SAAT sahur untuk puasa hari ketiga ini, saya berbincang
melalui WhatsApp dengan saudara Subud, yang rajin menulis catatan harian (journaling). Perbincangan kami mengenai journaling dan aplikasi jurnal
membangkitkan kembali kenangan saya ketika baru mengawali perkuliahan sebagai
mahasiswa baru Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia/FSUI
(sejak 2002 berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas
Indonesia/FIBUI) tahun 1987.
Awalnya, saya terdorong menulis catatan harian karena latah.
Latahnya mahasiswa FSUI pada umumnya, dan khususnya mahasiswa Jurusan/Program
Studi Ilmu Sejarah, meniru pendahulu mereka, aktivis ternama yang menentang
kediktatoran Sukarno dan Suharto, yaitu Soe Hok Gie.
Dari sekadar ikut-ikutan, lama-lama saya menikmatinya.
Dari sekadar menulis hanya untuk mengingat momen-momen spesial pada suatu hari,
saya jadi menulisnya setiap hari, tidak peduli apakah ada momen spesial atau
tidak—karena yang paling penting bagi saya adalah bahwa menulis jurnal atau
catatan harian memberi saya ruang untuk menjadi diri sendiri. Catatan harian
menjadi tempat saya menuangkan pikiran, perasaan, atau kejadian sehari-hari.
Saya menganggap journaling
sebagai percakapan jujur dengan diri sendiri. Tidak ada aturan baku—saya tidak
harus puitis, tidak harus rapi, dan tidak ada yang akan memberikan nilai.
Selama lebih dari 20 tahun menulis catatan harian, saya
mendapatkan manfaat nyata untuk “kesehatan” mental dan produktivitas saya.
Melalui lembar kertas putih catatan harian, saya dapat mengeluarkan “sampah” di
kepala saya agar tidak menumpuk dan bikin stres. Dengan menulis catatan harian,
saya membantu diri saya melihat pola perilaku atau pemicu emosi tertentu.
Catatan harian juga menjadi catatan perjalanan hidup saya yang bisa saya baca
lagi di masa depan.
Satu bukti dari manfaat menulis catatan harian dalam
hidup saya adalah bahwa saya kelak mampu membuat tulisan-tulisan yang bercerita
(story-telling). Saya juga mampu
mengartikulasikan ide, mengubah gagasan abstrak yang ada di dalam kepala
menjadi penjelasan yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami oleh orang lain
(atau diri sendiri). Hal ini sangat membantu saya saat membangun karier sebagai
copywriter.
Dalam dunia branding
dewasa ini, storytelling bukan lagi
sekadar pelengkap iklan, melainkan jantung dari strategi pemasaran. Konsumen
modern, terutama Gen Z dan Milenial, sudah kebal dengan jualan langsung (hard-selling). Mereka tidak lagi membeli
“apa” yang dijual, tapi “mengapa” pedagang menjualnya. Merek tidak lagi ragu
menunjukkan proses di balik layar (behind
the scenes), kegagalan produksi, atau tim yang bekerja di kantor. Tujuannya
adalah untuk membangun kepercayaan (trust).
Manusia lebih mudah terhubung dengan sesama manusia daripada dengan korporasi
yang kaku.
Secara psikologis, otak manusia jauh lebih mudah
mengingat cerita daripada fakta atau fitur produk. Saat mendengar cerita, otak
kita melepaskan oksitosin (hormon empati) dan dopamin, yang membuat pesan
tersebut membekas lebih lama.
Singkatnya, branding
hari ini adalah tentang menciptakan koneksi emosional. Jika produk pemasar
adalah solusinya, maka penceritaan adalah jembatan yang membawa konsumen ke
solusi tersebut.
Hubungan antara journaling
dan storytelling itu sangat erat.
Menulis catatan harian adalah laboratorium pribadi tempat saya melatih
otot-otot bercerita setiap hari tanpa tekanan audiens. Saat menulis catatan
harian, saya secara tidak sadar sedang menyusun struktur narasi. Saya mulai
dengan “Tadi pagi...” (Awal), lalu masuk ke “Tiba-tiba ada masalah...”
(Konflik/Tengah), dan diakhiri dengan “Akhirnya saya merasa...”
(Resolusi/Akhir). Hasilnya, saya menjadi terbiasa membangun alur yang logis dan
runtut dalam sebuah cerita.
Banyak orang kesulitan bercerita karena mereka mencoba
meniru gaya orang lain. Melalui menulis catatan harian, saya menulis dengan
bahasa yang paling jujur dan paling “saya”. Dengan demikian, saya menemukan
karakter suara unik saya sendiri. Dalam branding,
suara yang konsisten dan jujur adalah aset yang sangat mahal.
Jika storytelling
adalah sebuah pertunjukan musik di panggung besar, maka menulis catatan
perjalanan hidup adalah latihan rutin di kamar setiap malam. Tanpa latihan di
kamar, penampilan di panggung akan terasa kaku dan palsu.©2026
Pondok
Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Februari 2026