Monday, January 19, 2026

Cukuran dalam Rangka Syukuran

MUNGKIN bukan sesuatu yang luar biasa bagi kebanyakan orang, tapi bagi saya berarti. Selama hampir 22 tahun menjadi anggota Subud, saya tidak memiliki kartu tanda anggota. Mungkin karena aktivitas saya di media sosial, yang di semua platform saya jelas-jelas mencantumkan informasi bahwa saya anggota Subud Indonesia, tidak sedikit anggota dalam dan luar negeri yang mengenal saya, sehingga setiap kali saya mendatangi cabang manapun untuk melakukan Latihan pengurus atau pembantu pelatih setempat tidak menanyakan kartu tanda anggota saya.

 




Saya melalui masa kandidat tiga bulan saya hingga dibuka di Subud Cabang Surabaya, sehingga otomatis secara administratif saya tercatat sebagai anggota Cabang Surabaya. Ketika saya pindah ke Jakarta, saya memantapkan diri untuk tidak memindahkan keanggotaan saya ke Cabang Jakarta Selatan. Bahkan setelah saya aktif Latihan di Cilandak selama lebih dari 12 tahun keanggotaan saya masih diakui di Cabang Surabaya. Tahun ke-12 masa saya di Subud, terjadi konflik di tubuh Cabang Surabaya yang berakibat sejumlah besar anggota dan pembantu pelatih kehilangan keterkaitan dengan cabang tersebut dan keleleran tanpa kejelasan keanggotaan dari cabang mana. Saya salah satunya.

 


Pada 14 Januari 2025, saya mendapat kabar sejuk bahwa Cabang Sidoarjo akan membantu membuatkan dokumen resmi mutasi empat anggota—saya di antaranya—dan satu pembantu pelatih bekas Cabang Surabaya untuk menjadi anggota resmi Cabang Sidoarjo. Dalam sehari, baik kartu tanda anggota saya dan surat pemberitahuan mutasi telah dirilis—dengan tanda tangan Komisaris Wilayah VI Jawa Timur, Bali dan Sulawesi, Pak Seno Prasodjo—yang kemudian, pada 19 Januari 2026, membatalkannya karena dianggap saya telah mutasi ke Cabang Jakarta Selatan. Bagaimanapun, saya resmi terdaftar sebagai anggota Cabang Sidoarjo. Untuk itu, pada 15 Januari 2026, saya memangkas rambut saya sebagai tanda syukur.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, 20 Januari 2025

Saturday, January 17, 2026

Kebiasaan Gundul

 


SEBELUM tahun 1990/1991, saya tidak pernah berani tampil di depan umum dengan kepala gundul. Saya lebih menyukai rambut panjang melebihi kerah baju dan belah tengah yang membuat saya tampak berantakan dan kumuh.

Sebagai tentara, ayah saya tidak suka melihat potongan rambut saya. Waktu kecil, saya memang pasrah pada kehendak beliau yang menggunduli kepala saya di kedai cukur. Kala itu, akhir dekade 1960an dan awal 1970an, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin memang memberlakukan penertiban terhadap rambut gondrong. Dengan kenyataan itu, ayah saya selalu menakut-nakuti saya, bahwa saya bakal ditangkap polisi jika menolak ajakan beliau ke kedai cukur.

Saya mulai suka memangkas rambut saya bergaya crew cut (potongan rambut militer) saat media massa diramaikan berita-berita mengenai Operasi Desert Shield, fase awal dari Perang Teluk (1990-1991), yaitu operasi militer multinasional pimpinan Amerika Serikat untuk mengerahkan pasukan besar-besaran ke Arab Saudi sebagai respons terhadap invasi Irak ke Kuwait, bertujuan untuk mempertahankan Arab Saudi dan mempersiapkan serangan balasan yang kemudian dikenal sebagai Operasi Desert Storm. Kemunculan foto-foto tentara AS dengan rambut crew cut menginspirasi saya untuk mulai meniru gaya itu. Dan makin lama, saya makin menipiskannya hingga gundul sama sekali—yang memberi saya rasa seolah rekrutan tentara pada fase latihan dasar.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Januari 2026

