Monday, September 24, 2012

Nama Besar


“Di dunia kita yang penuh dengan nama-nama besar ini, anehnya, para pahlawan sejati kita cenderung anonim. Dalam kehidupan yang penuh ilusi dan kuasi-ilusi ini, orang yang memiliki kebajikan penuh yang bisa dikagumi untuk sesuatu yang lebih besar daripada kebesaran namanya seringkali terbukti merupakan pahlawan tanpa tanda jasa: guru, perawat, ibu, polisi yang jujur, serta para pekerja keras yang seorang diri melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bergaji rendah dan tidak menarik.”


TAHUN 1995-1996, saya berkesempatan bekerja sebagai junior copywriter di sebuah biro iklan multinasional yang dijuluki “Biro Iklan No.1 Indonesia”. Lepas dari situ, dengan penuh percaya diri saya mengirim lamaran ke 20 biro iklan berskala besar, menengah dan kecil di Jakarta, dengan 16 di antaranya memanggil saya untuk wawancara. Kepercayaan diri saya lebih didorong oleh kesadaran bahwa saya mendompleng nama besar dari biro iklan tersebut.

Kenomorsatuan biro iklan tempat saya bekerja itu terbukti dengan bagaimana para creative director, ekspat maupun lokal, menyambut saya: Mereka semua segan, lantaran saya menyandang nama besar biro iklan multinasional tersebut. Bahkan satu creative director asal Australia yang mewawancarai saya, ketika saya tawari untuk memeriksa portofolio karya-karya iklan yang pernah saya buat selama bekerja di biro iklan multinasional tersebut, menepis sambil berkata, “Tidak perlu. Saya sudah tahu kualitas orang-orang dari biro iklan tempat Anda bekerja itu.”

Mendompleng nama besar memang banyak enaknya, tetapi saya tidak memungkiri bahwa tidak enaknya juga banyak. Saya jadi merasa tidak nyaman, lantaran semua orang di biro-biro iklan tempat saya bekerja kemudian selalu mengharapkan yang terbaik dari diri saya. Giliran saya tidak dapat memberikan hasil yang baik, mereka mengait-kaitkan saya dengan nama besar itu: “Mantan biro iklan besar kok nggak mutu idenya?!”

Sebaik-baiknya dan seenak-enaknya mendompleng nama besar, masih jauh lebih asik menjadi diri sendiri. Selama lima tahun pertama berkarir di industri periklanan, saya belum begitu yakin pada kemampuan diri sendiri, sehingga merasa perlu mendompleng pada nama besar sederet biro iklan multinasional yang saya singgahi dalam kurun waktu 1994-1999. Sesudah itu, barulah saya memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dapat saya andalkan untuk menghasilkan pekerjaan-pekerjaan yang bermutu.

Tidak sedikit orang yang memanfaatkan nama besar orang lain, organisasi sosial dan/atau bisnis untuk mencapai tujuannya atau untuk memuaskan kepentingannya. Bila orang-orang tersebut bertindak dan bersikap sebesar nama besar yang disandangnya, tentu hal itu tidak menimbulkan masalah bagi dirinya maupun orang lain. Yang menjadi masalah adalah apabila sikap dan tindakan mereka tidak sejalan dengan nama besar yang padanya mereka mendompleng.

Para alumni akademi militer terbaik Amerika Serikat di West Point, New York, mengenal kebiasaan yang dinamai “mengetuk cincin” (knocking the ring) untuk mempertegas kepada pihak lain bahwa mereka membawa nama besar USMA (United States Military Academy) West Point, sehingga jangan coba-coba berhadapan dengan mereka. Istilah “mengetuk cincin” itu muncul dari kebiasaan para alumni West Point ketika berdebat dengan sesama perwira yang asal sekolahnya bukan West Point, tapi ROTC (Reserve Officers’ Training Corps, Korps Latihan Perwira Cadangan) atau OCS (Officer Candidate School, Sekolah Calon Perwira). Ketika perdebatan memanas dan seorang alumnus West Point tampaknya mulai terdesak, dia akan mengetukkan cincin almamaternya ke meja, seakan berkata, “Lu jangan macem-macem deh sama gue. Gue ini lulusan West Point tau!”   

Membaca tentang hal “mengetuk cincin” itu di buku karya Hans Halberstadt, Army: The U.S. Army Today (Kent: Grange Books, 2003), saya sempat bertekad dalam hati, jangan sampai saya mempermalukan diri saat berbeda pendapat dengan orang lain dengan mengatakan, “Jangan macem-macem ya sama gue, gue ini lulusan UI dan anggota SUBUD lho!”

Kesadaran akan nama besar yang kita sandang, entah dari nama orang tua atau leluhur kita, organisasi di mana kita bernaung atau perusahaan tempat kita bekerja, bagaimanapun memiliki sisi positif, yaitu apabila hal tersebut dapat mendayai usaha kita untuk menjaga dan meningkatkan kualitas diri. Jangan sampai, mentang-mentang menyandang nama besar, kita lantas bertindak dan bersikap semaunya atau tidak sesuai kualitas sejati dari nama tersebut, karena hal itu malah akan menurunkan derajat dari orang atau organisasi yang namanya kita sandang dengan bangga. Saya memahami satu hal dari menyandang nama ayah saya, walaupun beliau sudah tiada: Hal tersebut bermakna saya mendoakan beliau melalui tindakan dan sikap saya; kalau tindakan dan sikap saya tidak sesuai atau mencemari nama ayah saya, maka saya telah membiarkan beliau menderita di alam baka!

