puisi ini di laman terpisah dari situs Webnya, www.heinpragt.com, untuk menambahkan sedikit konteks. Puisi berikut ia terbitkan pada 8 November 2023.




Geloven                                   

Soms overdenk ik in mijn bed, wat het leven eigenlijk is, over geluk, pijn en verdriet en alles wat ik mis. Maar je ervaring maakt je sterk, en je toekomst wordt bepaald, door wat je vandaag beleeft, en uit je leven haalt.

Denk goed na over wat je wilt, en bepaal je nieuwe doelen, als je verleden kunt vergeten, dan kun je echt weer voelen. Wees oprecht en eerlijk voor jezelf, en in het algemeen, verplaats je in gevoelens van mensen om je heen.

Leer je grenzen te bewaken, en durf anders te zijn, je aan principes houden, geen water bij de wijn. Je werkelijke kracht, om gelukkig te kunnen leven, is niet bang of boos te blijven, maar berusten of vergeven.

Leer als je geluk wilt vinden, al heb je nog zo'n pijn, alsof je nooit gekwetst bent, weer verliefd te kunnen zijn. Al heb je nu veel zorgen, hou de toekomst in je hoofd, en zie dat alles mogelijk is, als je er maar in gelooft.

Hein Pragt


Terjemahannya:

Percaya

Kadang-kadang aku merenungkan di tempat tidurku, apa sebenarnya hidup itu, tentang kebahagiaan, rasa sakit, dan kesedihan dan semua yang kurindukan. Tetapi pengalamanmu membuatmu kuat, dan masa depanmu ditentukan, oleh apa yang kamu alami hari ini, dan yang kamu dapatkan dari hidupmu.

Pikirkan baik-baik tentang apa yang kamu inginkan, dan tentukan tujuan barumu, jika kamu dapat melupakan masa lalu, maka kamu benar-benar dapat merasakan lagi. Jujurlah dan tuluslah pada dirimu sendiri, dan secara umum, tempatkan dirimu dalam perasaan orang-orang di sekitarmu.

Belajarlah untuk menjaga batas-batasmu, dan berani untuk berbeda, berpegang pada prinsip-prinsipmu, jangan berkompromi. Kekuatanmu yang sebenarnya, untuk dapat hidup bahagia, adalah tidak tetap takut atau marah, tetapi pasrah atau memaafkan.

Belajarlah jika kamu ingin menemukan kebahagiaan, meskipun kamu merasa sangat sakit, untuk dapat jatuh cinta lagi, seolah-olah kamu tidak pernah terluka. Meskipun kamu sekarang memiliki banyak kekhawatiran, ingatlah masa depan di benakmu, dan lihatlah bahwa semuanya mungkin, asalkan kamu memercayainya.

Hein Pragt

Saturday, December 6, 2025

Mengikuti Arahan Latihan

SEJAK tahun lalu, saya menjadi kontributor Subud Voice untuk berita-berita atau artikel-artikel terkait Subud Indonesia. Kadang pemimpin redaksinya meminta saya menulis tentang suatu event di lingkungan Subud Indonesia. Bagi saya hal itu sangat mudah, hanya bila saya sendiri menghadirinya.

Yang tidak terlalu mudah adalah bila saya tidak menghadirinya. Masalahnya, orang Indonesia kebanyakan tidak terlalu suka membagi cerita secara tertulis, sehingga yang muncul di media sosial mereka yang menghadiri acara-acara Subud jarang sekali—jika tidak bisa dikatakan “tidak sama sekali”—berupa tulisan yang bercerita secara detail mengenai acara tersebut. Biasanya, hanya foto-foto, yang bahkan tidak mencantumkan caption.

Menurut saya, ada beberapa alasan mengapa orang Indonesia mungkin tidak terlalu suka bercerita secara tertulis:

1. Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, di mana cerita dan pengalaman seringkali dibagikan secara langsung melalui percakapan atau pertunjukan seni seperti wayang kulit atau teater tradisional.

2. Bahasa Indonesia memiliki struktur yang kompleks, sehingga beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman menulis dalam bahasa yang tidak mereka kuasai sepenuhnya.

3. Menulis tidak selalu menjadi kebiasaan sehari-hari bagi banyak orang Indonesia, sehingga mereka mungkin merasa tidak percaya diri atau tidak tahu bagaimana memulai.

4. Kebanyakan orang Indonesia (anehnya, saya menemukan kecenderungan itu sangat kuat di antara anggota Subud) takut salah dan menghindari kemungkinan harus mempertanggungjawabkan suatu pernyataan. Yang terucap bisa cepat dilupakan, tetapi yang tertulis akan terus diingat, dan hal itu menakutkan seandainya pernyataannya keliru.

5. Bercerita secara terbuka tentang segala sesuatu, termasuk ketidaksetujuan, atau kegagalan, bisa dianggap mengganggu harmoni kelompok atau membuat orang lain merasa tidak nyaman. Sehingga, orang Indonesia sering memilih untuk menyimpan cerita yang berpotensi menimbulkan ketegangan.

Baru-baru ini, saya mencari cerita apapun mengenai Musyawarah Wilayah VI Subud Jawa Timur, Bali dan Sulawesi, yang diselenggarakan di Bali pada 1-2 November 2025. Saya telusuri satu per satu akun Facebook dari semua anggota Subud yang berasal dari kawasan itu, terutama yang sedang menjabat sebagai pengurus atau bertugas sebagai pembantu pelatih. Yang saya temukan hanya sedikit sekali foto—semua tanpa caption yang menjelaskan apa yang terjadi dalam foto tersebut, selain tulisan “MusWil VI di Bali”.

Saya kemudian meminta keterangan ke satu pengurus cabang di Jawa Timur, melalui WhatsApp, dan dia menjawabnya dengan mengirim tautan Google Drive berisi 195 foto tanpa keterangan apapun. Anggota lainnya hanya mengirimkan PDF satu halaman surat undangan resmi mengenai acara tersebut. Saya enggan mendesak orang untuk memberikan lebih dari yang saya minta di awal, jadi baik foto-foto maupun surat undangan itu saya terima tanpa komentar lebih lanjut.

Selanjutnya, saya gunakan Latihan saja untuk memproses data yang tidak disertai rincian itu. Saya memiliki banyak sekali pengalaman dalam hal ini, puji Tuhan, termasuk salah satunya pada tahun 2008 dimana saya harus menulis naskah narasi untuk sebuah film dokumenter yang di-shoot di Papua, sedangkan saya saat itu berada di Jakarta dan tidak pula mendapatkan gambar adegan-adegannya. Naskah yang saya emailkan menimbulkan ketercengangan para kru film yang berada di Papua, pasalnya urutan narasinya sama persis dengan urutan gambar yang telah diedit secara offline!

Dengan cara yang hampir sama, saya merasakan bagaimana Latihan mengarahkan saya untuk menuliskan cerita berdasarkan foto-foto acara Musyawarah Wilayah di Bali itu, lengkap dengan atmosfer gegap gempitanya, suasana keakraban antar peserta, rapat-rapat pengurus dan pembantu pelatih. Ajaibnya, saya seperti tersedot ke momen itu, hingga dapat “mendengar” suara-suara para peserta dan keriuhan di dalam aula di saat acara pembukaan dan penutupan.

Saya membayangkan, jika semua orang yang bekerja menggunakan bimbingan Latihan, dunia ini akan menjadi lebih indah dengan karya-karya yang menyenangkan dan menenangkan.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 Desember 2025