Thursday, January 15, 2026

Kesembuhan Melalui BEP

FLU dan batuk saya benar-benar parah Senin lalu, 12 Januari. Sudah enam hari berturut-turut saya terus-terusan minum obat flu dan tablet isap anti radang tenggorokan, tapi tidak ada yang mempan. Beruntung, sehari sebelumnya saya mendapat penerimaan untuk mencoba Bio Energy Power (BEP)—sebuah kombinasi latihan olah gerak dan pernapasan. Bisa dibilang itu adalah upaya terakhir saya.

Ternyata, penerimaan itu tepat sekali. Setelah melakukan 30 set (setiap set terdiri dari tiga gerakan berkelanjutan), saya mulai merasa lebih baik di hari yang sama. Ini benar-benar pengubah keadaan.

Saya pertama kali mendengar tentang BEP pada Maret 2009 melalui satu saudara Subud. Ia memperkenalkan saya kepada penciptanya, Pak Harry Angga, seorang dokter dari Bandung yang sangat mumpuni baik di bidang kedokteran Barat maupun Timur.

Beliau menggabungkan latar belakang medisnya dengan keahlian di bidang energi prana dan akupunktur untuk menciptakan cara yang sangat mudah dalam memicu proses penyembuhan alami tubuh.

Pertama kali saya bertemu Pak Harry, saya sedang mengalami masalah pencernaan selama dua minggu. Sakit itu langsung hilang setelah sesi latihan bersama beliau di Jakarta. Hal yang menarik adalah kelompok tersebut diikuti oleh berbagai usia, mulai dari anak delapan tahun hingga lansia 80 tahun—memang semudah itu untuk dipelajari.

Di video ini, Anda akan melihat latihan BEP versi berdiri, tapi saya biasanya melakukannya sambil duduk di kursi. Jika Anda ingin melihat hasil yang nyata, cobalah targetkan setidaknya 15 set.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 16 Januari 2026

Monday, January 12, 2026

Irama Hujan: Sebuah Kisah Cinta yang Abadi

BAGI banyak orang, langit yang diselimuti awan mendung tebal adalah pertanda untuk mencari perlindungan, dorongan untuk membuka payung atau bergegas masuk ke dalam ruangan. Tetapi bagi saya, aroma kuat pertama dari petrikor—parfum tanah saat hujan membasahi tanah yang kering—berarti “pulang”. Ketika dunia menarik diri, saya justru melangkah keluar.

Kisah cinta saya dengan hujan dimulai pada siang-siang di masa kecil saya. Saat bel sekolah berbunyi, yang menandakan berakhirnya suatu hari sekolah, sering kali awan mendung pecah tepat saat saya mencapai gerbang sekolah.

Ketika anak-anak lain berkerumun di emperan bangunan yang menyisakan atap atau menunggu orang tua mereka datang menjemput dengan jas hujan atau payung, saya malah membetulkan letak tas saya dan berjalan lurus menembus derasnya hujan. Saya ingat percikan dingin genangan air di kaki saya dan suara ritmis “plak-plok” sepatu saya di atas aspal jalan yang digenangi air hujan. Bagi saya, hujan bukanlah sebuah gangguan; hujan adalah taman bermain. Perjalanan pulang itu adalah arena bermain dengan air terjun mini dan balapan perahu kertas di selokan—masa di mana satu-satunya hal yang penting hanyalah seberapa tinggi percikan air berikutnya.

Kini, sebagai orang dewasa yang menjelajahi segunung tanggung jawab, saya merasa bahwa hujan telah memiliki makna yang lebih dalam. Hujan telah menjadi jangkar paling andal yang menghubungkan saya dengan masa lalu.



Saat badai melanda kota, kebisingan lalu lintas dan tekanan pekerjaan seakan melunak. Memandangi hujan sebagai pria dewasa memberi saya jeda meditatif yang langka. Suara hujan menjadi tombol “reset” bagi stres saya. Setiap tetesnya membawa serpihan diri saya yang lebih muda—anak laki-laki yang tidak khawatir tentang pakaian basah atau terkena flu.