Mendompleng nama besar memang tidak mudah, walaupun tak jarang tindakan itu menguntungkan kita secara material maupun sosial. Daripada keberatan beban menyandang nama besar orang lain atau organisasi, alangkah baiknya kita membangun nama besar untuk diri kita sendiri melalui pembentukan citra yang baik dengan senantiasa melakukan hal-hal positif bagi kepentingan kita sendiri maupun sesama kita.©


Mampang Prapatan XV, Jakarta Selatan, 24 September 2012











Wednesday, September 19, 2012

Hidup untuk Melayani



“Kekayaan, seperti halnya kebahagiaan, tidak akan dapat dicapai jika dikejar secara langsung. Ia merupakan produk tambahan dari pemberian layanan yang bermanfaat.
Henry Ford  


Bidang pekerjaan saya—komunikasi merek, yang dianggap termasuk ranah dukungan pemasaran (marketing support), acap menghadapi pemasar (marketer) atau pengiklan (advertiser) yang membagi industri mereka ke dalam dua kategori: industri manufaktur (pembuat) dan industri jasa (melayani konsumen). Sehingga, atas dasar itu, perusahaan komunikasi merek, dalam hal ini tim kreatif beserta perencana strategis dan perencana media, diharapkan membedakan bahasa dan media komunikasi yang digunakan untuk masing-masing kategori. Industri manufaktur dianggap memiliki produk yang wujud (tangible), sedangkan industri jasa dipandang sebagai penyedia produk tak-wujud (intangible).

Sesungguhnya, jika ditilik lebih jauh, kedua industri hadir hanya untuk melayani pihak lain, atau yang dewasa ini dikenal sebagai pemangku kepentingan (stakeholder). Tidak ada industri yang eksis tanpa kepentingan untuk melayani kebutuhan pihak lain. Dan hakikatnya, hidup ini pun mengharuskan segala sesuatu di dalamnya untuk melayani kebutuhan yang lain, saling menunjang, saling melengkapi, saling menghidupi! Hidup ini, sejatinya, adalah untuk melayani.

Penulis melayani kebutuhan pembaca akan bacaan yang bermutu, desainer grafis melayani kebutuhan akan penataan visual yang artistik yang pada gilirannya memuaskan pemirsa, seniman melayani penikmat seni, orang tua melayani kebutuhan anak-anak akan kasih sayang, guru melayani kebutuhan murid akan ilmu. Lebih luas lagi, angin melayani kebutuhan makhluk untuk beroleh kesejukan, menjadi sumber pembangkit listrik, membantu anak-anak bermain layangan, membantu pelayaran, dan lain-lain. Api melayani kebutuhan untuk memasak makanan, menghangatkan dunia, membuat uap dari air, dan lain-lain. Air memuaskan dahaga, menyiram tanaman yang pada gilirannya menghasilkan buah untuk melayani pemangku kepentingannya, yaitu manusia dan hewan.

Pendek kata, ada rantai layanan dalam hidup kita ini. Yang satu melayani yang lain, yang lain melayani yang lainnya lagi, hingga kembali ke yang satu itu. Berputar terus dalam pola lingkaran. Dengan demikian, tidak ada satu pun di dalam hidup ini—maupun dalam mati—yang tidak ada gunanya. Semua ada gunanya, dan saling melengkapi. Albert Einstein mengatakan bahwa Tuhan tidak melempar dadu; artinya dalam menciptakan hidup dan kehidupan di dalamnya Dia tidak melakukannya untuk kesia-siaan, untuk sekadar menebak apa keluarannya (outcome) dari segala perbuatan dan pemikiran, perkataan dan perasaan manusia beserta makhluk-makhluk lainnya.

Semua yang diciptakan Tuhan untuk hidup dan kehidupan ada maksudnya. Soal apakah maksud itu tampak nyata atau tersembunyi, sehingga kita harus menggalinya terlebih dahulu lewat berbagai laku kehidupan yang tak jarang bersifat keras dan berat, itu urusan belakangan. Jalani saja hidup ini dengan sikap berserah diri yang sabar, ikhlas dan tawakal. Terus berusaha dengan memanfaatkan segala sumber daya, tetapi menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Karena hidup adalah untuk melayani, maka, sebagaimana para pekerja di industri manufaktur dan jasa, kualitas merupakan prasyarat utama. Eksistensi kita dalam hidup ini sudah pasti ada manfaatnya, tetapi agar manfaat itu memiliki karakteristik keberlanjutan (sustainability), kita pun wajib senantiasa meningkatkan kualitas dari manfaat itu. Tanaman buah, misalnya, memang memberi manfaat kepada makhluk lain lewat produknya (buah yang bisa dimakan), tetapi agar bisa melayani lebih banyak lagi pemangku kepentingan maka kualitas si tanaman buah harus ditingkatkan, misalnya dengan diberi pupuk atau dirawat secara khusus demi menghasilkan buah yang lebih banyak jumlahnya, lebih segar dan lebih banyak kandungan gizinya.

Sebagai manusia, kita dituntut untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri, agar kebermanfaatan kita dapat menjangkau lebih banyak pemangku kepentingan. Tuntutan itu tidak hanya berasal dari orang lain, tetapi juga dari diri sendiri, karena masing-masing kita memiliki kebutuhan untuk mengaktualisasi diri. Dan pada gilirannya, dampak dari aktualisasi diri kita dapat dirasakan oleh orang lain.

Karena latar belakang saya adalah penulis naskah materi komunikasi pemasaran dan korporat (copywriter), maka saya sering mengamati tulisan-tulisan karya orang lain. Tak jarang saya menjumpai tulisan-tulisan yang menafikan perannya untuk melayani kebutuhan pembaca. Bukan hanya tulisan-tulisan yang resmi atau untuk dijual, tetapi juga tulisan-tulisan kasual dan pribadi, seperti surat cinta atau puisi atau pesan singkat lewat telepon seluler atau surat elektronik (e-mail). Maksud hati menyambung tali silaturahmi, apa daya malah memutuskannya.

Ada penulis yang mengabaikan tanda baca, susunan kalimat yang berantakan atau tidak relevan satu sama lain, penggunaan istilah yang tak jarang hanya dimengerti oleh penulisnya, pembagian alinea yang tidak jelas atau alinea yang mestinya bisa dibagi menjadi beberapa bagian malah dijadikan satu, sehingga pembaca tidak diberi kesempatan untuk istirahat sejenak dan merenungkan tulisan itu. Saran saya kepada Anda yang ingin menjadi penulis: Bila Anda tidak memiliki spirit melayani pembaca, jangan deh jadi penulis!

