Poster film Dukun Magang, sebuah film horor-komedi Indonesia yang
baru saja dirilis pada November 2025 lalu. Industri film Indonesia terus
memanfaatkan obsesi masyarakat—terutama di kalangan Gen Z—terhadap tema-tema
yang berpusat pada horor dan perdukunan.
MENJELANG akhir tahun 2005, saya menyertai seorang pembantu
pelatih senior dari Cabang Jakarta Selatan yang diundang untuk mengunjungi Cabang
Probolinggo, Jawa Timur. Seorang pembantu pelatih yang lebih muda juga ikut
bersama kami. Kami tidak langsung menuju Probolinggo; melainkan terbang dari
Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta ke Bandara Internasional Juanda
di Sidoarjo, yang berjarak sekitar 18,5 kilometer dari pusat kota Surabaya, ibu
kota Jawa Timur. Kami menginap semalam di Surabaya, yang memberi kami
kesempatan untuk memenuhi undangan dari Cabang Surabaya—cabang yang sama di
mana saya menyelesaikan kandidatan saya sebelum akhirnya dibuka.
Malam itu di Hall Surabaya, pembantu pelatih senior dari Cabang
Jakarta Selatan tersebut diminta untuk memberikan ceramah, yang kemudian
dilanjutkan dengan gathering kejiwaan.
Beliau memiliki kekayaan pengalaman dan bakat alami dalam berkomunikasi;
orang-orang sangat menyukai beliau dan selalu menantikan kunjungan beliau ke cabang-cabang
mereka. Pemahaman beliau tentang kejiwaan sungguh mendalam, menjangkau jauh
melampaui konteks standar Subud. Beliau wafat pada tahun 2010. Setelah dibuka
pada tahun 1972, beliau sebenarnya sempat meninggalkan Subud setelah hanya tiga
tahun melakukan Latihan—sebuah episode dalam perjalanan spiritual beliau yang beliau
sebut sebagai “masa pembersihan”.
Selama masa vakumnya dari Subud, beliau menjadi seorang
dukun, “mewarisi” kemampuan dari ayah beliau yang kabarnya adalah seorang dukun
sakti. Menariknya, beliau tidak diperkenalkan ke Subud oleh ayah beliau,
melainkan oleh seorang paman yang telah membesarkan beliau sejak kecil. Setelah
sepuluh tahun mempraktikkan perdukunan, beliau akhirnya kembali ke pangkuan
Subud.
Beliau membagikan kisah ini dalam pertemuan dengan para
anggota di Surabaya malam itu, pada tanggal 30 Desember 2005. Cerita beliau
memicu seorang pembantu pelatih wanita untuk bertanya, “Apakah benar anggota
Subud tidak bisa disantet?”
“Siapa bilang?” jawab pembantu pelatih senior itu. “Tentu
saja bisa!”
Pembantu pelatih wanita itu terperanjat. Selama ini, ia
selalu mendengar dari pembantu pelatih lain, para anggota, bahkan dalam
ceramah-ceramah Bapak dan Ibu Rahayu bahwa kekuatan gelap atau “daya setaniah”
tidak dapat menyentuh anggota Subud. Pembantu pelatih senior itu tertawa
terbahak-bahak sebelum melanjutkan, “Maksud saya, kecuali anggota Subud yang
sabar, tawakal, dan ikhlas.”
Gathering malam itu menjadi semarak ketika
diskusi beralih ke topik perdukunan dan masalah mixing. Di Indonesia,
perdukunan bukanlah hal yang asing atau tidak lazim. Dahulu, pada masa-masa
awal Subud, banyak anggota yang terlibat dalam “pengobatan alternatif”, yang
oleh masyarakat Indonesia umumnya dikategorikan sebagai “pekerjaan dukun”. Pada
masa itu, orang-orang di luar Subud bahkan menyebut Bapak sebagai seorang dukun
karena beliau melakukan praktik penyembuhan, meskipun beliau dengan ketat
memegang teguh prinsip “mengikuti petunjuk Tuhan” melalui pembukaan (asalkan
pasien menerima tawaran tersebut, seperti yang terjadi pada Prio Hartono).