Di tengah guyuran hujan lebat, dunia terasa lebih kecil, lebih tenang, dan jauh lebih mudah dikendalikan. Bagi saya, berada di bawah guyuran hujan adalah sebuah bentuk perjalanan waktu. Itulah satu-satunya tempat di mana “anak kecil yang bebas” dan “orang dewasa yang bertanggung jawab” dapat berada di ruang yang sama. Hal itu mengingatkan saya bahwa seberapa pun hidup berubah, kegembiraan sederhana dari sebuah badai tetaplah sama.

Sementara yang lain menunggu matahari muncul, saya puas dengan hanya berdiri diam dan membiarkan hujan menghanyutkan beban masa kini, menghubungkan saya sekali lagi dengan anak laki-laki yang hanya ingin bermain.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 12 Januari 2025

Sunday, January 11, 2026

Daya Tarik Kapal Tunda: Terhubung Kembali Dengan Imajinasi Masa Kecil

TUMBUH besar di Belanda memicu kekaguman mendalam dalam diri saya terhadap tongkang yang dialihfungsikan menjadi rumah. Rumah-rumah apung ini tersebar di sepanjang kanal-kanal Belanda, dan saya sering memperhatikan mereka tertambat di tepi kanal dari jendela mobil saat melintas di jalan raya yang bersebelahan dengan kanal.                   

Pemandangan tersebut membangkitkan rasa ingin tahu dan menyulut imajinasi masa kecil saya; saya terus membayangkan seperti apa rasanya tinggal di atas air. Ditambah dengan pengalaman melihat kapal tunda (tugboat) mengerahkan kekuatannya untuk memandu kapal-kapal besar di Hoek van Holland, saya mulai memimpikan untuk memiliki kapal tunda sendiri—yang diubah menjadi kapal pesiar pribadi atau rumah apung. Untuk menjaga mimpi itu tetap hidup (dan mungkin sebagai bentuk “manifestasi” dari hukum daya tarik atau law of attraction), saya mulai mengoleksi foto-foto kapal tunda dan menghabiskan banyak waktu untuk membuat sketsanya sendiri.

Alasan saya mengubah foto-foto kapal tunda tersebut menjadi gaya kartun adalah karena hal itu membawa saya kembali ke masa kecil—masa ketika imajinasi saya sangat hidup dan jernih, penuh dengan warna-warna solid dan detail yang presisi tanpa terasa rumit. Persis seperti seharusnya kehidupan seorang anak.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Januari 2026


















Friday, January 9, 2026

Dari Reuni Menuju Kebangkitan: Lahirnya “Indonesia Berkibar”



PADA 30 November 2025, suasana di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dipenuhi dengan nostalgia. Di tengah kerumunan alumni, delapan pria—yang dulunya adalah teman tongkrongan kampus, kini telah menjadi profesional berpengalaman—berbagi cerita di bawah rindangnya kanopi kampus Depok. Namun, apa yang bermula sebagai sekadar ajang bernostalgia, dengan cepat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih ambisius.

Pasca acara reuni tersebut, mereka mengadakan pertemuan lanjutan secara privat. Saat mereka mendiskusikan arah bangsa saat ini, salah satu dari mereka, Pandu Dewa Natha, melontarkan sebuah tantangan: “Mengapa reuni ini harus berakhir di sini? Kita harus membangun sesuatu yang berdampak secara sosial sekaligus berkelanjutan secara finansial.”

Tantangan itulah yang menjadi katalis bagi lahirnya Indonesia Berkibar, sebuah yayasan yang baru didirikan untuk menjadi jembatan antara kekayaan warisan budaya Indonesia dengan aspirasi masa depannya. Yayasan ini secara eksplisit selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, yang bertujuan untuk memberdayakan bangsa menjelang perayaan satu abad kemerdekaannya.