Ini berlaku bagi semua bidang pekerjaan; jika Anda tidak punya semangat melayani pemangku kepentingan dari pekerjaan Anda, sebaiknya jangan lakukan pekerjaan itu. Sia-sia saja, dan pada akhirnya toh Anda akan mengalami kejenuhan dengan pekerjaan yang tidak ada manfaatnya sama sekali, walaupun Anda digaji. Karena tampaknya sudah menjadi kodrat bahwa kita ini makhluk yang butuh dilayani oleh orang lain, dalam wujud yang tidak melulu uang, tetapi, yang lebih penting, juga pengakuan yang sifatnya tak-wujud.(AD)


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 7 Mei 2011

Kata dan Arti


Mengerti adalah menyelami
perasaanku tanpa asuh kata dan arti,
terbilang makna sedalam samudra hati
Bila kau tak bisa mengerti aku, biarlah aku berjuang sendiri
di jalan setapak yang diterangi
gegap cahaya ilahi,
bersahabatkan kemuliaan yang murni

Tak kau tangkap makna semburat diri yang mencari
Tak kau pahami semua perjalananku ini
tanpa dibarengi upayamu untuk mengerti
Sedangkan mengerti adalah menyelami
perasaanku tanpa asuh kata dan arti

Hanya bisa kau rasa tak pakai akal budi
Di mana cinta semata adalah keberadaan tanpa ada dan tak badani,
tapi kau tuntut untuk kubagi lewat ucapan dalam bahasa yang kau ketahui
Lewat kata dan arti kau ciptakan jarak, yang sungguh tak peduli
Lewat kata dan arti kau hanya pentingkan dirimu sendiri
Nyatanya kau tak mengerti,
karena mengerti adalah menyelami
perasaanku tanpa asuh kata dan arti

Bebaskan dirimu dari yang kau ketahui
Tak bisa dengan tahumu kau dekati yang tak kau ketahui
karena Dia berjubah kesucian abadi
dari apa kau tahu hanya lewat umpama kata dan arti

Sesungguhnya kau menipu diri
seolah diriku kau mengerti,
tetapi yang kau tahu tentang diriku maupun dirimu adalah eksistensi
dalam kata dan arti
Tak kau pakai rasa untuk menggapai mengapa aku begini
Aku sedang berjalan di antara mawar dan duri
untuk akhirnya bersujud di dalam sang sejati
yang tak dilingkupi kata dan arti

Berdiamlah kamu dalam semesta semadi,
menyusuri rasa diri pribadi bertaut tuntunan Sejati
Abaikan keberadaan kamu, aku, dia, mereka,
kita semua yang ada oleh kata dan arti
Junjung rasamu, karena Sang Rasa mengerti,
sebenar-benarnya memaknai sedalam samudra hati
Mengerti yang adalah menyelami
perasaanku tanpa asuh kata dan arti...


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 26 Mei 2011, pukul 01.59 WIB

Menjadi Diri Sendiri (Being Yourself)


Betapa sial kita bila matahari tidak ingin menjadi matahari
Kehidupan akan membeku
dan cinta kehilangan kehangatannya

Celakalah kita jika angin tidak ingin menjadi angin
Layang-layang takkan menghias langit
dan aku takkan bisa melayang-layang dalam buaian cintamu

Ah, betapa buruknya kalau bulan malu menjadi dirinya
Malam-malam akan menjadi kelam
dan hidup kita menyuram

Tapi malang nian nasibmu, bila kamu menolak menjadi dirimu
Keindahanmu ada pada setiap diri
yang dengannya kamu turun ke bumi
Tuhan dan aku mencintaimu sebagaimana kamu
—yang adalah kamu yang kamu tahu
Dengan menjadi dirimu sendiri, cinta kita menjadi abadi...


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 29 Mei 2011, pukul 21.30

Berbicara Dengan Tuhan

“Suara manusia tidak akan pernah dapat menjangkau jarak yang dicakup oleh suara nurani yang tetap kecil.”
—Mohandas Gandhi


Semalam, sepulang kerja, saya menonton televisi di ruang keluarga bersama keponakan saya. Keponakan saya itu, anak perempuan berusia sebelas tahun, duduk di sebelah saya di atas sofa di depan televisi. Beberapa kali ia mengutarakan kecemasannya, sehubungan dengan pengumuman hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) yang akan digelar dalam waktu dekat ini.

Beberapa kali ia menanyakan ke saya kemungkinannya ia lulus UASBN. Keponakan saya itu bukan tergolong anak yang rajin belajar. Ia belajar hanya ketika ada pekerjaan rumah atau ketika menyambut ulangan. Ia lebih suka bermain, membaca komik atau duduk di depan komputer, mengunggah foto di media sosial dan mengunduh lagu-lagu. Berulang kali saya mengingatkannya untuk belajar, ada atau tidak ada ulangan atau pekerjaan rumah, tetapi ia tidak menggubrisnya. Bagaimanapun, saya tetap mendoakan agar ia berhasil di sekolahnya.

“Om Anto, kira-kira aku lulus nggak ya?” tanyanya, untuk kesekian kalinya, sementara perhatian saya ke layar televisi. “Kamu lulus, Ya! Pasti lulus!” kata saya dengan yakin. “Ah, ini menghibur aja bisanya. Beneran, Om, lulus nggak ya aku?”

“Kamu lulus!” tandas saya.

“Kok tahu?” tanya keponakan saya lagi—lama-lama menyebalkan juga.

“Ya, tahu dong. Om Anto kan bicara dengan Tuhan. Kalau Yaya minta dengan sungguh-sungguh, dalam hati, kepada Tuhan, pasti dikasihNya.”

Ih, ketahuan bo’ong-nya nihEmang bisa bicara dengan Tuhan?” kata keponakan saya sambil mencibir.

Pada saat itulah, secara tak ketahuan, saya merenung—merenungkan kata-kata keponakan saya: Emang bisa bicara dengan Tuhan? Saya memikirkan betapa dangkalnya pelajaran agama yang diajarkan di sekolah bila hasilnya adalah ketidakpercayaan peserta didik bahwa Tuhan bisa diajak bicara, bisa menjadi teman bicara yang tiada bandingnya dengan manusia. Padahal para nabi dan utusan Tuhan di masa lalu sudah membuktikannya. Bukan kenabian mereka yang membuat mereka dapat berbicara dengan Tuhan, melainkan kemampuan mereka untuk berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, yang mendorong hati, diri dan jiwa mereka senantiasa tenang. Dalam ketenangan itulah suara Tuhan dapat kita dengar dengan jelas.