Salah satu bibi saya, yang tahu bahwa saya telah masuk
Subud, membagikan kisah beliau saat diobati oleh Pak Subuh. Beliau pindah ke
daerah Pondok Labu, dekat Wisma Subud di Cilandak, pada tahun 1979. Sebenarnya
tetangga beliaulah yang menyarankan agar beliau pergi menemui “orang pintar” di
Wisma Subud bernama Pak Subuh untuk mencari kesembuhan atas penyakitnya. Bibi
saya akhirnya memang sembuh, tetapi beliau sendiri tidak pernah masuk Subud.
Bahkan, ketika putri bungsunya menyatakan minat untuk masuk, bibi saya dan
suami beliau tidak mengizinkannya. “Islam sudah cukup,” kata putri beliau
kepada saya, menjelaskan alasan orang tuanya.
Di Indonesia, khususnya dalam lingkaran tradisional,
perdukunan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Saat
ini—terutama sejak krisis keuangan Asia di akhir tahun 90-an—bukan hal yang
aneh bagi orang Indonesia modern untuk menggantungkan harapan mereka pada
dukun. Para praktisi ini telah melakukan pencitraan ulang (rebranding)
yang modern; mereka tidak lagi berpakaian tradisional atau menggunakan gelar
kuno. Alih-alih menyebut diri mereka dukun atau orang pintar, mereka kini
memasarkan diri sebagai “inspirator” atau “mindset coach”.
Kelestarian perdukunan di Indonesia merupakan perpaduan
kompleks antara warisan budaya yang berakar dalam, kebutuhan psikologis akan
kepastian, dan terbatasnya akses ke lembaga-lembaga formal.
Sejarah Indonesia berjangkar pada kepercayaan animisme,
dinamisme, serta pengaruh Hindu-Buddha yang telah ada jauh sebelum penyebaran
agama-agama Abrahamik. Warisan ini membentuk kepercayaan masyarakat terhadap “orang
pintar”, terutama karena praktik-praktik tersebut sering kali diwariskan secara
turun-temurun dalam keluarga. Dukun dipandang sebagai penjaga kearifan lokal,
yang menyeimbangkan dunia manusia dengan alam gaib. Di banyak wilayah di tanah
air, para praktisi—seperti dukun bayi atau tetua adat—memiliki kedudukan sosial
yang bergengsi dan dianggap sebagai pemimpin masyarakat.
Pada tahun 2016, saat melakukan perjalanan ke pelosok
sebuah daerah di Jawa Tengah untuk menyelidiki mengapa masyarakat setempat
menolak pembangunan pabrik semen baru, saya bertemu dengan beberapa warga yang
mengaku bahwa mereka sangat ketakutan terhadap seorang preman lokal yang
dijuluki “Dukun Sakti”. Ketakutan ini memaksa mereka untuk mematuhinya daripada
mengambil risiko menjadi sasaran ilmu hitamnya. Alhasil, mereka memberikan
dukungan penuh terhadap penolakannya atas pembangunan pabrik semen di daerah
mereka.
Berkat bantuan seorang pembantu pelatih dari cabang Subud
setempat, saya berhasil menemui sang “dukun sakti” ini di rumahnya dan
mewawancarainya selama dua jam. Saya memperhatikan bahwa dia sama sekali tidak
memancarkan aura seorang dukun. Entah karena keseleo lidah atau hal lain, dia
mengaku bahwa dia sering tampil di depan umum dengan pakaian serba hitam dan
ikat kepala senada karena dia yakin hal itu memproyeksikan “aura yang
menakutkan”. Saya sampai pada kesimpulan bahwa dia bukanlah dukun sungguhan;
dia hanya menggunakan citra tersebut untuk mengintimidasi orang—dan cara itu
berhasil. Itulah realitas bagi kebanyakan orang di pelosok Indonesia: mereka
mudah goyah oleh penampilan luar.