Apa yang membuat Indonesia Berkibar berbeda adalah sinergi unik dari latar belakang para pendirinya. Dengan memadukan “sentuhan manusia” khas ilmu humaniora dengan kebutuhan strategis modern, mereka berfokus pada tiga pilar utama:

·       Sejarah: Memanfaatkan analisis sejarah untuk memberikan konteks bagi identitas nasional dan perencanaan kebijakan jangka panjang.

·       Komunikasi: Menyusun narasi yang menjembatani kesenjangan antara tujuan pembangunan yang kompleks dengan pemahaman publik, guna memastikan pertumbuhan yang inklusif.

·       ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola): Mengintegrasikan kerangka kerja etis dan keberlanjutan ke dalam proyek-proyek korporasi dan pemerintah untuk memastikan kebangkitan Indonesia berlangsung secara bertanggung jawab dan tangguh.

 



Para pendiri— Andi Zulfikar Mapalele (Sejarah FSUI 1986), Dino M. Musida (Sejarah FSUI 1986), Marah Bangun (Sejarah FSUI 1986), Pandu Dewa Natha (Sejarah FSUI 1986), Pandji Kiansantang (Sejarah FSUI 1987), Edwar Mukti Laksana (Sejarah FSUI 1989), Heru Effendy (Sastra Belanda FSUI 1991), dan saya sendiri (Sejarah FSUI 1987)—percaya bahwa agar Indonesia dapat mencapai status “Emas” pada tahun 2045, diperlukan lebih dari sekadar data ekonomi; diperlukan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kemanusiaan dan struktur etika. Melalui konsultasi, program pendidikan, dan kemitraan strategis, Yayasan Indonesia Berkibar mengubah ikatan persahabatan menjadi mesin profesional untuk kemajuan bangsa.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Januari 2026

Saturday, January 3, 2026

Para Kandidat Pasca Milenial

PADA 7 September 2025 lalu, pagi-pagi WhatsApp saya menerima pesan masuk berikut ini: “Selamat pagi. Perkenalkan sebelumnya, saya D, manusia biasa yang resah dan mencari tujuan hidup. Saya dapat nomor kontak Anda dari Facebook. Apa benar ini kontak akun tersebut? Saya mau ikut Latihan Kejiwaan, tapi clueless untuk join komunitas Subud ini lewat mana.”

Saya arahkan dia ke Wisma Subud Cilandak. Kebetulan hari itu hari Minggu, jadwal untuk kandidatan, dan jamnya masih pukul 09.50 ketika pesan itu masuk ke ponsel saya, sedangkan kandidatan dimulai pukul 10.00. Si pengirim tinggal cukup dekat dengan Wisma Subud Cilandak, jadi saya anjurkan agar dia bersegera, karena masih ada waktu untuk mendaftar buat mengawali masa tunggu tiga bulannya.

Beberapa minggu kemudian, saya baru berkesempatan bertemu dengan si pengirim pesan tersebut di Wisma Indonesia, di dalam kompleks Wisma Subud Cilandak. Ternyata seorang pria muda berusia 23 tahun, fresh graduate universitas yang baru merintis karier di sebuah perusahaan otomotif.

Kalau melihat berita-berita perkembangan Subud di sejumlah negara di dunia, optimisme saya luntur dan berganti dengan warna keprihatinan. Bagaimana tidak, bukan saja keanggotaannya merosot jumlahnya tetapi juga tidak adanya regenerasi. Jarang sekali saya melihat wajah-wajah muda dan segar di foto-foto yang terpampang pada berita-berita mengenai acara-acara Subud di berbagai belahan dunia.

Optimisme saya meningkat, seringnya disertai ketakjuban, begitu melongok ke berbagai grup di Indonesia dewasa ini, termasuk di Wisma Subud Cilandak. Di antara para kandidat atau mereka yang baru dibuka sepanjang tahun 2025 lalu, terdapat banyak pria dan wanita dari kalangan Gen Z, berusia antara 18 hingga 25 tahun, dan bukan anak-anak dari anggota Subud.