Ada yang menyebutnya suara batin (inner voice), suara hati, suara diri, atau, secara gamblang, suara Tuhan di dalam diri kita. Saya tidak punya teori tentangnya, karena suara ini merupakan fenomena alami. A. Reza Arasteh, dalam bukunya, Growth to Selfhood: The Sufi Contribution to Islam (Penguin, 1991), menyebutkan bahwa paling tidak satu kali dalam hidup kita pernah mendengar suara batin itu. Saya percaya, bahwa suara batin itu merupakan representasi dari diri saya yang ‘lain’, tetapi pengalaman saya menuturkan bahwa ‘diri yang lain’ itu lebih arif dan bijaksana ketimbang saya.

Suara itu biasanya dapat kita dengarkan apabila kita berada dalam suatu keadaan yang tenang. Bukan ketenangan suasana, sebagaimana yang sering disyaratkan oleh ajaran-ajaran meditasi yang salah kaprah, melainkan ketenangan hati, diri dan jiwa kita. Para biksu Buddhis dari aliran Theravada membiasakan diri mereka berlatih meditasi dan mendengarkan suara batin mereka—yang menuntun mereka dalam pemikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan—di tengah hiruk-pikuk dunia. Kaum praktisi tarekat Sufi Naqshbandiyah merangkul amalan khalwat dar anjuman (bahasa Persia yang berarti ‘menyepi di tengah keramaian’, yaitu menjalani hidup di tengah keramaian lingkungannya, namun hatinya sepi dari apa pun selain Allah).

Dalam profesi saya di bidang kreatif, pembadaian otak (brainstorming) dengan rekan-rekan satu tim merupakan hal yang penting, demi menangkap ide yang tepat untuk suatu pekerjaan. Tetapi tak jarang saya memperoleh ide-ide cemerlang justru ketika saya berbadai otak dengan diri sendiri. Kebanyakan kita punya pengalaman memperoleh ide hebat ketika berada di toilet, yaitu saat kita menenangkan diri, biasanya tanpa sengaja, dan berfokus pada aktivitas tunggal saat berada di toilet: buang hajat. Hal itu membuktikan bahwa ketenangan pikiran memang membuka gerbang komunikasi kita dengan sesuatu yang melampaui eksistensi kita (beyond our existence).

Bulan lalu, saya mendapatkan pengalaman dahsyat dari tuntunan Tuhan lewat suara batin ini, yang menyelamatkan saya dari kejahatan dunia. Seorang relasi saya, yang menjabat direktur pengelola di sebuah perusahaan freight forwarder, menghubungi saya untuk sebuah proyek senilai Rp 15 miliar dari kawannya. Proyek tersebut berupa branding untuk sebuah perusahaan telekomunikasi berskala nasional yang lebih dari enam puluh lima persen sahamnya dimiliki asing. Bersama tim dari perusahaan komunikasi merek yang saya gawangi, saya bertemu dengan kawan si direktur pengelola freight forwarder tersebut.

Seperti biasa, ketika bertemu dengan klien baru, saya menyodorkan kartu nama saya. Damas—bukan nama sebenarnya—menerima kartu nama saya sambil mengatakan bahwa ia tidak membawa kartu namanya. Entah dari mana asalnya, saya mendengar dengan jelas sekali suara di dalam diri saya, yang menandaskan bahwa Damas bukan tidak membawa kartu namanya, melainkan lantaran ia ingin selamat sendiri. Saya pun bertanya-tanya dalam hati: Selamat dari apa? Tetapi suara batin itu tidak berkata lebih lanjut. Damas itu bukan karyawan atau manajemen dari perusahaan telekomunikasi tersebut, yang membuat saya makin curiga.

Ketika saya menerima taklimat (brief) dari Damas, suara batin itu kembali muncul, dengan intensitas yang lebih besar. Saya ‘disuruh’ oleh suara itu untuk mempertanyakan secara kritis eksistensi proyek tersebut, berhubung iklan-iklan dan event promosi produk-produk perusahaan telekomunikasi itu telah beredar lama dan masih terus ditayangkan di berbagai media. “Bila kita merekomendasikan lagi konsep komunikasi yang baru, di pertengahan tahun pula, bukankah hal itu akan menimbulkan tumpang-tindih dengan strategi yang sudah dijalankan biro-biro iklannya, Pak?!” kata saya. Damas tertegun, tak bisa menjawab. Dan suara dalam diri saya terus berteriak girang, “Tuh kan, dia bohong. Bohong besar!”

Sulit saya jelaskan di sini dengan kata-kata, tetapi saya ‘digiring’ oleh suara itu untuk akhirnya menangkap adanya ketidakberesan dalam proyek tersebut. “Pemerasan! Dia mau melakukan pemerasan. Jangan kamu terima pekerjaan itu. Nantinya, dia yang dapat uangnya, sedangkan kamu masuk penjara!”

Secara diplomatis, saya katakan pada Damas maupun relasi saya, yang juga hadir saat itu, bahwa rekomendasi konsep akan segera saya persiapkan setelah saya memperoleh data riset pasar—yang sudah pasti memakan waktu, tetapi saya memang mau mengulur-ulur waktu sampai saya mendapat kejelasan tentang proyek tersebut. Belakangan, saya bersyukur telah diselamatkan Tuhan lewat suaraNya ke diri saya: Dari informasi kenalan saya yang mendapat akses ke direksi perusahaan telekomunikasi itu, proyek tersebut memang beritikad pemerasan terhadap direksi dan komisaris!

