PADA 7
September 2025 lalu, pagi-pagi WhatsApp saya menerima pesan masuk berikut ini: “Selamat
pagi. Perkenalkan sebelumnya, saya D, manusia biasa yang resah dan mencari
tujuan hidup. Saya dapat nomor kontak Anda dari Facebook. Apa benar ini kontak
akun tersebut? Saya mau ikut Latihan Kejiwaan, tapi clueless untuk join komunitas
Subud ini lewat mana.”
Saya arahkan
dia ke Wisma Subud Cilandak. Kebetulan hari itu hari Minggu, jadwal untuk
kandidatan, dan jamnya masih pukul 09.50 ketika pesan itu masuk ke ponsel saya,
sedangkan kandidatan dimulai pukul 10.00. Si pengirim tinggal cukup dekat
dengan Wisma Subud Cilandak, jadi saya anjurkan agar dia bersegera, karena
masih ada waktu untuk mendaftar buat mengawali masa tunggu tiga bulannya.
Beberapa
minggu kemudian, saya baru berkesempatan bertemu dengan si pengirim pesan
tersebut di Wisma Indonesia, di dalam kompleks Wisma Subud Cilandak. Ternyata
seorang pria muda berusia 23 tahun, fresh
graduate universitas yang baru merintis karier di sebuah perusahaan
otomotif.
Kalau
melihat berita-berita perkembangan Subud di sejumlah negara di dunia, optimisme
saya luntur dan berganti dengan warna keprihatinan. Bagaimana tidak, bukan saja
keanggotaannya merosot jumlahnya tetapi juga tidak adanya regenerasi. Jarang
sekali saya melihat wajah-wajah muda dan segar di foto-foto yang terpampang
pada berita-berita mengenai acara-acara Subud di berbagai belahan dunia.
Optimisme
saya meningkat, seringnya disertai ketakjuban, begitu melongok ke berbagai grup
di Indonesia dewasa ini, termasuk di Wisma Subud Cilandak. Di antara para
kandidat atau mereka yang baru dibuka sepanjang tahun 2025 lalu, terdapat
banyak pria dan wanita dari kalangan Gen Z, berusia antara 18 hingga 25 tahun,
dan bukan anak-anak dari anggota Subud.
Saya pun
nimbrung dengan mereka (sesekali saya datang ke tempat para kandidat untuk
menguping apa yang disampaikan para pembantu pelatih—yang rata-rata sudah uzur—kepada
kaum Gen Z; apakah relevan dengan gaya hidup mereka) untuk memuaskan penasaran
saya mengenai apa yang mendorong mereka ke Subud. Di daerah-daerah di Indonesia
yang masih melestarikan tradisionalitas, pencarian spiritual di kalangan anak
mudanya masih cukup kuat, tetapi di kota-kota besar yang menjunjung gaya hidup
modern kecenderungan itu dipandang “aneh” atau “ketinggalan zaman”.
 |
| Dua kandidat anggota Subud Cabang Jakarta Selatan dibuka pada 16 November 2025 lalu. Satu orang berumur 58 tahun (ketiga dari kiri) dan satu orang lagi (keempat dari kiri) berusia 23 tahun alias Gen Z. Di samping kiri dan kanan mereka ada para PP yang membuka mereka. |
Tetapi yang
saya jumpai di Cilandak, khususnya, adalah kaum Pribumi Digital dengan
pergaulan khas kota besar. Dari sejumlah obrolan tidak formal dengan para
kandidat dan anggota baru dari kalangan Zoomers,
terungkap bahwa keputusan mereka untuk masuk Subud adalah sekadar ketertarikan
pribadi, tidak ada dorongan dari orang tua atau anggota keluarga (rata-rata
mereka bukan anak dari orang tua Subud dan ada beberapa yang bahkan keaktifan
mereka di Subud tidak diketahui orang tua mereka).
Seorang
kandidat, berprofesi wartawan sebuah surat kabar besar Indonesia (di divisi
digitalnya), berusia 22 tahun, berkata “Ya, tertarik saja”, menjawab pertanyaan
saya mengapa dia ingin masuk Subud. Dia menemukan secara tak sengaja informasi
tentang Subud di media sosial dan merasa tertarik untuk bergabung.
Bagaimanapun,
saya merasa prihatin terhadap kenyataan bahwa para pembantu pelatih di berbagai
cabang di Indonesia sedikit sekali melakukan regenerasi serta tidak ter-update dengan perkembangan zaman. Dari
para kandidat dan anggota baru dari kalangan Post-Millenials, terungkap keluhan terkait layanan para pembantu
pelatih saat mereka melalui masa tunggu mereka, terutama mengenai penjelasan
apa itu Subud dan apa manfaat Latihan yang relevan dengan kehidupan mereka.