Saya pun nimbrung dengan mereka (sesekali saya datang ke tempat para kandidat untuk menguping apa yang disampaikan para pembantu pelatih—yang rata-rata sudah uzur—kepada kaum Gen Z; apakah relevan dengan gaya hidup mereka) untuk memuaskan penasaran saya mengenai apa yang mendorong mereka ke Subud. Di daerah-daerah di Indonesia yang masih melestarikan tradisionalitas, pencarian spiritual di kalangan anak mudanya masih cukup kuat, tetapi di kota-kota besar yang menjunjung gaya hidup modern kecenderungan itu dipandang “aneh” atau “ketinggalan zaman”.

 

Dua kandidat anggota Subud Cabang Jakarta Selatan dibuka pada 16 November 2025 lalu. Satu orang berumur 58 tahun (ketiga dari kiri) dan satu orang lagi (keempat dari kiri) berusia 23 tahun alias Gen Z. Di samping kiri dan kanan mereka ada para PP yang membuka mereka.


Tetapi yang saya jumpai di Cilandak, khususnya, adalah kaum Pribumi Digital dengan pergaulan khas kota besar. Dari sejumlah obrolan tidak formal dengan para kandidat dan anggota baru dari kalangan Zoomers, terungkap bahwa keputusan mereka untuk masuk Subud adalah sekadar ketertarikan pribadi, tidak ada dorongan dari orang tua atau anggota keluarga (rata-rata mereka bukan anak dari orang tua Subud dan ada beberapa yang bahkan keaktifan mereka di Subud tidak diketahui orang tua mereka).

Seorang kandidat, berprofesi wartawan sebuah surat kabar besar Indonesia (di divisi digitalnya), berusia 22 tahun, berkata “Ya, tertarik saja”, menjawab pertanyaan saya mengapa dia ingin masuk Subud. Dia menemukan secara tak sengaja informasi tentang Subud di media sosial dan merasa tertarik untuk bergabung.

Bagaimanapun, saya merasa prihatin terhadap kenyataan bahwa para pembantu pelatih di berbagai cabang di Indonesia sedikit sekali melakukan regenerasi serta tidak ter-update dengan perkembangan zaman. Dari para kandidat dan anggota baru dari kalangan Post-Millenials, terungkap keluhan terkait layanan para pembantu pelatih saat mereka melalui masa tunggu mereka, terutama mengenai penjelasan apa itu Subud dan apa manfaat Latihan yang relevan dengan kehidupan mereka. Menurut beberapa anggota baru, termasuk D di awal tulisan ini, penjelasan para pembantu pelatih terlalu outdated, hanya mencuplik dan menparafrase ceramah Bapak tanpa contoh kasus dalam kehidupan masing-masing pembantu pelatih. Ada jurang pemisah yang sangat lebar antara para pembantu pelatih itu dengan para kandidat dan anggota dari kalangan Gen Z.

 

Seorang anak Gen Z (bertopi di kiri) yang baru dibuka sedang mengikuti tatap muka dengan para PP yang sudah uzur di teras selatan Hall Latihan Cilandak. Tatap muka seperti ini digelar hanya setiap hari Minggu pagi.


Karena karakteristik Gen Z pada umumnya terlalu sensitif atau mudah tersinggung, “mudah hancur” atau lembek saat menghadapi tekanan, layaknya buah stroberi—makanya Gen Z juga dikenal sebagai Generasi Stroberi, para pembantu pelatih eksisting perlu memiliki bekal dalam melayani kandidat dari kalangan Gen Z, selain hanya mengandalkan ceramah Bapak atau pengalaman para pembantu pelatih yang tidak relevan dengan kekinian. Perlu juga ganti suasana: Kandidatan dilakukan tidak di lingkungan Wisma atau hall Latihan Subud tetapi di tempat-tempat di mana kaum Gen Z merasa betah, seperti di kafe, kedai kopi, atau di mana saja mereka biasa nongkrong.