Mohandas Gandhi mengatakan bahwa siapa pun yang menghendaki dapat mendengar suara batinnya. Suara itu ada di dalam diri setiap orang, dibekali Tuhan sejak kita diciptakanNya agar kita dapat senantiasa berbicara denganNya.(AD)


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 18 Juni 2011

Dalam Hatiku


Tak terbilang rasa yang menyertai raga
ketika kaki melangkah lunglai
memasuki taman keabadian
Karpet merah yang kuimpi tak ada di sana
melainkan tikar hijau berembun merengkuh pagi
yang selimuti sepi taman itu

Aku merebah panggul di atas batu pualam hitam, berucap:
Mama-Bapak, maafkan aku baru ini mengunjungimu,
sekadar melihat batu penandamu dan rumput gajah mini
bersela tanah merah membukit yang digelontor hujan semalam
Aku tak melupakanmu, walau jasadmu terbaring di antara akar dan tumpat debu beraroma langu,
jiwa semangatmu terkubur di liang hatiku
Kubawa ke mana-mana, kutabur dengan kasih berbunga-bunga
Mama-Bapak, aku mencintaimu,
tak sedalam liang lahatmu memang,
tapi dalamnya hatiku siapa yang tahu...


TPU Jeruk Purut, Cilandak Timur, Jakarta Selatan, 25 Juni 2011, pukul 06.45

Akibat Mengabaikan Peluang Yang Lewat



Ada sebuah kisah Sufi yang memikat tentang dua orang teman yang bertemu setelah berpisah sekian lama. Yang satu sudah menikah, yang lainnya masih lajang. Pria yang sudah menikah bertanya pada kawannya yang masih lajang tentang kehidupan cintanya. Kawannya yang masih lajang menjelaskan bahwa beberapa bulan yang lalu ia mengira telah menemukan wanita yang sempurna. “Ia memiliki wajah yang cantik,” katanya. “Penampilannya luar biasa.” “Lalu, kenapa kamu tidak menikahinya?” kawannya yang sudah menikah bertanya. “Hmm,” jelas si pria lajang, “ia tidak terlalu pandai.”

Ia terus bercerita bahwa beberapa minggu kemudian ia menemukan wanita lainnya yang ia kira sempurna. “Ia sama cantiknya dengan wanita pertama dan sama cerdasnya.” “Lalu kenapa kamu tidak menikahi wanita ini?” tanya kawannya. “Hmm, ia memiliki suara yang berbunyi seperti kuku yang digesek ke papan tulis.” 

Pria yang sudah menikah mengangguk, tetapi sebelum ia dapat mengatakan sesuatu kawannya yang lajang melanjutkan: “Kemudian, minggu lalu aku akhirnya bertemu dengan wanita yang sempurna. Ia cantik, ia pintar, dan suaranya begitu lembut dan menyejukkan.” “Baiklah, kapan pernikahannya dilangsungkan?” pria yang sudah menikah bertanya. “Tidak ada pernikahan,” kawannya menjelaskan. “Tampaknya ia mencari pria yang sempurna.” 

Pria yang lajang itu tetap melajang, ia memiliki banyak peluang untuk menikah tetapi ia melewatkannya.

Moral dari kisah ini adalah: Jangan pernah melewatkan peluang yang lewat di depan Anda, karena Anda takkan pernah tahu apakah peluang itu membawa rezeki bagi Anda atau tidak jika tak menangkapnya.

A Simple Mind


Calm your mind, my Friend,
for it is a good servant yet a bad master 
In calmness humility gained, then angels sent in to foster
For you is the servant revering the Great One
Other than Him there is none
He who reveals nothing but love
a conquering mind does not know anything of
for it perceives merely distress and anguish
A simple mind instead provides lavish

Resign yourself to His love that knows no boundaries,
that breaks through time, that gets free of fallacies
Do not raise any question, my Friend, and do not strive to understand—
do not even think to fight the essentially helping Hand
until the Teacher Within leads you to the learning
that things and episodes are here for your earning

Go, my Friend—let go and grow
to the divine touchstones that consent you to flow
like the streaming water from mountain-springs
to the ocean of joy a submitting soul brings
Set aside your revolting mind
that tortures you so unkind,
for you are its servant if you comply
to the fleeting lies it wants you to buy

Go, my Friend, stand straight, eyes closed, and sense His Might
that permeates you, body and soul, day and night
Realize in utter awareness the sensation of surrender,
feeling the vibration such feats constantly engender
Your simple mind, bare of fancies, blessed by the Divine
to follow the light through the path so fine…


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, South Jakarta, July 23, 2011, 00:15 Western Indonesia Time

Sebagai Apa



“Jangan meletakkan keakuan Anda dalam jabatan, karena begitu jabatan Anda hilang, diri Anda hilang bersamanya.”
—Pernyataan Colin L. Powell sebagai pensiunan jendral bintang empat, mantan ketua Gabungan Kepala Staf dan menteri nuar negeri Amerika Serikat


Kenalan saya menjabat sebagai ketua umum sebuah organisasi massa (ormas) yang cakupannya nasional, tetapi merupakan bagian dari sebuah entitas internasional. “Sebagai ketua umum, saya awali rapat ini dengan agenda...,” ucapnya setiap kali rapat dengan jajaran pengurus ormas itu. Setiap pendapat maupun instruksi yang ia lontarkan selama rapat hampir selalu ia awali dengan penegasan "sebagai ketua umum", seolah tanpa pernyataan itu ia tak berhak menyatakan pendapat.

Ia juga dipercaya untuk memegang jabatan direktur pengelola sebuah perusahaan yang pengalaman stafnya secara profesional justru jauh melampaui dirinya—yang barangkali ia sadari betul sehingga setiap kali rapat manajemen ia merasa perlu menyatakan, “Sebagai managing director, perkenankan saya membuka rapat ini.” Sebegitu seringnya hingga para staf merasa sang direktur pengelola tidak percaya diri jika dirinya tidak diembel-embeli jabatannya.

Pengalaman saya menuturkan, bahwa orang-orang yang benar-benar ahli malah tidak pernah mengutamakan maupun mengutarakan dirinya sebagai apa. Apalagi di era di mana multi-tasking memainkan peran yang menonjol di dalam jalannya perusahaan seperti dewasa ini, kiranya sebagai apa Anda tampil di lingkungan kerja Anda tidak lagi relevan. ‘Sebagai apa’ malah cenderung membebani diri Anda sendiri maupun menyusahkan orang lain.