 |
Inilah gambaran stereotip mengenai dukun
yang begitu mendarah daging dalam psikis masyarakat Indonesia. Seorang anggota
Subud lama di Jakarta pernah bercerita kepada saya bahwa sebelum masuk Subud,
ia sering berkonsultasi dengan dukun. Ia sangat terkejut saat pertama kali
bertemu Pak Subuh, yang penampilannya sama sekali tidak seperti yang ia
bayangkan—begitu berbedanya, hingga pada awalnya ia mengira Bapak tidak
memiliki kekuatan spiritual sama sekali.
Orang sering kali berpaling ke dukun saat menghadapi
frustrasi sosial atau tekanan hidup yang hebat. Banyak yang mencari “jalan
pintas” tanpa proses panjang—baik itu untuk kekayaan, asmara, maupun kenaikan
jabatan. Mengunjungi dukun memberikan rasa tenang atau “kepastian semu” bagi
mereka yang sedang berada di tengah krisis kesehatan, keuangan, atau hubungan.
Pada tingkat praktis, dukun sering kali menjadi pilihan
utama karena mereka lebih mudah dijangkau daripada sistem formal. Dibandingkan
dengan biaya rumah sakit yang mahal atau konsultasi hukum yang rumit, jasa dukun
dipandang lebih terjangkau atau berbasis sistem “bayar seikhlasnya”. Di daerah
terpencil dengan tenaga medis yang minim, dukun tetap menjadi pilihan utama
untuk persalinan dan layanan kesehatan umum.
Bahkan dalam politik Indonesia—mulai dari pemilihan gubernur
hingga pemilihan kepala desa—banyak kandidat yang masih menyewa jasa dukun
untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka atau untuk berfungsi sebagai “perisai
spiritual” terhadap serangan lawan-lawan mereka.
Di hadapan modernisasi yang pesat dan banjir informasi yang
tak henti-hentinya, perdukunan di Indonesia tidaklah memudar; melainkan
bertransformasi dan menemukan relevansi jenis baru. Dukun, yang dulunya hanya
dikaitkan dengan ritual mistis di desa-desa terpencil, kini tampil dengan gaya
kontemporer. Mereka memainkan peran yang semakin signifikan dalam kehidupan
masyarakat Indonesia, bahkan di kalangan elit perkotaan dan kaum terpelajar.
Pergeseran ini terkait erat dengan gejolak sosial dan
ekonomi, terutama setelah krisis keuangan Asia 1997-1998. Ketidakpastian dan
tekanan hidup telah mendorong banyak orang untuk mencari dukungan dan solusi di
luar saluran konvensional. Di sinilah dukun modern menemukan ceruk pasar mereka.
Mereka bukan lagi sekadar “orang pintar” dengan mantra-mantranya; mereka telah
melakukan pencitraan ulang sebagai “inspirator”, “motivator spiritual”, atau
bahkan “mindset coach” yang menawarkan perpaduan antara bimbingan
psikologis dan spiritual.
Dukun modern adalah ahli dalam pemasaran dan komunikasi.
Mereka memanfaatkan media sosial, situs web pribadi, bahkan tampil di media
arus utama untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Mereka menggunakan gelar
profesional seperti “certified paranormal” (paranormal bersertifikat)
atau “spiritual healer” (penyembuh spiritual), yang membuktikan betapa
baiknya mereka beradaptasi dengan tuntutan zaman modern.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik permukaan
modernitas, masyarakat Indonesia tetap menjaga hubungan yang berakar kuat
dengan dimensi spiritual dan metafisika. Dukun modern adalah contoh adaptasi
budaya yang menarik—sebuah bukti bagaimana tradisi kuno menemukan cara untuk
tetap relevan dan tetap menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam masyarakat
Indonesia kontemporer.©2025
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 19 Desember 2025