Seorang pembantu pelatih asal Amerika Serikat, yang telah cukup lama tinggal di Jakarta, tetapi tidak masuk dewan pembantu pelatih di manapun di Indonesia, telah menerapkan hal ini: Ia mengajak para kandidat Generasi Pragmatis itu, usai jam kandidatan mereka, nongkrong di salah satu kedai kopi di dekat Wisma Subud Cilandak. Si pembantu pelatih, sebagaimana yang ia ceritakan ke saya, tidak banyak bicara melainkan mengutamakan untuk mendengarkan saja celoteh para kandidat atau anggota baru. Ia juga tidak sok menasihati atau menegur jika si kandidat atau anggota baru berkata sesuatu yang salah.

“Inti dari menjadi PP adalah kasih. Dengan kasih yang tulus, kamu bisa melayani siapa saja tanpa hambatan,” kata si pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, yang menikah dengan wanita Indonesia, itu kepada saya. Dengan pendekatan itu, para kandidat dan anggota baru pun merasa terakomodir segala kebutuhan kejiwaan mereka.

Pada tahun 2025, kisah Gen Z Indonesia—75 juta anak muda yang mencakup hampir 28 persen populasi bangsa—adalah kisah tentang kontras yang mencolok. Mereka adalah mesin penggerak ekonomi digital dan garda terdepan perubahan sosial, namun mereka juga harus menavigasi tekanan ekonomi dan psikologis paling kompleks dalam sejarah negara ini.

Gen Z Indonesia di tahun 2025 adalah generasi “pragmatis yang tangguh”. Mereka menghadapi penyusutan kelas menengah dan pasar kerja yang kompetitif dengan kombinasi kecakapan digital serta penolakan untuk mengorbankan kesejahteraan mental (well-being) mereka. Mereka tidak sekadar menunggu masa depan; mereka sedang membangun versi Indonesia yang lebih fleksibel, autentik, dan sadar.

Di tahun 2025, spiritualitas bagi Gen Z Indonesia tidak lagi didefinisikan hanya oleh kehadiran ritual yang kaku atau label tradisional semata. Sebaliknya, hal itu telah berevolusi menjadi pengalaman yang sangat pribadi, bersifat digital, dan berorientasi pada aktivisme. Meskipun mereka tetap menjadi salah satu populasi pemuda paling religius di dunia, pendekatan mereka terhadap iman telah bergeser dari yang bersifat “berbasis perintah/ajaran” menjadi “berbasis dialog”.

Lanskap spiritual Gen Z Indonesia saat ini ditandai oleh pergeseran dari dogma menuju pengalaman pribadi langsung. Sebagai generasi yang menghadapi tingkat kecemasan dan kelelahan digital (digital burnout) yang tinggi, “kebutuhan spiritual” mereka kurang berfokus pada mempelajari aturan, dan lebih pada menemukan rasa damai serta tujuan hidup yang nyata.

Subud memiliki posisi yang unik untuk memenuhi kebutuhan modern ini karena praktik intinya—Latihan Kejiwaan—mencerminkan banyak nilai yang dijunjung tinggi oleh Gen Z. Subud bukanlah agama, melainkan asosiasi spiritual yang terbuka bagi orang-orang dari semua agama (atau tanpa agama). Fleksibilitas ini membuatnya sangat relevan dengan tren “Spiritual but Not Religious” (SBNR). Subud menarik bagi keinginan Gen Z akan pengalaman yang “tak terencana”. Tidak ada guru yang memberi tahu apa yang harus dipikirkan; pengalamannya sepenuhnya bersifat internal dan unik bagi setiap individu.

Di Subud, tidak ada pendeta atau pemimpin. Pembantu pelatih (helper) hadir hanya untuk memfasilitasi Latihan bersama dan menyaksikan prosesnya. Hal ini selaras dengan ketidakpercayaan Gen Z terhadap kekuasaan terpusat. Subud menawarkan “komunitas yang setara”, yang sejalan dengan sifat demokratis dan budaya digital peer-to-peer khas Gen Z.

Generasi ini mencari “kesuksesan holistik”. Fokus Subud pada Susila (berbudi pekerti yang utama sejalan dengan kehendak Tuhan) membantu mereka menavigasi kompleksitas tekanan sosial dan profesional di tahun 2025 tanpa harus menarik diri dari dunia luar.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 Januari 2026