Baru-baru ini, menyadari bahwa sejak pertengahan Februari 2011 saya dipercaya menjadi sekretaris pengurus nasional Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (PPK SUBUD) Indonesia, sejumlah pengurus cabang dari organisasi nasional yang beranggotakan lebih dari 5.000 orang di sebelas daerah dari negara kesatuan Republik Indonesia itu menghubungi atau mendatangi saya menyangkut berbagai urusan administratif. Ketika saya menyatakan bahwa sejak 12 Juli saya telah mengundurkan diri—dengan pertimbangan utama bahwa posisi tersebut malah menghalangi saya untuk bersikap apa adanya dalam mengutarakan pendapat—mereka kebingungan, tidak tahu harus berhubungan dengan siapa untuk menyelesaikan masalah-masalah administratif.

Tetapi, seorang saudara SUBUD saya dengan bijak menyatakan, “Perlukah Anda menjabat sebagai apa untuk melayani kebutuhan mereka?” Kata-katanya membangunkan sesuatu di dalam diri saya. 

Para nabi dan utusan Tuhan di masa lalu tidak pernah mengklaim diri mereka sebagai apa—yang dewasa ini malah acap digunakan sebagian orang untuk menandaskan identitas diri mereka untuk tujuan-tujuan yang merugikan banyak orang. Tanda-tanda kenabian mereka malah disaksikan oleh orang lain, bukan oleh keinsafan mereka sendiri.

Saya meragukan setiap ucapan Nabi Muhammad SAW di sejumlah literatur yang menyatakan “sebagai Nabi, saya putuskan” atau “sebagai Utusan Allah, maka saya”, lantaran beliau di lain pihak digambarkan sebagai pribadi yang rendah hati, sabar, ikhlas dan tawakal. Saking rendah hati dan sabarnya, Muhammad tidak marah ketika diri beliau diludahi pengemis Yahudi buta yang membenci dirinya atau mulutnya terkena lemparan batu hingga berdarah dalam suatu pertempuran melawan kaum musyrik. Beliau malah mendoakan mereka dengan tulus!

Siddhartha Gautama, Sang Buddha ke-24, mengimbau para pengikutnya agar tidak segera mempercayai apa pun yang dikatakannya sebelum pengikutnya mengalami sendiri kebenaran kata-katanya. Mentang-mentang mendapat Penerangan Sempurna tidak serta-merta ia menyatakan, “Sebagai Yang Tercerahkan, maka semua yang Aku katakan itu benar!”

Sebaliknya, dengan rendah hati ia menyatakan, “Jika dalam semadimu engkau masih melihat aku, bunuhlah aku!” Ia bermaksud mengajarkan kepada para pengikutnya agar tidak bergantung pada dirinya, lantaran dirinya bukan siapa-siapa; ia mengajarkan mereka agar percaya pada kemampuan diri sendiri. Oleh karena pernyataan Siddhartha Gautama agar para pengikutnya tidak segera percaya pada kebenaran yang disampaikannya, agama Buddha terkenal sebagai agama dengan lebih dari 80.000 sekte, bahkan membolehkan penganut Buddhisme tidak menganut sekte apa pun (non-sektarian), juga tidak memurtadkan penganut agama Buddha yang berpindah agama.

Para guru spiritual terkemuka dunia merupakan pribadi-pribadi yang sejalan dengan kedua tokoh yang saya utarakan di atas. Mereka dianggap guru oleh orang-orang yang percaya bahwa mereka mengajarkan sesuatu atau memberi obat atas permasalahan hidup orang banyak.

Mahaguru tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak pernah merilis kitab apa pun. Beliau hanya membagi kearifan beliau dalam mempelajari Al Qur’an dan kitab-kitab para pendahulunya. Beliau juga tidak berkoar-koar di alun-alun kota atau masjid agung bahwa dirinya utusan Tuhan atau wali Allah atau menyatakan ‘sebagai apa’ untuk menggalang pengikut sebanyak mungkin guna menopang bangunan kekuasaan politik.

Kebijaksanaanlah yang membuat beliau disegani dan dihormati layaknya guru, sehingga hanya setelah beliau wafat orang-orang mendirikan tarekat yang menggunakan nama beliau (Tarekat Qadiriah) serta menuliskan kitab yang menghimpun nasihat-nasihat beliau.

Ini mirip dengan sejarah ‘kitab lahiriah’ Al Qur’an yang dituliskan dalam susunan yang kita kenal sekarang setelah penerima wahyu—Nabi Muhammad SAW—wafat. (Tolong, jangan berpikir seperti keponakan saya ketika berusia enam tahun, yang mengira satu kitab setebal buku telepon jatuh dari langit ke pangkuan Nabi Muhammad ketika beliau pertama kali menerima wahyu dari Tuhan.)

Intinya, jangan sampai posisi, pengetahuan atau pengalaman menahan Anda dari berbuat sebaik mungkin bagi kemaslahatan orang banyak. Itu menurut saya lho—tidak perlu Anda ikuti. Karena sebagai saya, saya bukan siapa-siapa.Ó


Gang Garuda, Mampang Prapatan XI, Jakarta Selatan, 4 Agustus 2011

Melangkah di Antara Islam dan ‘islam’

Dalam sebuah acara interaktif bertajuk “Keluarga Islami” di sebuah stasiun radio swasta terkemuka Jakarta yang saya dengarkan beberapa tahun lalu, seseorang bertanya pada narasumber—seorang ustad yang menolak dipanggil ustad lantaran merasa dirinya masih miskin ilmu agama—mengapa umat Islam terbelakang. Lalu, dalam sebuah lokakarya kewirausahaan bagi dosen dan mahasiswa di lingkungan Universitas Muhammadiyah Jakarta pada tahun 2006, di mana saya tampil sebagai salah satu fasilitatornya, pertanyaan yang mirip terlontar: Mengapa umat Islam di Indonesia mengalami kemunduran drastis dibandingkan umat agama-agama lainnya?

Pada tahun 2005, dalam kesempatan wawancara pekerjaan, kepada saya direktur utama biro iklan, yang hendak menggaji saya sebagai karyawan, membuat ‘pengakuan dosa’ bahwa dirinya yang sudah haji tidak pernah lagi menunaikan salat lantaran kekecewaan sebagai dampak dari kejadian di mana ia terpaksa menyuap seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) demi memenangkan sebuah tender proyek. “Dia tuh muslim ya. Masak setelah uang suap darigue dia terima dia permisi untuk salat Dzuhur! Apa iya Islam mengajarkan orang untuk korupsi? Makanya gue kecewa, nggak mau salat lagi!” kata sang Dirut dengan menggebu-gebu.