Menurut beberapa anggota baru, termasuk D di awal tulisan ini, penjelasan para pembantu
pelatih terlalu outdated, hanya
mencuplik dan menparafrase ceramah Bapak tanpa contoh kasus dalam kehidupan
masing-masing pembantu pelatih. Ada jurang pemisah yang sangat lebar antara
para pembantu pelatih itu dengan para kandidat dan anggota dari kalangan Gen Z.
 |
| Seorang anak Gen Z (bertopi di kiri) yang baru dibuka sedang mengikuti tatap muka dengan para PP yang sudah uzur di teras selatan Hall Latihan Cilandak. Tatap muka seperti ini digelar hanya setiap hari Minggu pagi. |
Karena
karakteristik Gen Z pada umumnya terlalu sensitif atau mudah tersinggung, “mudah
hancur” atau lembek saat menghadapi tekanan, layaknya buah stroberi—makanya Gen
Z juga dikenal sebagai Generasi Stroberi, para pembantu pelatih eksisting perlu
memiliki bekal dalam melayani kandidat dari kalangan Gen Z, selain hanya
mengandalkan ceramah Bapak atau pengalaman para pembantu pelatih yang tidak
relevan dengan kekinian. Perlu juga ganti suasana: Kandidatan dilakukan tidak
di lingkungan Wisma atau hall Latihan
Subud tetapi di tempat-tempat di mana kaum Gen Z merasa betah, seperti di kafe,
kedai kopi, atau di mana saja mereka biasa nongkrong.
Seorang pembantu
pelatih asal Amerika Serikat, yang telah cukup lama tinggal di Jakarta, tetapi
tidak masuk dewan pembantu pelatih di manapun di Indonesia, telah menerapkan
hal ini: Ia mengajak para kandidat Generasi Pragmatis itu, usai jam kandidatan
mereka, nongkrong di salah satu kedai kopi di dekat Wisma Subud Cilandak. Si pembantu
pelatih, sebagaimana yang ia ceritakan ke saya, tidak banyak bicara melainkan
mengutamakan untuk mendengarkan saja celoteh para kandidat atau anggota baru.
Ia juga tidak sok menasihati atau menegur jika si kandidat atau anggota baru
berkata sesuatu yang salah.
“Inti dari
menjadi PP adalah kasih. Dengan kasih yang tulus, kamu bisa melayani siapa saja
tanpa hambatan,” kata si pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, yang
menikah dengan wanita Indonesia, itu kepada saya. Dengan pendekatan itu, para
kandidat dan anggota baru pun merasa terakomodir segala kebutuhan kejiwaan
mereka.
Pada tahun 2025, kisah Gen Z
Indonesia—75 juta anak muda yang mencakup hampir 28 persen populasi
bangsa—adalah kisah tentang kontras yang mencolok. Mereka adalah mesin
penggerak ekonomi digital dan garda terdepan perubahan sosial, namun mereka
juga harus menavigasi tekanan ekonomi dan psikologis paling kompleks dalam sejarah
negara ini.
Gen Z Indonesia di tahun 2025 adalah
generasi “pragmatis yang tangguh”. Mereka menghadapi penyusutan kelas menengah
dan pasar kerja yang kompetitif dengan kombinasi kecakapan digital serta
penolakan untuk mengorbankan kesejahteraan mental (well-being) mereka. Mereka tidak sekadar menunggu masa depan;
mereka sedang membangun versi Indonesia yang lebih fleksibel, autentik, dan
sadar.
Di tahun 2025, spiritualitas bagi Gen
Z Indonesia tidak lagi didefinisikan hanya oleh kehadiran ritual yang kaku atau
label tradisional semata. Sebaliknya, hal itu telah berevolusi menjadi
pengalaman yang sangat pribadi, bersifat digital, dan berorientasi pada
aktivisme. Meskipun mereka tetap menjadi salah satu populasi pemuda paling
religius di dunia, pendekatan mereka terhadap iman telah bergeser dari yang
bersifat “berbasis perintah/ajaran” menjadi “berbasis dialog”.
Lanskap spiritual Gen Z Indonesia
saat ini ditandai oleh pergeseran dari dogma menuju pengalaman pribadi
langsung. Sebagai generasi yang menghadapi tingkat kecemasan dan kelelahan
digital (digital burnout) yang
tinggi, “kebutuhan spiritual” mereka kurang berfokus pada mempelajari aturan,
dan lebih pada menemukan rasa damai serta tujuan hidup yang nyata.
Subud memiliki posisi yang unik untuk
memenuhi kebutuhan modern ini karena praktik intinya—Latihan
Kejiwaan—mencerminkan banyak nilai yang dijunjung tinggi oleh Gen Z. Subud
bukanlah agama, melainkan asosiasi spiritual yang terbuka bagi orang-orang dari
semua agama (atau tanpa agama). Fleksibilitas ini membuatnya sangat relevan
dengan tren “Spiritual but Not Religious”
(SBNR). Subud menarik bagi keinginan Gen Z akan pengalaman yang “tak terencana”.
Tidak ada guru yang memberi tahu apa yang harus dipikirkan; pengalamannya
sepenuhnya bersifat internal dan unik bagi setiap individu.
Di Subud,
tidak ada pendeta atau pemimpin. Pembantu pelatih (helper) hadir hanya untuk memfasilitasi Latihan bersama dan
menyaksikan prosesnya. Hal ini selaras dengan ketidakpercayaan Gen Z terhadap
kekuasaan terpusat. Subud menawarkan “komunitas yang setara”, yang sejalan
dengan sifat demokratis dan budaya digital peer-to-peer
khas Gen Z.
Generasi ini
mencari “kesuksesan holistik”. Fokus Subud pada Susila (berbudi pekerti yang
utama sejalan dengan kehendak Tuhan) membantu mereka menavigasi kompleksitas
tekanan sosial dan profesional di tahun 2025 tanpa harus menarik diri dari dunia
luar.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 4 Januari 2026