Pertanyaan dan pernyataan yang mengemuka di ketiga kesempatan itu mendapatkan treatmentjawaban yang sama: Kemunduran atau keterbelakangan atau penyelewengan itu disebabkan oleh pemisahan secara sadar maupun tidak antara urusan dunia dan urusan akhirat. Dan, karena urusan akhirat tampaknya relatif lebih mudah dikerjakan, karena menyangkut ibadah ritual dan seremonial atau bersifat simbolik, ketimbang urusan duniawi, tak mengherankan jika umat memilih untuk berfokus pada yang tersebut pertama.


Sebenarnya pemisahan semacam ini tidak hanya terjadi di kalangan umat Islam saja. Kalau Anda perhatikan perkumpulan-perkumpulan spiritual yang secara lahiriah tampak tidak berkembang, cenderung kumuh dan ndeso (kampungan), penyebab utamanya adalah pemisahan laku duniawi dari laku spiritual, yang sering secara keliru dianggap lebih ‘dekat’ ke Tuhan. Para pengikut aliran spiritual-mistik ini sulit memahami apalagi menerima konvergensi spiritual-material, yang pada gilirannya membuat organisasi-organisasi spiritual semacam ini lambat-laun terkikis perannya sebagai motor penggerak kemajuan masyarakat.


Persoalan keterbelakangan mentalitas dan etika moral yang dipandang disebabkan oleh pemisahan antara urusan dunia dan urusan akhirat itulah yang menjadi tema sentral dari pembahasan buku garapan Sukanto Mm (Mulyomartono) dan A. Dardiri Hasyim, Nafsiologi: Refleksi Analisis tentang Diri dan Tingkah Laku Manusia (Surabaya: Penerbit Risalah Gusti, 1996).


Di bab pertama, penulis mengetengahkan postulat Islam sebagai agama, yang huruf ‘i’-nya kerap dituliskan secara kapital, dan ‘islam’ (dengan huruf ‘i’ kecil) yang merepresentasi tata laku kehidupan bersandarkan pada hukum Allah (sunatullah). Di halaman 13, penulis menjelaskan: “Ber-Islam artinya berpredikat (berlabel atau bermerek) Islam. Orang yang menerima kalimat syahadat adalah orang yang berlabel Islam. Sedangkan berislam artinya memproses Islam hingga pada esensinya yang luas dan mendalam.” Selanjutnya penulis juga menjelaskan bahwa dalam aksara Arab tidak dikenal huruf kapital maupun non-kapital. Keseluruhan huruf sama. Itulah sebabnya, penuangan istilah ‘Islam’ dalam Al Qur’an mencakup dua makna sekaligus, baik ber-Islam maupun berislam (kapital dan non-kapital). 


Menurut pengamatan kedua penulis, yang masing-masing berlatarbelakang psikologi dan ilmu fikih, umat Islam melangkah di antara kedua tema ini, yang lantaran pengajaran yang keliru membuat umat memilih untuk bertekun ria dalam ibadah ritual tinimbang kegiatan-kegiatan untuk menegakkan hukum Tuhan di dunia. Penulis mengemukakan bahwa kecenderungan-kecenderungan yang ada membuat ganjaran pahala atau dosa hanya berlaku bagi pelaksanaan ibadah ritual atau simbolik, sedangkan bagi kegiatan-kegiatan yang dampaknya dapat membawa umat ke arah makrifat (pengenalan) kepada Allah dianggap sebagai hal sepele yang tidak apa-apa jika diabaikan. Kecenderungan inilah yang disimpulkan penulis sebagai penyebab eksistensi orang yang tekun beribadah ritual tetapi masih suka menzalimi dirinya sendiri maupun orang lain.


Saya teringat pada kebiasaan di suatu daerah di Jawa Timur yang masyarakatnya doyan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, tetapi pada saat yang sama tidak segan-segan membunuh orang dengan alasan membela kehormatan. Ada pula kelompok masyarakat yang tampak terdepan dalam penyelenggaraan syariat, tetapi tak jarang mengabaikan kesantunan dan kehadirannya meresahkan warga dengan tindak-tanduk mereka yang mengintimidasi. Kelompok ini tampaknya santai saja dalam menjalankan aksi brutalnya lantaran anggapan keliru bahwa membaca kitab Al Qur'an, walaupun satu surat, saja sudah cukup untuk membukakan bagi mereka pintu surga.


Kedua penulis berpendapat bahwa Islam terlalu tersentralisasi pada agama; didominasi agama sebagai otoritas tunggal yang mengatur tata laku dan tata kelola umat, mengesampingkan pengembangan nilai-nilai inovasi melalui upaya penggalian potensi diri (nafs, dari bahasa Arab yang berarti ‘diri’ atau ‘nafsu’) yang pada gilirannya membawa pemahaman tentang hukum Tuhan yang berlaku atas hidup dan kehidupan di dunia. Secara historis, masyarakat di mana agama Islam berakar merupakan budaya yang peradabannya tergolong maju dan berkembang. Gagasan dasar pemikiran ilmiah maupun teknologi pada mulanya berkembang di kawasan itu, yang dalam prosesnya malah beralih ke dunia Barat, yang menurut kedua penulis tidak berlandaskan tauhid. Tuhan disingkirkan dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia Barat, dan tanpa disadari kecenderungan itu terserap pula ke dalam peradaban Islam setelah Nabi Muhammad wafat.


Para ulama, menurut penulis, tidak meletakkan pondasi hukum Tuhan dalam penggalian ilmu pengetahuan maupun segala sesuatu yang secara subyektif dipandang ‘duniawi’ atau sekuler. Umat Islam tidak didorong untuk mengeksplorasi karunia Allah yang terdapat pada semua ciptaanNya; mereka hanya didorong (dalam sejumlah kasus bahkan dipaksa dengan tekanan yang otoriter) untuk memikirkan urusan akhirat saja.


Faktor ini, dalam pandangan penulis, cukup ironis. Pasalnya, dunia adalah ladang akhirat, di mana karunia Tuhan bertebaran baik di permukaan maupun di bawahnya dan Allah telah memerintahkan manusia untuk menjadi kalifah di muka bumi. Bahkan benda sekecil atom pun tak luput dari hukumNya. Mengacu pada sabda Nabi Muhammad bahwa kerja (pun) adalah ibadah, seyogianya umat Islam tampil lebih optimal dalam menggarap ladang akhirat—yaitu dunia.


Mengenai pemisahan antara dunia dan akhirat, penulis mencontohkan umat Islam yang ketika ditimpa kesusahan sedemikian berat memilih untuk mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia (khalwat), entah di bawah rindang pepohonan di tengah hutan atau di bawah naungan kubah masjid, alih-alih bekerja lebih keras sambil mengingat (dzikir) kepada Allah. Akibat mispersepsi pula, umat Islam memaknai berzikir sebagai tindakan mengucapkan nama Allah berulang kali, alih-alih mengingat keagungan dan keluhuranNya lewat kerja nyata memberdayakan segala potensi nafs dan kekayaan alam ciptaanNya.


‘Nafsiologi’ merupakan istilah yang diciptakan Sukanto Mulyomartono  untuk mengidentifikasi psikologi Islam, yang berseberangan dengan gagasan psikologi Barat yang tidak berketuhanan. Menurutnya, yang menjadi amatan psikologi Barat adalah psyche yang diterjemahkan sebagai ‘jiwa’ (berbeda dari konsep jiwa dalam budaya Jawa yang berakar pada tradisi Hindu) atau ego, sedangkan konsentrasi nafsiologi adalah diri atau nafsu. Penulis mengecam Sigmund Freud yang mengajarkan lewat teori psikoanalisisnya bahwa agama merupakan ilusi yang berperan dalam mengobrak-abrik emosi manusia.


Penulis mengeritik anggapan sementara pihak bahwa nafsu itu buruk. Dalam mengurai nafsiologi, penulis mengedepankan QS 12: 53, yang berbunyi: “Aku (Yusuf) tidak membebaskan nafsi-ku (dari kesalahan). Sungguh, nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang dirahmati Tuhanku. Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”


Penulis juga mengecam laku-laku spiritual yang bertujuan untuk mengenyahkan nafsu, dengan anggapan keliru bahwa nafsu keinginan atau syahwat merupakan hambatan manusia untuk mendekat kepada Tuhan. Di bab pendahuluan, penulis menjabarkan bahwa dalam ajaran Islam, keinginan atau syahwat tidak dapat dimatikan. Sebab, setiap manusia oleh Allah Swt. memang telah dibekali dengan gairah hidup (syahwat), mengacu pada QS 3: 14: “Telah dihiaskan syahwat kepada manusia untuk mencintai wanita dan anak-anak, emas dan perak yang melimpah ruah, kendaraan pilihan, binatang ternak serta sawah ladang. Itulah kesenangan kehidupan dunia. Tetapi di sisi Allah-lah sebaik-baiknya tempat kembali.”


Kritik penulis terhadap kalangan pejalan spiritual yang dipandangnya hendak memberangus nafsu-nafsu yang melekat pada diri manusia sejak penciptaannya agaknya kurang tepat. Dalam tradisi spiritual Jawa, misalnya, yang oleh para pelakunya juga tak jarang dimaknai serta diimplementasi secara keliru, keempat nafsu (amarah, aluamah, supiah dan mutmainah) diibaratkan empat ekor kuda yang menarik kereta (representasi raga) di bawah kendali kusir (mewakili jiwa). Kurang satu kuda saja kereta tak bisa melaju, yang menunjukkan pentingnya eksistensi keempat nafsu tersebut secara bersamaan. Penulis mengeritik konsepsi ‘kusir’ (jiwa) yang pada aliran-aliran spiritual berbasis kejiwaan dianggap sebagai tokoh sentral. Kritiknya bersandar pada perbedaan cara pandang Islam yang mengedepankan nafs dengan tradisi Hindu, Buddha dan Jain yang menjunjung jiwa (atman). Mayoritas ‘agama budaya’ mengajarkan agar keinginan atau trisna pada benda dimusnahkan saja dari diri manusia, sebab rasa trisna pada benda dianggap sebagai penghalang baginya untuk mencapai nirwana (surga).   


Dalam rangka pengelolaan nafs (manajemen nafsu sebagaimana diwakili analogi kereta yang ditarik empat kuda di atas), di bab kelima yang bertajuk “Rambu-Rambu Nafsiologis”, penulis memperkenalkan Panca Noda; lima sifat tercela yang dapat menjauhkan nafs dari rahmatNya, yaitu dengki, serakah, sombong, bohong, dan bakhil (kikir). Di bab berikutnya, bagaimanapun, penulis menawarkan mekanisme pertahanan dalam implementasi amalan sabar dan syukur, adil, janji dan amanat, maupun jujur. Iman merupakan penyembuh utama dalam nafsio terapi, yang seperti diakui penulis banyak kesamaannya dengan logoterapi dari Victor Frankl, dalam hal bahwa kehidupan ini mempunyai makna dalam keadaan yang bagaimanapun, termasuk dalam penderitaan. Sebagaimana logoterapi, nafsio terapi juga membantu kita untuk menyadari adanya sumber daya ruhaniah yang terdapat pada setiap orang.


Buku setebal 202 halaman (termasuk daftar pustaka dan indeks) ini memang sudah lama beredar, sejak pertama kali diterbitkan lima belas tahun yang lalu, menyusul buku pengantar dari penulis yang sama, Nafsiologi: Suatu Pendekatan Alternatif atas Psikologi yang diterbitkan Integrita Press, Jakarta, pada tahun 1985. Tetapi bila pamor nafsiologi kurang menonjol di kalangan umat Islam di Indonesia barangkali lantaran kalah dari psikologi Barat yang dianggap lebih modern dan trendi, dan juga oleh kecenderungan sebagian besar umat Islam yang mengabaikan upgrade ilmu pengetahuan yang sekuler demi mengutamakan urusan akhirat.Ó




Mampang Prapatan XI, Jakarta Selatan, 16 Agustus 2011